
Usai keluarga Dhito pulang, Pak Harjo dan Bu Tini memilih mandi dan membersihkan rumah, menyemprotkan desinfektan di ruang tamu. Hanya sekadar untuk berjaga-jaga sendiri saja.
Setelahnya Pak Harjo mulai mengambil handphonenya dan hendak memberitahu Ardhita mengenai keputusan dari dua keluarga. Menurut Pak Harjo, Ardhita juga harus secepatnya diberitahu.
Ardhita
Berdering ....
"Halo, Assalamualaikum, Ta ...."
Pak Harjo menyapa putrinya yang berada di Natuna. Jujur saja, sebagai seorang Bapak dan harus menelpon Ardhita hatinya sangat sedih. Terbiasa berkumpul dengan putri tunggalnya. Lalu, sekarang Ardhita berada begitu jauh di Natuna.
"Waalaikumsalam, Bapak ... ada apa?" tanya Ardhita dari Natuna sana.
"Bagaimana kabarmu, Ta?" tanya Pak Harjo lagi.
__ADS_1
"Baik, Bapak. Berusaha untuk tetap baik, walau kondisinya sedang tidak baik," balas Ardhita.
Jujur, ada kalanya secara mental, Ardhita juga lemah. Secara khusus jika banyaknya pasien bergejala seperti pneumonia atau dengan saturasi oksigen yang melemah. Ketika pasien seolah kehilangan harapan untuk hidup, atau cemas dengan anak-anak mereka di rumah. Sebagai perawat, Dhita juga mengalami hari-hari yang berat. Jika boleh jujur, Dhita tertekan. Namun, Dhita lebih baik untuk menyimpan semuanya. Tidak memberitahu orang tuanya, Sebab, bisa saja Bapak dan Ibunya tambah kepikiran nanti.
"Alhamdulillah, kalau kamu baik. Begini, Ta ... Bapak menelpon karena ingin memberitahukan kepadamu. Mengenai rencana pernikahanmu dengan Dhito yang seharusnya akan dilangsungkan akhir tahun ini, tapi mengingat kondisi yang sedang tidak bagus, jadi kami kedua keluarga sepakat untuk menunda pernikahan kalian berdua."
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Bapaknya, tentu Ardhita juga kaget dan bingung juga. Selain itu, tidak dipungkiri bahwa dia juga sedih. Namun, bagaimana lagi keputusan sudah diambil kedua keluarga.
"Ta, dengarkan Bapak. Kalau kamu bersedih itu wajar. Dhito sewaktu kemari juga kelihatan sangat sedih. Namun, demi kebaikan bersama, lebih baik memang ditunda," balas Pak Harjo.
"Iya, Bapak ... apa Mas Dhito ke rumah kita?" tanyanya.
Sekarang, Dhita hanya bisa menerimanya saja. Sebab, Dhita sendiri juga tidak tahu harus sampai kapan dirinya berada di Natuna. Sementara angka covid justru terus-menerus bertambah. Selain itu, usai TKI dan TKW dari Wuhan yang dipulangkan ke Indonesia, juga akan ada TKI dan TKW dari Malaysia yang dipulangkan ke Indonesia akan dikarantina selama 40 hari di Natuna juga. Sehingga, memang tugas perawat dan tenaga medis di sana juga begitu banyak.
"Sedih, Nduk?" tanya Pak Hardi kepada Dhita sekarang.
__ADS_1
"Hmm, ya sedih, Bapak ..., tapi harus ini keputusannya. Selain itu, Dhita juga tidak tahu akan berada di Natuna sampai kapan," balasnya.
Pak Harjo begitu pedih hatinya. Nasib anaknya yang mengabdi di Natuna belum bisa dipastikan akan berada di sana sampai berapa lama. Selain itu, Pak Harjo juga tahu bahwa Dhita pastilah sedih. Rencana pernikahan adalah sebuah rencana yang indah. Namun, harus ditunda dalam jangka waktu yang tidak pasti. Hanya bisa menunggu keadaan segera membaik saja.
"Sabar ya, Ta," ucap Pak Harjo lagi.
"Nggih, Bapak ... tidak apa-apa," balas Ardhita.
Masih beberapa saat Ardhita dan Pak Harjo menelpon setelah itu, Ardhita duduk di kursi kayu yang berada di
kamarnya. Gadis itu menitikkan air matanya, sembari memutar-mutar cincin emas yang melingkari di jari tangannya. Teringat dulu kala Dhito sebelum ke Makassar mengajaknya bertunangan.
Ya, satu tahun yang lalu. Namun, sekarang rencana pernikahan juga harus sirna. Ditunda. Walau juga tidak tahu, ditunda sampai kapan.
"Waktu cincin ini tersemat di jari manisku, kamu berkata bahwa satu tahun setelahnya, kita akan menikah. Kamu akan meminangku, Mas Dhito. Namun, sekarang harus ditunda. Tentu saja aku sedih, tapi seolah ini hanya satu-satunya jalan yang tersisa."
__ADS_1
Apa yang dialami Ardhita juga dialami oleh pasangan muda kala itu. Ketika cinta mereka harus terhalang oleh sesuatu yang tidak kelihatan yaitu Corona. Ketika rencana pernikahan yang sudah di depan mata, juga harus ditunda karena keadaan yang sama sekali tidak bersahabat.
Ikhalas, sabar, dan tawakal. Itulah yang bisa Ardhita lakukan sekarang. Semoga kesabaran ini akan berbuah manis pada akhirnya nanti.