Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Lebih dari Indah


__ADS_3

Hampir tengah malam, Dhito menuntaskan semuanya. Masih berada di satu selimut yang sama, Dhito memeluk Ardhita. Jujur, itu adalah peraduan yang sangat indah. Bukan sekadar mengedepankan hasrat, tapi memaknai kehidupan pernikahan mereka yang sudah sah untuk satu sama lain.


"Sakit tidak, Sayang?" tanya Dhito perlahan.


Terbiasa dipanggil Dik, dan sekarang dipanggil Sayang membuat Ardhita malu. Sebab, sebelumnya mana pernah Dhito memanggilnya Sayang.


"Panggilannya berubah, Mas?" tanya Ardhita perlahan.


"Iya, kan kamu wanita uang aku cintai dan sayangi. Sudah sepenuhnya dan seutuhnya menjadi milikku," balas Dhito.


Sekadar mendengarkan itu saja, Ardhita senang. Posisinya di dalam hati suaminya sudah kukuh sekarang. Dia menjadi milik sang suami secara utuh dan penuh.


"Jadi, bagaimana masih sakit?" tanya Dhito lagi.

__ADS_1


"Sakit banget," balas Ardhita.


Mendengar bahwa Ardhita merasa sakit banget membuat Dhito iba dengan pengantinnya itu. Namun, bagaimana lagi memang ketika menyatukan dua raga harus melukai terlebih dahulu. Bahkan tadi dalam ketenangan cahaya saja terlihat darah di pangkal paha istrinya. Sungguh, itu adalah sesuatu yang indah. Sekaligus Dhito merasa bangga, karena sang istri adalah yang pertama untuknya. Itu adalah hadiah yang indah dalam pernikahan.


"Maaf yah, sedikit menyakiti. Mandi junub yuk, Sayang. Biar tidak berdosa. Bahwasanya dalam hubungan suami istri juga adalah ibadah. Jadi, mandi yuk," ajak Dhito kepada istrinya.


"Mas Dhito duluan aja yah. Aku nanti," balas Ardhita.


"Sekalian saja, Sayang," balas Dhito.


"Sudah memiliki satu sama lain. Kamu juga udah lihat aku seutuhnya. Gak usah malu," balas Dhito.


Seakan tidak menerima penolakan, kemudian mulailah Dhito menggendong Ardhita menuju di dalam kamar mandi. Saling membersihkan. Saling mengenal satu sama lain. Kali ini, bukan dalam keremangan, tapi dalam cahaya yang cukup terang.

__ADS_1


Di mata Dhito, tetap saja istrinya itu laksana bidadari. Usai mandi pun, Ardhita juga mengeringkan rambutnya. Ketika hendak mengenakan hijab, Dhito melarangnya.


"Tidak usah dikenakan lagi, Sayang. Kan di dalam kamar ini hanya ada aku," kata Dhito.


"Tidak apa-apa, Mas?" tanyanya dengan ragu.


"Kan aku sudah menjadi milikmu. Tidak masalah bukan? Istri akan menjadi milik suaminya."


Mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya, akhirnya Ardhita menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas ..., tapi nanti aku taruh hijab di dekat nakas yah. Supaya kalau ada apa-apa sudah siap sedia," balas Ardhita.


Setidaknya jika ada orang yang mengetuk pintu, Ardhita bisa bersiap. Bagaimana pun, dia harus menjaga diri. Hanya suaminya saja yang berhak melihatnya. Itulah yang Ardhita jaga.


"Iya, Sayang," balas Dhito.

__ADS_1


Malam itu, Dhito sangat bahagia. Itu adalah moment yang lebih dari indah. Berada di ranjang dan memeluk istrinya. Sesekali dia labuhkan kecupan di puncak kepala sang istri dan mengusapi rambutnya yang panjang. Dulu, sekadar berkhayal saja Dhito tidak berani. Terlalu takut jika sampai melakukan dosa. Sekarang, Dhito merasa bahwa semua yang dilakukan adalah ibadah semata. Di dalam hatinya dia berjanji akan selalu menyayangi dan mencintai Ardhita.


Dalam empat tahun, mereka dicoba bukan hanya dengan pacaran jarak jauh, tapi mereka juga menahan dan menerima kenyataan ketika pandemi tiba dan semua rencana tertunda. Sekarang, walau pandemi telah berakhir, tapi cinta keduanya sudah bermuara. Keduanya sudah menjadi pasangan yang utuh dan penuh.


__ADS_2