Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Malam Penghujung Ramadhan


__ADS_3

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah berlangsung hampir satu bulan lamanya. Itu artinya seluruh umat Muslim di seluruh penjuru dunia bersiap untuk menyambut datangnya hari kemenangan. Akan tetapi, kali ini hari idul fitri datang ketika bumi seakan berduka. Sesama manusia sebaiknya saling menjaga jarak. Oleh karena itu, ketika biasanya menyambut Ramadhan dengan takbir keliling kali ini tidak bisa dilakukan. Cukup mengumandangkan takbir di rumah masing-masing.


Sama seperti sekarang di Kota Malang. Hanya masjid-masjid saja yang mengumandangkan adzan. Tidak ada takbir keliling, biasanya setiap jamaah masjid akan berkeliling dan mengumandangkan takbir. Namun, sekarang sangat sepi. Jalanan pun sangat lengang.


Di rumahnya, Dhito berkumpul dengan Bapak dan Ibunya bersama Diva, adiknya. Menikmati malam di penghujung Ramadhan ini dengan keluarga.


"Baru kali ini yah, di malam takbir kita tidak ke masjid," ucap Bu Lastri.


Bu Lastri dan Pak Hardi memiliki kebiasaan untuk menghabiskan malam takbir di masjid dengan mengumandangkan adzan dan berkumpul dengan jemaah. Lagipula, rumahnya terbilang dekat juga dari Masjid sehingga memang bisa menghabiskan waktu di malam Takbir seperti ini.


"Benar, Bu. Biasanya kita mengikuti Kultum di masjid secara langsung. Sekarang, harus benar-benar di rumah. Manusia tidak boleh berdekatan dengan sesamanya, hanya dengan satu keluarga saja," balas Pak Hardi.


Biasanya menjelang waktunya berbuka, Pak Hardi dan Bu Lastri juga memilih untuk ke masjid dan menghadiri Kultum, kemudian menerima takjil yang dibagikan masjid yang sudah pasti ada buah kurmanya. Baru tahun ini, Pak Hardi dan Bu Lastri tidak mengikuti kegiatan Ramadhan di masjid. Sepenuhnya berada di dalam rumah.


"Kalau di Makassar, dulu Dhito sering membeli Es Pisang Ijo itu, Bu. Di Makassar rasanya enak banget berbuka puasa dengan menikmati Es Pisang Ijo, dan makannya Sup Konro dengan Buras," cerita Dhito.


Semua itu juga karena di Makassar tentu makanan khas Makassar yang sering disantap Dhito selama dua tahun lebih tinggal di Makassar. Sekarang, sudah berbeda. Tidak bisa lagi menikmati makanan khas Makassar yang begitu lezat seperti Sup Konro, Ikan Cakalang, dan juga Es Pisang Ijo.


"Ramadhan yang berbeda ya, Nang," balas Bu Lastri.

__ADS_1


Dhito pun menganggukkan kepalanya. "Benar, Bu. Beda banget. Tambah berbeda karena jauh dari Dik Dhita," balasnya.


Dari semua perbedaan yang ada, yang tahun ini sangat berbeda adalah begitu jauh dari Ardhita. Biasanya di malam Takbir seperti ini, Dhito sering menjemput Ardhita dan berada di rumahnya. Bisa bercengkerama dengan keluarganya. Supaya lebih dekat dan akrab dengan keluarga Hardi yang nantinya akan menjadi bagian keluarganya. Namun, sekarang tidak bisa membawa Ardhita ke rumah karena Ardhita sekarang masih berada di Natuna.


"Ya, nanti ditelepon dulu, Dhita nya," balas Bu Lastri.


Oleh karena itu, Dhito meminta izin kepada Bapak dan Ibunya untuk menghubungi Ardhita terlebih dahulu. Pemuda itu segera menuju ke kamarnya dan melakukan panggilan video kepada Ardhita.


Ardhita


Terhubung ....


" Halo, Assalamualaikum, Dik ...."


"Waalaikumsalam, Mas Dhito. Malam takbiran di rumah saja ya Mas?" tanya Ardhita.


Maka, Dhito pun menganggukkan kepalanya. Memang faktanya sekarang sekadar keluar rumah saja rasanya tidak tenang. Untuk bekerja saja rasanya juga begitu panik. Akan tetapi, Dhito tetap harus bekerja. Keinginannya bisa menabung terlebih dahulu sebelum nanti akan menikahi Ardhita.


"Iya, Dik ... di rumah saja. Bagaimana malam Takbir di Natuna?" tanya Dhito.

__ADS_1


"Di rumah juga, Mas. Di sini malahan sepi. Pulau terpencil, penduduknya juga tidak banyak," balas Ardhita.


"Oh, mungkin karena terpencil makanya TKI dan TKW diisolasi di Rumah Sakit di sana yah?" tanya Dhito.


"Mungkin saja sih, Mas. Namun, tepatnya bagaimana aku juga kurang tahu. Besok akan datang lagi, TKI dari Malaysia, Mas. Akan dikarantina di sini juga," cerita Ardhita kemudian.


Dhito tahu mungkin ketika semakin banyaknya TKI yang datang dan dikarantina di sana membuat para petugas medis pun bekerja lebih keras. Jadi, kemungkinan besar Ardhita juga akan lebih capek untuk beberapa hari ke depan.


"Esok sudah Ramadhan, Dik," ucap Dhito.


Lagi-lagi ada kesedihan di dalam suaranya. Kangen dengan Ardhita. Teringat dengan Ramadhan sebelumnya ketika mereka saling mengikuti acara Ramadhan di rumah keluarga mereka masing-masing. Akan tetapi, sekarang keduanya tidak bisa bersua.


"Iya, Mas. Kali pertama kita menjalani Lebaran dengan berjauhan yah? Tidak bisa bertemu sama sekali," balas Ardhita.


"Iya, biasanya walau aku jauh di Makassar. Aku akan selalu pulang ke Malang, setiap kali lebaran. Baru kali ini kita benar-benar tidak bisa bertemu," balas Dhito.


Sedih rasanya. Akan tetapi, memang sering kali tidak bisa berbuat apa-apa seperti sekarang ini. Hanya bisa bertemu secara maya, bukan nyata.


"Besok aku akan menelpon kamu lagi yah. Kita rayakan Lebaran bersama-sama," ucap Dhito.

__ADS_1


Maka Ardhita pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan tunangannya itu. "Baik, Mas Dhito."


Walau rindu menggebu, tapi memang keduanya tidak bisa berusaha untuk bertemu. Jalan seolah tertutup. Namun, dengan pertemuan secara maya, setidaknya bisa mengurangi sedikit rindu dalam jiwa.


__ADS_2