RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 53 Kemunculan Sosok Rajanarnya (PDPS)


__ADS_3

Saat ini, Di saat Dewa Tunggal sedang dengan hikmat menikmati cerita dari putra angkatnya tersebut, tiba-tiba saja Rama muncul dengan nafas yang terengah-engah.


"A-ayahh, Kakek.. Hah..hahh..hah" Ungkap Rama dengan nafas yang terengah-engah.


"Hiiss.. Bocah ini selalu saja mengganggu." gumam Dewa Tunggal dalam hati.


Namun meskipun begitu, dirinya juga menjawab perkataan dari Rama, begitu pula dengan Dewa Wasa.


"Ada apa Rama, kenapa dirimu terburu-buru seperti itu.?" Tanya Dewa Tunggal sedikit bingung.


"Kenapa putraku." Susul tanya Dewa Wasa.


Sedangkan di sisi Rama, dirinya sekarang sedang mengatur nafasnya kembali.


Setelah itu dirinya menatap Ayah dan kakeknya itu dengan tatapan yang aneh, dan penuh tanda tanya.


Hal itu membuat Dewa Wasa dan Dewa Tunggal saling menatap bingung.


"Sepertinya ceritaku akan aku lanjutkan nanti ayah." ungkap Dewa Wasa lirih kepada Dewa Tunggal.


Dewa Tunggal yang mendengar ungkapan dari putranya tersebut hanya dapat menunduk lemas.


"Huuuhhh.. Baiklah Wasa, sepertinya Rama juga sedang ada sesuatu saat ini." Jawab Dewa Tunggal.


Setelah Rama menstabilkan nafasnya, akhirnya dia membuka suara kepada kedua orang yang ada di depannya.


"Ayah, Kakek.. Aku merasakan ada energi yang menuju ke sini, energi itu mirip sekali dengan Energi Darah milik Putri Ana." Ungkap Rama.


Sedangkan Dewa Wasa yang mendengar itu malah terlihat lemas.


"Hiiss.. Paman Graha pasti sedang menuju kesini." Ungkapnya lirih.


Dewa Tunggal yang masih bisa mendengar perkataan dari Dewa Wasa itu pun akhirnya bertanya, karena dirinya tidak mampu merasakan energi itu.


"Apakah benar Graha sedang menuju kemari Wasa?" Tanya Dewa Tunggal.


"Benar ayah, sepertinya ada sesuatu yang buruk, sehingga membuatnya pergi menuju tempat ini." Jawab Dewa Wasa.


Sedangkan Rama yang mendengar itu hanya menyimak saja, karena dirinya pun belum yakin jika itu energi milik Batara Graha.


Rama hanya mampu merasakan energi itu mirip milik dengan energi Batara Graha yang ada dalam tubuh Putri Ana, namun ada sedikit perbedaan yang entah itu apa, karena dirinya pun tidak mampu menemukan perbedaan itu.


Untuk Dewa Wasa sendiri, dirinya hanya terlihat santai, karena benar-benar tahu akan energi siapa yang datang.


"Ternyata Paman membawa makhluk itu." Gumam Dewa Wasa lirih, namun perkataannya itu mampu di dengar oleh Rama.


Sehingga membuat Rama mengernyitkan dahinya dan bertanya-tanya akan siapa yang bersama Batara Graha itu.


Sedangkan di sisi lain, tepatnya di dalam sebuah kamar yang terlihat sangat mewah dan terdapat sosok Wanita yang sangat cantik seperti sedang tertidur namun juga seperti telah mati.


Di tempat itu terdapat sosok Dewa yang sangat tampan dan mirip dengan Dewa Wasa, dia adalah Dewa Azar.


"Energi ini, Brengsek, kenapa dia bisa sampai ke semesta ini." Gumamnya dalam hati dengan tangan yang mengepal.


Setelah itu sosok Dewa Azar pun langsung lenyap dari dalam kamar itu.


Setelah kepergian Dewa Azar, terlihat sosok wanita yang berada di atas tempat tidur itu sedikit menggerakkan jari telunjuknya.


Jika saja Dewa Azar menunda kepergiannya beberapa detik saja, pasti dia akan sangat bahagia karena melihat kemajuan dari sosok yang sangat ia cintai itu yaitu tak lain lagi adalah putrinya sang Dewi Keadilan.


Sementara di dalam istana, kini Dewa Wasa malah terlihat aneh, karena merasakan energi yang semakin dekat itu semakin lama semakin berbeda.


"Si-sial.. Kenapa bisa." Gumamnya dalam hati, lalu menghilang.


Wussshh..


Kepergian Dewa Wasa yang secara tiba-tiba itu pun membuat Dewa Tunggal dan Rama saling menatap bingung.


Namun setelah itu mereka berdua pun akhirnya juga menghilang mengikuti kepergian Dewa Wasa.


Wusshhh..


Wushhh..


Sedangkan di dalam kota, semua orang masih bekerja keras dan bergotong royong membangun kembali rumah dan apa saja yang telah hancur.


Semua teman-teman Rama tidak ada yang merasakan energi yang sedang menuju ke semesta Wandasukma kecuali Dewa Zura dan Dewa Gangga saja.


Bahkan Putri Ana yang memiliki energi hampir sama pun tidak mampu merasakan kedatangan leluhurnya, yang menandakan bahwa dia bukanlah Batara Graha.


Dan itu memang benar, karena yang menuju ke semesta Wandasukma memang bukanlah Batara Graha, Hanya saja salah satu energinya memang sangat mirip dengan Batara Graha.


~

__ADS_1


Di ujung semesta Wandasukma, tepatnya di ujung sebelah barat tempat munculnya Dewa Yasa dan Dewa Lingga kemarin, saat ini muncul sebuah portal dimensi berwarna merah darah yang ukurannya terbilang kecil.


Dan saat ini terlihat juga 200 meter di depan portal itu sudah berdiri sosok Dewa Azar, Dewa Zura dan Dewa Gangga yang sedang menatap lekat pada portal itu, seakan sedang menunggu sesuatu yang sangat penting.


Hingga tak berselang lama pun, di samping Dewa Azar muncul ribuan butiran cahaya yang akhirnya menjelma menjadi sosok Dewa Wasa.


Dan selang beberapa tarikan nafas juga muncul sosok Rama dan Dewa Tunggal di samping Dewa Gangga.


"Kalian ternyata juga merasakannya." Ungkap Dewa Azar kepada semua makhluk yang ada di sana.


Sedangkan untuk Dewa Tunggal sendiri, dirinya hanya terdiam dan mengamati saja, karena dia benar-benar tidak bisa merasakan energi siapa yang datang.


"Apakah akan ada peperangan lagi di alam raya ini Adik?" Ungkap Dewa Gangga kepada Dewa Zura dengan mata yang menatap tajam ke arah portal.


"Entahlah kak, jika pun harus ada peperangan lagi, kita harus siap untuk menghadapinya." Jawab Dewa Zura dengan serius.


"Akan tetapi dengan kekuatan kita saat ini, itu sangat mustahil melawannya, karena dari energinya saja, aku dapat merasakan dia sudah berada jauh di atas kita, bahkan Ayahanda pun saat ini pasti akan kewalahan untuk melawannya." Jawab Dewa Gangga dengan serius.


Rama dan Dewa Tunggal yang mendengar itu pun langsung terbelalak lebar, karena mereka berdua tahu bagaimana kekuatan Dewa Zura dan Dewa Gangga sebelumnya.


Yang mana bahkan hanya dengan energi kedatangannya kemarin saja, sudah mampu menggetarkan semesta Wandasukma.


Dengan kekuatan seperti itu saja menurut Dewa Zura dan Dewa Gangga pun tak akan mampu melawannya, lantas bagaimana dengan kekuatan lawannya.


Penjelasan singkat itu pun membuat Rama dan kakeknya hanya mampu tertunduk lemas.


Sedangkan untuk Dewa Wasa sendiri, dirinya tak membuka suara sedikitpun, dan hanya mengamati serta menatap tajam ke arah portal yang saat ini telah memunculkan sebuah kaki kecil.


Dengan secara perlahan kaki kecil itu pun melangkah perlahan keluar dari portal dengan di iringi sebuah suara yang sangat lucu namun penuh dengan tekanan.


"Hihihihi.. Ternyata kalian menyambut kedatanganku." Suara sosok asing dari dalam portal.


"Grrrrr.." Jawab sosok naga yang tiba-tiba muncul di samping Dewa Gangga.


Dia adalah Buma, setelah kemunculan Buma, Sona dan Dega pun juga muncul di samping tuannya masing-masing.


"Hihihi.. Aku sangat senang melihatmu lagi Naga tua." Ungkap sosok kecil itu yang saat ini sudah menampakan dirinya.


"Apa yang ingin kau lakukan sehingga datang ke semesta ini makhluk terkutuk." Jawab Buma dengan penuh tekanan.


Namun hal itu tak mampu menekan sosok anak kecil itu, Bahkan sosok itu pun masih terlihat tenang dan melangkah maju perlahan.


"Jangan terlalu senang seperti itu karena aku telah mengunjungi semesta kalian, tenang saja aku hanya ingin mengambil Bunga Semesta di sini, setelah itu aku akan pergi.. Hihihihi." Jawab Sosok kecil itu dengan sangat santai.


Sosok yang sangat di takuti di berbagai semesta dan juga alam raya.


Sosok itu juga adalah sumber dari bencana di seluruh Alam Raya tak terkecuali alam Tertinggi juga yaitu Alam Tunggal.


"Bagaimana, Jika dirimu mau menyerahkan Bunga Semesta itu, aku akan langsung pergi meninggalkan tempat ini, namun jika tidak maka hanya dengan satu jariku saja semesta ini akan hancur... Hihihi". Ungkap Rajanarya dengan memainkan jari telunjuknya yang setiap lima detik sekali jari itu akan mengeluarkan energi yang berbeda.


Bahkan 5 Energi langka yang di miliki Dewa Wasa dan Rama pun sangat mudah di keluarkan hanya seperti mainan saja.


Dewa Gangga dan Dewa Zura yang mendengar itu pun hanya mampu terdiam, Karena bunga itu saat ini berada di tangan Dewa Wasa.


Sedangkan Rama kini terlihat sangat marah, karena tahu apa yang di cari oleh sosok itu adalah obat untuk menyembuhkan ibunya.


Namun dirinya sadar, jika dia menyerang sosok itu, yang ada hanya sekali tamparan saja mungkin akan menghancurkan tubuhnya, Sehingga Rama hanya mampu menahan emosinya itu.


Sedangkan Dewa Tunggal, Dewa Azar, Sona, dan Dega hanya mampu menatap lemas ke arah Dewa Wasa.


Buma sendiri pun sangat geram dan ingin menyerang sosok Rajanarnya, namun dirinya juga sadar, jika pun menyerang itu pasti akan sia-sia dan hanya akan membuat semesta Wandasukma hancur.


Jadi dirinya hanya mampu menahannya juga.


Seakan tahu akan apa yang di pikirkan oleh naga tua itu, sosok Rajanarya hanya tertawa kecil mengejeknya.


"Hihihihi.. Naga tua lemah, sangat beruntung dirimu dahulu pernah menjadi peliharanku, dengan itu kau memiliki kekuatan yang saat ini kau miliki, tapi sayang sekali, kau adalah peliharanku yang paling lemah, maka kau ku buang.. Hihihi." Ungkap Rajanarnya mengejek Buma yang saat ini telah menjadi sahabat dari Dewa Gangga.


Namun setelah berkata seperti itu, Rajanarya pun langsung menatap tajam ke arah Dewa Wasa.


Dia bahkan tak segan-segan untuk mengeluarkan energinya dan menyerang Dewa Wasa dengan satu jari telunjuknya yang di arahkan ke arah Dewa Wasa.


Kilatan cahaya berwarna merah tiba-tiba melesat dengan cepat menuju ke arah Dewa Wasa.


Wuushhh...


Siiingggh...


Dewa Wasa yang melihat itu pun langsung maju beberapa langkah dan melambaikan tangan kanannya.


Sehingga tak lama muncul sebuah perisai transparan yang menghadang dan menyerap langsung energi dari Rajanarya.


Rajanarya yang melihat itu pun masih berdiri tenang, seakan sudah bisa menebak akan terjadi seperti itu.

__ADS_1


Sedangkan untuk Dewa Gangga sendiri, dia kini telah membuat perisai emas dan mengurung semua yang ada di sana, setelah itu muncul sebuah rantai emas yang menghubungkan semua perisai itu.


Setelah semua masuk dalam perisai dan terhubung oleh rantai emas, dirinya langsung menarik mundur semua menjauh dari Dewa Wasa dan Rajanarya.


Dewa Zura, Dewa Tunggal, Rama, Sona, Dega dan Buma pun tahu akan apa yang akan terjadi setelah ini, karena mereka semua sadar jika Dewa Gangga ingin mereka semua menjauhi tempat itu dengan cara menyeret mereka menggunakan perisai miliknya.


Sehingga di tempat itu saat ini hanya terdapat sosok Dewa Wasa dan Rajanarya saja yang saling menatap tajam.


"Yaya keluarlah." Ungkap lirih Dewa Wasa.


Setelah itu, muncul sebuah kipas besi putih bercorak emas di tangan Dewa Wasa.


"Hihihi.. Lagi-lagi dirimu telah mendahuluiku bocah petaka." Ungkap Rajanarya kepada Dewa Wasa.


"Cepat berikan Bunga itu, jika tidak maka aku akan menghancurkan dirimu dan juga alam ini." Lanjutnya.


Dewa Wasa yang mendengar itu pun hanya terdiam dan belum membuka suara, namun tak berselang lama, dirinya pun akhirnya membuka suaranya dan memanggil sosok Rajanarnya dengan nama aslinya.


"Paman Lesmana." Ungkap Dewa Wasa.


Hal itu pun membuat sosok Rajanarya tiba-tiba mematung tidak percaya ada yang tahu akan nama aslinya.


Bahkan saudara-saudaranya dulu pun tidak ada yang tahu akan siapa nama aslinya itu.


Bahkan saat ini pun yang ada di depannya tidak ada satupun dari saudara-saudaranya itu, padahal dirinya mampu merasakan energi dari Dewa Fatir, dan Dewa Jaya di semesta ini.


Di saat masih dalam lamunan, Rajanarnya di kejutkan oleh suara yang selalu menemaninya.


"Jangan terpengaruh oleh ucapannya tuan." Ucap sosok yang sangat mirip dengan dirinya muncul secara tiba-tiba di samping Rajanarya sehingga membuat mereka berdua terlihat seperti kembar.


Dewa Wasa yang melihat itu pun akhirnya sadar, jika sosok Rajanarya juga memiliki kutukan seperti dirinya.


Namun masih sama, Dewa Wasa masih terlihat sangat tenang, meskipun kekuatannya terlampau sangat jauh di belakang Rajanarya.


"Hihihihi.. Aku hanya terkejut saja, karena baru kali ini ada makhluk yang mengetahui namaku Surya." Jawab Rajanarya kepada sosok yang mirip dengannya dengan panggilan Surya.


"Baiklah, Bagaimana bocah petaka, cepat berikan bunga itu, aku sangat malas terlalu lama di sini." Lanjut Rajanarya yang kembali menatap Dewa Wasa dengan tajam.


"Jika kau menginginkan bunga ini, maka ambilah sendiri, cihh dasar bodoh." Jawab Dewa Wasa dengan nada yang mengejek.


Rajanarya yang mendengar itu pun tak terpengaruh sama sekali, malah dirinya saat ini terlihat sedikit menyunggingkan senyumannya.


"Hihi.. Menarik" Gumam Rajanarya.


"Kamu kembalilah terlebih dahulu Surya, aku akan bersenang-senang sebentar di sini." lanjutnya kepada sosok kembarannya yang di jawab sebuah anggukan kepala lalu menghilang menjadi kabut merah.


Setelah kembarannya menghilang, sosok Rajanarya pun juga menghilang, namun bukan untuk pergi tetapi untuk menyerang Dewa Wasa.


Wuushhh..


Bughh..


Bughh..


Hughhh..


Bughh..


Hughhh..


Boommmss..


Tiba-tiba saja setelah menghilangnya Rajanarya, terdengar suara tendangan dan pukulan di arah Dewa Wasa berdiri.


Dewa Wasa yang belum siap sama sekali, bahkan tak mampu melihat pergerakan lawannya pun terkena serangan jarak dekat dari Rajanarya dengan telak dan menghujam menuju daratan, sehingga terjadilah sebuah ledakan yang sangat keras.


Mata langitnya pun tak mampu melihat pergerakan Rajanarya sama sekali.


"Si-sial.. Cepat sekali, bahkan mataku tak mampu melihatnya." gumam Dewa Wasa yang sedang terkapar di daratan dengan dada yang sudah berlubang dan kaki serta tangan yang telah tanggal.


Hal itu membuktikan bahwa serangan Rajanarya memang serius, meskipun ukuran tubuhnya seperti anak kecil berusia 8 tahun, namun kekuatannya tak ada yang mampu mengukurnya.


Akan tetapi tak berselang lama, tubuh Dewa Wasa pun kembali pulih secara perlahan.


Dada yang berlubang menutup secara perlahan, serta tangan dan kaki yang juga mulai tumbuh kembali.


Setelah itu, kipasnya pun juga muncul kembali di tangan Dewa Wasa.


Sedangkan di atas langit, Rajanarya akhirnya memperlihatkan raut wajah yang lebih serius, karena ada yang aneh dari sosok Dewa Wasa yang saat ini di bandingkan dengan saat dulu ketika pertama kali bertemu dengannya.


"Hihihi.. Sungguh menarik bocah petaka ini." gumamnya dengan sebuah senyuman licik.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2