
Sementara itu, selang dua hari barulah Dhita memberikan kabar kepada Dhito bahwa dia sudah berada di rumah. Memang Ardhita tidak mau terburu-buru, tapi meluangkan waktu terlebih dahulu untuk Bapak dan Ibunya. Walau sangat rindu dengan Dhito, tapi ada rasa rindu lebih besar dan dalam dengan kedua orang tuanya.
Sekarang, Ardhita barulah menghubungi Dhito dan ingin membagikan kabar baik dengan Dhito. Ardhita pun segera mengambil handphonenya dan menelpon Dhito.
Mas Dhito
Berdering ....
"Halo, Assalamualaikum Mas Dhito," sapa Ardhita kepada kekasihnya siang itu.
"Halo, Waalaikumsalam, Dik. Baru ngapain? Tidak bertugas yah?" tanya Dhito.
Kepada Dhito pun, Ardhita tidak memberitahu bahwa dia sudah pulang dari Natuna. Sehingga sekarang, gadis itu tersenyum dan membiarkan Dhito masih dengan spekulasinya. Justru itu baik karena Dhito pasti akan terkejut dengan kabar yang sekarang akan dia sampaikan.
"Mas Dhito baru shift siang yah?" tanya Ardhita.
"Iya, Dik. Sampai jam tiga sore nanti. Tumben kamu menelponku siang-siang begini," balas Dhito.
Terdengar kekehan Ardhita yang tertangkap dari panggilan telepon itu. Dhito menghela napas, dia ingin menatap bidadari hatinya itu. Dia ingin berjumpa dengan Ardhita.
"Aku cuma mau memberikan kabar Mas Dhito ... sebenarnya aku sudah berada di Malang. Di rumahku," balas Ardhita.
"Yang benar, Dik? Sejak kapan. Kenapa tidak memberi kabar?" tanya Dhito dengan bingung.
"Aku sudah dua pekan lebih di Malang. Namun, karantina dulu dua pekan. Sekarang, sudah di rumah," balas Dhita.
"Alhamdulillah ... akhirnya hari ini tiba. Bolehkah nanti aku menemuimu sebentar? Kan sudah era New normal, bisa bertemu?" tanya Dhito.
Sekarang memang beralih dengan era kenormalan baru. Boleh bertemu dengan orang lain, tapi harus menerapkan protokol kesehatan. Oleh karena itu, Dhito berniat untuk bisa bertemu dengan Ardhita. Sudah menggenggam rindu sekian lama, sehingga berharap bisa bertemu dengan Ardhita.
"Silakan saja, Mas. Penting memakai masker yah," balas Ardhita.
__ADS_1
Ah, rasanya Dhito ingin menuju ke rumah Ardhita sekarang juga. Namun, dia masih haru bekerja, sehingga harus bersabar terlebih dahulu. Nanti kalau sudah pulang kerja, barulah Dhito akan mengunjungi Ardhita. Sekarang saja, hatinya sudah bergemuruh riuh. Sudah terbayang untuk bisa bertemu muka dengan muka dengan kekasih hatinya itu.
***
Sore harinya ....
Kurang lebih jam 17.00, seorang pemuda datang ke rumah Ardhita mengendarai sepeda motor N-Max. Pemuda itu merasakan jantungnya lebih berdebar-debar. Terlebih ini adalah pertemuan pertama mereka setelah satu setengah tahun lebih.
Bukan bermaksud romantis, Dhito mampir ke toko bunga dan membelikan setangkai mawar merah untuk Ardhita. Juga ada kue yang dia beli sebagai oleh-oleh. Bagaimana pun berkunjung ke rumah calon mertua, setidaknya tidak dengan tangan kosong.
"Assalamualaikum," sapa Dhito.
"Waalaikumsalam," balas Ardhita sendiri yang membukakan pintu untuk Dhito.
Dengan sama-sama menggunakan masker, air mata keduanya berlinang begitu saja. Haru. Tidak ada kata yang bisa terucapkan. Kedua mata saling tatap, wajah saling pandang, tapi tiada kata terucap. Rasanya benar-benar haru. Jantung yang bertalu-talu seolah mengiringi pertemuan keduanya.
"Dik," sapa Dhito dengan suaranya yang bergetar.
"Sudah begitu lama," balas Dhito.
Sebenarnya ada hasrat untuk bisa melangkahkan kakinya dan memeluk Dhita. Sayangnya, Dhito benar-benar menahan diri. Serindu apa pun dia dengan Ardhita, tetap akad belum terucap, Ardhita bukan Mahramnya.
Akhirnya Dhito mengulurkan tangannya, sekadar untuk menjabat tangan Ardhita. Tidak berpikir lama, Ardhita menyambut jabat tangan Dhito. Kedua telapak tangan saling bertaut. Ada genggaman tangan, mungkin hanya ini sentuhan yang bisa mereka lakukan.
Usai jabat tangan, Dhito memberikan sekuntum mawar merah yang sengaja dia beli tadi. "Untuk kamu, Dik," ucap Dhito.
"Bunga mawar," balas Dhita yang kini mulai tersenyum.
"Iya, kesukaan kamu," balas Dhito.
Usai itu, Dhito dipersilakan masuk ke dalam rumah. Dhita juga memanggilkan Bapak dan Ibunya yang menyapa Dhito. Semua orang di sana masih mengenakan masker karena menerapkan protokol kesehatan.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya Mas Dhito?" tanya Pak Harja dan Ibu.
"Alhamdulillah, baik. Sedikit oleh-oleh untuk Bapak dan Ibu," ucap Dhito dengan memberikan kue yang dia beli.
"Makasih Mas Dhito. Gak usah repot-repot, Mas," balas Bu Tini.
"Tidak repot, Ibu."
Setelah menyapa, Bapak Harja dan istrinya kembali masuk ke dalam rumah. Tujuannya tentu memberi waktu untuk Ardhita dan Dhito untuk bertemu dan berbicara. Namun, Dhito sekaligus menyatakan niat hatinya kepada Bapak dan Ibunya Ardhita terlebih dahulu.
"Maaf, Bapak dan Ibu ... semisal, Dhito ingin meminang Ardhita segera apakah boleh?" tanyanya.
"Kenapa begitu cepat, Mas Dhito?" tanya Bu Tini.
Dhito merasa bahwa sekarang saatnya yang tepat. Dia ingin mengikat Ardhita dalam pernikahan yang suci dan sah. Tidak ingin mengulur waktu lagi.
"Apa bisa menikah di masa pandemi seperti ini, Mas? Kami juga belum menyiapkan apa pun," balas Pak Harja.
"Bisa, Bapak. Akad saja di KUA," balas Dhito.
Menurut Dhito tidak perlu menggelar pesta pernikahan mewah. Inti dari pernikahan adalah akad. Akad yang mengikat dan menyatukan dua insan dalam membina kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
"Kalian tidak keberatan?" tanya Pak Harja.
"Saya tidak," balas Dhito.
"Kamu gimana, Ta?" tanya Pak Harja lagi.
"Insyaallah, Dhita juga tidak keberatan," jawabnya.
Sekarang rasanya begitu lega bisa ada titik terang dalam hubungan mereka. Nanti Dhito akan mengatakan niat hatinya kepada Bapak dan Ibunya terlebih dahulu. Semoga kedua keluarga setuju dan memberikan restu untuk keduanya membina rumah tangga di masa pandemi ini.
__ADS_1