Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Pria Patah Hati


__ADS_3

Dokter Handika benar-benar tidak menyangka bahwa kali pertama mengungkapkan perasaan, sekarang dia sudah harus ditolak. Tentu saja, Dokter Handika semula merasa percaya diri terlebih dengan profesinya sebagai Dokter. Di kalangan masyarakat, memiliki profesi sebagai Dokter adalah profesi yang baik, dipandang mulia juga. Namun, Ardhita justru dengan yakin menolaknya.


"Calon imam?" tanya Dokter Handika.


Rasanya dia kian terkejut, manakala Ardhita menyebut tunangannya dengan sebutan calon imam. Itu berarti memang Ardhita sudah sangat yakin dengan pacarnya itu.


"Benar Dokter," balas Ardhita.


"Berarti kamu sudah sebegitu yakin?" tanya Dokter Handika.


Sekarang Ardhita menganggukkan kepalanya. "Iya, saya yakin. Dengan menyertakan Allah Swt di dalamnya, saya yakin hubungan ini akan menuju akad," balas Dhita.

__ADS_1


Mungkin jawaban Ardhita terlalu percaya diri. Akan tetapi, memang ketika memulai hubungan dengan Dhito, dia selalu menyertakan Allah di dalamnya. Terlebih ketika dia menjalani masa pacaran jarak jauh Malang - Makassar, dan sekarang Malang - Natuna. Dia selalu memohon kepada Allah untuk menjaga hatinya dan Dhito. Memohon supaya Allah menyatukan keduanya dalam pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.


"Sayang sekali, Dhita. Padahal perasaanku ini sungguh-sungguh," balasnya.


"Maaf, Dokter. Jika begitu bolehkah saya pulang?"


Usai itu, Ardhita menegakkan punggungnya lantas mulai berpamitan dengan Dokter Handika. Keyakinan Ardhita teguh, itu juga karena sepenuhnya dia percaya dengan kekuatan cinta. Sekarang jaraknya dengan Dhito sangat jauh, tapi hati mereka selalu dekat. Sedekat doa yang selalu terucap di antara keduanya.


Sementara itu, sepeninggal Ardhita, Dokter Handika termangu menatap punggung Ardhita yang kian menjauh. Dokter muda yang usianya menginjak kepala tiga itu harus merasakan patah hati. Dia kira Ardhita yang terlihat santun dan sholehah, adalah gadis yang tidak bertunangan alias single. Ternyata dia sudah memiliki calon imam tersendiri.


Dokter Handika berdiri di batu yang menjulang tinggi. Merasakan angin semilir dari pantai berpasir putih itu yang menerpanya. Pria itu melepas masker yang menutupi setengah wajahnya sesaat lantas dia berteriak dengan sangat keras di sana.

__ADS_1


"Aaakkkhhh ...."


Suara teriakan sembari menyugar rambutnya. Rasa sesak di dada itu seakan-akan dia rasakan sendiri. Datang pun dengan sendirinya, meninggalkan sakit yang terasa begitu ngilu.


"Aaakkkhhh ...."


Lagi, teriakan itu menggema. Suaranya menggema tersapu angin. Wujud ekspresi seorang pria yang sedang patah hati. Lantas, dia terduduk dalam dia di bebatuan itu.


"Ya Allah ... kenapa Engkau memberikan rasa ini. Rasa yang tidak terbalas. Rasa yang berakhir dengan kekecewaan. Begitu sebak di dalam dada," gumamnya dengan lirih.


Memang ketika cinta dan perasaan tak terjawab, dan tak terbalas itu rasanya sangat sakit. Sakit sudah pasti sakit. Kecewa sudah pasti kecewa. Namun, sukar bagi Handika untuk mendapatkan hati Ardhita. Semua itu juga karena gadis itu sudah memiliki kekasih hati yang lain. Tidak akan mudah dia dapatkan.

__ADS_1


"Aku ingin tahu, siapa pria beruntung itu, Ardhita. Apakah dengan jarak yang begitu jauh, kamu masih percaya dengan kekuatan cintamu yang menyertakan Allah di dalamnya?"


Dokter Handika tertunduk lesu. Indahnya alif stone justru berbanding terbalik dengan perasaannya sekarang. Panorama di hadapannya begitu indah, tapi hatinya sangat sesak, teriris dan begitu perih.


__ADS_2