
Tiga Tahun yang Lalu di Kota Malang ....
Dulu Ardhita dan Dhito ketika bulan puasa tiba sering mengunjungi Alun-Alun Kota Malang untuk ngabuburit bersama. Tidak banyak yang tahu, Kota Malang sendiri memiliki dua tempat Alun-Alun yang pertama adalah Alun-Alun Merdeka dan Alun-Alun Bunder.
Alun-Alun Merdeka adalah Alun-Alun yang dibangun oleh Belanda. Layaknya Alun-Alun di pulau Jawa waktu dulu, alun-alun ini berada di sekitar tempat pemerintah kolonial Belanda. Walau seiring dengan berkembangnya waktu berubah menjadi taman rakyat. Sedangkan Alun-Alun Bunder memiliki bentuk lingkaran, biasa disebut juga dengan Alun-Alun Tugu. Pemandangan gunung sekitar Malang seperti Gunung Arjuno, Semeru, dan Gunung Kawi juga bisa terlihat dari alun alun bunder dengan jelas.
Dulu, Dhito dan Ardhita suka berjalan-jalan di Alun-Alun Bunder, menghirup udara segar kota Malang dan menikmati pemandangan pegunungan di sana. Sembari duduk di bawah pohon saja rasanya sudah begitu teduh.
"Nanti mau beli takjil apa, Dik?" tanya Dhito kepada pacarnya itu.
"Nanti mampir beli es saja dan Ayam Goreng Nelongso, Mas," jawabnya.
Dhito tersenyum dia sudah tahu apa yang disukai oleh pacarnya itu. Namun, untuk selera makan keduanya sama-sama menyukai Ayam Geprek yang pedas. Kadang ketika berbuka puasa bersama, keduanya juga memilih menikmati ayam Geprek.
"Perutnya gak sakit tuh, buka puasa terus makan pedes?" tanya Dhito.
"Enggak itu, Mas. Biasa saja," balasnya.
Dhito kemudian tersenyum tipis dan melirik gadis ayu yang berhijab itu. Sosok Ardhita begitu sholehah dan sederhana. Sudah menjadi tambatan hatinya. Jika ingin meminang, Dhito berpikir harus mapan dulu karena tanggung jawab menjadi seorang suami itu besar.
"Kapan kita sholat bersama di Masjid Jami kota Malang yuk?" ajak Dhito.
__ADS_1
Sungguh begitu santun Dhito ketika berpacaran keduanya juga benar-benar saling menjaga. Tidak aneh-aneh. Bahkan pria santun itu mengajak Ardhita untuk Sholat bersama.
"Boleh, Mas ... atau sekarang saja? Sebelum nanti menuju tarawih malahan penuh. Kalau sekarang kan menunggu adzan magrib," balas Ardhita.
Akhirnya Dhito mengiyakan. Mereka berjalan menuju Masjid Jami dan kemudian mengambil wudhu. Walau tempat sholat untuk pria dan wanita dibedakan, yang penting niat hati dan tujuan keduanya sama yaitu beribadah kepada Allah, memohon kepada Allah dalam sujudnya.
Hampir lima belas menit barulah keduanya menyelesaikan sholatnya. Suasana masjid belum ramai. Hingga akhirnya keduanya sudah menyelesaikan sholat dan Ardhita yang menunggu Dhito di luar. Hampir lima menit, Ardhita menunggu di sana. Barulah Dhito keluar.
"Hei, nunggu lama, Dik?" tanya pemuda itu.
"Lumayan, Mas," jawabnya.
"Berdoa dulu tadi, biar Allah dekatkan aku dengan bidadari ini," ucap Dhito.
"Sudah menjelang berbuka. Kita ke Ayam Goreng itu?" ajak Dhito kemudian.
"Iya boleh, Mas," jawab Ardhita.
Mengendarai sepeda motor, Ardhita duduk dengan menjaga jarak dari Dhito. Sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak fisik. Bahkan tangan Ardhita saja sekarang memegangi ujung sadle sepeda motor.
"Kalau misal mau pegangan juga boleh loh, Dik?" tawar Dhito.
__ADS_1
Namun, dengan cepat gadis ayu itu menggelengkan kepalanya. "Kita bukan mahram, Mas. Belum sah. Menjaga satu sama lain," balasnya.
Memang Ardhita begitu menjaga diri. Pacaran tidak sama dengan pernikahan. Ketika berpacaran ya hanya sekadar saling mengenal dan saling mensupport satu sama lain. Terlebih banyak setan kala berpacaran, jadi lebih baik menjaga.
"Kalau udah satu sama lain, sah, baru boleh yah?" tanya Dhito.
Ardhita pun menganggukkan kepalanya secara samar. "Hm, iya Mas," balasnya.
Pacaran tidak harus dengan kontak fisik. Menjaga diri sampai janur kuning benar-benar melengkung memang lebih baik.
***
Sekarang ....
"Ingat enggak tiga tahun lalu kita sering ngapain, Dik?" tanya Dhito.
"Ke Alun-alun, Mas. Duduk di bawah pohon. Kita pernah sholat bersama juga di Masjid Jam'i kota Malang," balas Ardhita.
Tentu saja Ardhita masih ingat dengan kenangan tiga tahun yang lalu. Sebab, setelah itu Dhito bekerja di Makassar. Keduanya menjalani hubungan jarak jauh. Sekarang, ketika Dhito kembali ke Malang, Dhita justru berada di Ranai, Natuna. Seolah semesta membuat jarak keduanya begitu jauh.
"Aku juga masih mengingatnya, Dik. Kota ini berbeda tanpa kamu," balas Dhito.
__ADS_1
Bukan sekadar rayuan, tapi memang kota apel itu terasa berbeda tanpa sosok Ardhita. Seakan tempat-tempat di kota itu memiliki kenangan tersendiri akan mereka berdua. Semakin jauh, bahkan sekarang di bulan Ramadhan keduanya benar-benar tak bersua.