
Setelah terbangun dari pingsannya karena terkena totokan oleh cucunya sendiri, Dewa Tunggal langsung menyuruh ratusan dayang istana untuk menyiapkan berbagai macam makan.
Setelah itu dia menyuruh Gama, Rama, Amar, Jala, Rangga dan Hasa yang sudah berada di dalam istana untuk memperbaiki istananya yang telah hancur karena kelakuan Rama.
Sebenarnya Dewa Tunggal mampu memperbaikinya dengan jurus penciptaannya.
Namun memang dengan sengaja dia menyuruh mereka memperbaikinya, karena dengan begitu mereka akan tahu tentang adab bertanggung jawab.
“Paman, pak tua itu sungguh menyebalkan sekali,” ungkap Rama kepada Gama.
Gama yang mendengar itu pun langsung mendekap mulut Rama.
“Jangan cari gara-gara lagi kau bocah, gara-gara kelakuanmu kita semua jadi mendapat hukuman,” jawab Gama dengan suara yang sangan pelan.
Singkat cerita, ternyata waktu berlalu begitu cepat, dan hari pun telah berganti.
Para dayang yang telah memasak berbagai macam makanan akhirnya juga telah selesai.
Karena penduduk semesta wandasukma sangat banyak, maka proses memasak dan persiapannya juga membutuhkan waktu yang lama.
Begitupun juga dengan Rama dan yang lainnya, bertepatan dengan mentari yang terbit, mereka juga telah menyelesaikan hukumannya.
Dan kini terlihat dari berbagai arah sangat banyak sekali makhluk seperti para dewa, siluman, bahkan ada juga makhluk yang menyerupai iblis sedang berjalan menuju arah istana semesta wandasukma.
Di istana semesta Wandasukma pun ternyata kini juga telah ada beberapa makhluk yang telah tiba.
Mereka saling mengobrol, seakan akan semua sudah saling mengenal.
Itu semua di sebabkan karena dulu adanya Dewa Wasa, dengan jiwa keadilan dan kepemimpinannya, Dia tidak pernah membedakan semua ras makhluk hidup di seluruh semesta dengan sebuah syarat yaitu bersama-sama membangun sebuah kehidupan yang damai, dan bergotong royong saling membantu.
Selain itu Dewa Wasa selalu memberikan kesempatan kedua untuk setiap makhluk yang ingin berubah ke jalan kebaikan.
***
Kembali di halaman istana Wandasukma, di sana ada yang terlihat aneh di sebelah bangunan istana.
Di sana terdapat sebuah pendopo yang diatas bangunan itu terlihat seperti sebuah patung manusia yang terdapat seekor kera di pundaknya.
Semua makhluk yang sudah berada di sana pun juga merasa sangat aneh, karena setahu mereka di atas pendopo itu tidak ada patung satupun.
Mereka semua terlihat menatap sebuah patung itu dengan raut wajah yang berbeda beda, dan itu membuat kericuhan di istana semesta wandasukma.
Sehingga waktu Maha Dewa Tunggal keluar pun, dia langsung mendengar pembicaraan semua orang yang ada di sana.
Melihat para rakyatnya dan penduduk yang datang sedang menatap bangunan atap pendopo miliknya, dia pun juga mengedarkan pandangannya ke arah sana.
__ADS_1
”Jangan membuatku geli kera sialan, ekormu mengapa berada di hidungku, dasar kera brengsek!” bisik patung itu kepada kera yang berada di pundaknya.
Patung itu ternyata adalah Dewa Wasa dan Sona yang telah sampai di semesta wandasukma pada waktu semua orang di istana sedang sibuk memasak dan memperbaiki bangunan istana.
Dia sengaja menyamar menjadi patung di atas pendopo karena ingin mengamati apa yang sedang terjadi di istananya.
Dewa Wasa pun juga tidak sadar bahwa putranya juga berada di semesta itu.
Karena menurutnya putranya masih berusia belasan tahun, dan hampir semua makhluk yang berada di sana sudah memiliki umur ratusan tahun, bahkan ada yang ribuan tahun seperti Gama.
Dewa Tunggal yang kini telah mengamati sebuah patung itu, ternyata menyadari sebuah sesuatu yang janggal dan sepertinya dia tidak asing dengan sosok kera yang ada di sana.
Sembari memegang jenggotnya, dia akhirnya sadar bahwa itu adalah Sona dan Dewa Wasa.
Lantas Dewa Tunggal pun sangat geram karena kelakuan putra bersama sahabatnya itu yang membuat kericuhan di istana.
Dewa Tunggal yang sudah tidak tahan pun lantas langsung melesat menghilang dan muncul lagi di belakang Dewa Wasa dan Sona.
Sedangkan untuk Dewa Wasa dan Sona sendiri mereka tidak menyadari itu, karena Dewa Tunggal mampu menekan seluruh kekuatannya hingga titik terbawah, bahkan dia juga mampu menyatu dengan alam.
Pletakk..!!
Pletakk..!!
”A-awww..aaww..” Teriak Dewa Wasa dan Sona bersamaan.
“Dasar bocah petaka, mengapa kau bertingkah seperti ini? lihatlah semua orang telah menatapmu dengan aneh,” maki Dewa Tunggal.
~
“Hehehe.. A-ayahh..” jawabnya lalu dia berbalik dengan sebuah senyuman bodoh.
Tangan Dewa Wasa mencoba menggaruk kepalanya, namun tangannya ternyata malah mendapati Sona yang sedang meringkuk di kepalanya , sehingga akhirnya dia pun malah menggaruk tubuh Sona.
“Cepat turun, aku ingin mengadakan pertemuan setelah acara jamuan makan ini,” ungkap Dewa Tunggal, lalu kemudian dia menghilang.
Begitu pun dengan Dewa Wasa, dia tiba-tiba menghilang dari sana.
Semua makhluk yang tadi menatapnya pun sedikit terkejut karena kelakuan konyol Dewa Wasa, namun itu tak berlangsung lama, karena semua makhluk yang tinggal di semesta wandasukma sudah sangat paham dengan kelakuan kedua makhluk itu yang konyol dan sangat usil.
Setelah semua makhluk tiba di istana, Maha Dewa Tunggal pun langsung menuju panggung tempat biasanya berpidato, dan sedikit bercerita tentang apa yang terjadi kemarin, setelah itu dia menyuruh semua makhluk memberi penghormatan untuk para pejuang yang telah gugur dalam pertempuran kemarin.
Setelah memberi sedikit pidato, Dewa Tunggal menyuruh semua makhluk untuk menyantap makanan yang telah di sajikan.
Dan terlihat semua makhluk yang tinggal di semesta wandasukma sangat akur, bahkan tanpa di suruh untuk mengantri pun, mereka semua berbaris dengan rapi secara mandiri.
__ADS_1
Di sisi lain di dalam istana, kini terdapat Rama dan teman-temannya, dan terdapat juga Dewa Wasa bersama Sona yang sedang duduk di samping singgasana Dewa Tunggal, Tak berselang lama sosok Dewa Tunggal pun juga muncul dan duduk di tempatnya.
”Apa yang akan ayah bicarakan kepada mereka,?” tanya Dewa Wasa lirih.
Sedangkan Sona yang ada di pundaknya pun ternyata sedang tidur dengan ekor yang di lilitkan pada leher tuannya.
”Apa kau tahu pemuda tampan itu putraku,?” tanyanya yang langsung di jawab oleh Dewa Wasa dengan menggelengkan kepalanya.
”Dasar Bocah bodoh,” jawab Dewa Tunggal sangat kesal dan menyuruh Rama untuk berdiri di hadapannya.
Rama pun dengan patuh mengikuti perintah dari Dewa Tunggal, Hingga setelah sampai di depannya pun Dewa Wasa yang juga mengamatinya, tiba-tiba saja menjatuhkan air matanya yang membuat Sona seketika terbangun dari tidurnya.
“Pu-putraku..?” ungkap Dewa Wasa dengan badan yang bergemetar.
”Be-benarkah i-ini di-dirimu,?” lanjutnya.
Kemudian dia berdiri dan bergegas untuk meraba wajah dari putranya untuk memastikannya lagi.
Di samping itu, Dewa Wasa juga merasakan puluhan energi yang tersegel pada tubuh putranya sedang berputar tidak stabil setelah tangannya menyentuh tubuh putranya.
Bibi Hasa yang melihat pertemuan itu pun, juga menitikan air matanya, bahkan lebih deras airmatanya ketimbang air mata milik Gurunya.
Dia sungguh bersedih dan juga senang, karena ketika melihat pertemuan mereka itu mengingatkan tentang sosok Ayahnya.
Sontak Rama yang mendengar sosok di depannya memanggilnya sebagai anak itu membuat detak jantungnya seketika terhenti dan mencoba mengingat semua kepingan yang di dapatkan dari ayahnya dulu.
Rama terlihat sangat kebingunan, karena tidak menemukan wujud sosok pria yang ada di depannya itu dan di saat itu pula bibi Hasa menghampiri Rama untuk menjelaskannya.
Dia menjelaskan dengan tegas dan singkat bahwa apa yang dia dengar adalah sebuah kenyataan.
Dan langsung saja ketika Rama mendengar pernyataan dari bibinya itu, dia langsung percaya dan sedikit demi sedikit meneteskan airmatanya, hingga pada akhirnya tangisnya pun pecah dan langsung mendekap memeluk ayahnya.
”A-ayahh..” ungkapnya lirih.
Dewa Tunggal, dan Bibi Hasa yang melihat itu pun juga menangis, begitupun dengan teman-teman Rama yang lain juga ikut menitikan airmata.
Bahkan Jala dan Amar yang baru mengetahui sebuah kenyataan itu pun juga ikut terharu melihat pertemuan sosok ayah dengan anaknya itu.
Entah mengapa mereka seperti juga merasakan rasa sakit yang telah lama Rama pendam.
Di samping itu, di luar istana semakin banyak makhluk yang berdatangan untuk ikut makan.
Setelah mereka makan, mereka akan saling mengobrol satu sama lain, ada yang menceritakan tentang apa yang di lakukan oleh Dewa Wasa pada saat pagi tadi, yang membuat semua yang mendengar langsung tertawa terbahak-bahak.
Ada juga yang bercerita tentang pertempuran beberapa saat lalu, dan ada juga yang sedang berduka atas tewasnya penjaga semesta.
__ADS_1
***