
Keesokan harinya, kegiatan Ardhita masih sama hanya berada di dalam rumah. Ingin melihat televisi, tapi kebanyakan semua memberitakan angka lonjakan Covid yang sangat signifikan. Sehingga, membuat banyak orang juga semakin cemas dan khawatir rasanya. Oleh karena itu, Ardhita memilih memutar beberapa lagu dari handphone.
Kadang dia bersenandung lirih, berusaha menciptakan kesibukan sendiri walau berada di dalam rumah. Selain itu, juga Ardhita memilih membaca buku atau novel yang dia sukai. Sebisa mungkin menciptakan kebahagian sendiri supaya imun tubuhnya juga segera naik.
Lantas, ketika Ardhita sekarang sedang membaca sebuah novel terjemahan korea yang berjudul When Winter is Nice itu, terdengar teriakan orang dari luar.
"Paket ... Paket!"
Namun, karena Ardhita sedang melakukan isolasi mandiri. Sehingga dia meminta orang itu untuk menaruhnya di luar. Mengingat dia sedang isolasi mandiri sekarang. Jangan sampai ada orang lain yang bisa terpapar virus sama seperti dirinya.
"Taruh di luar saja, Pak. Saya baru Isoman," teriak Dhita.
Akhirnya kurir itu pun menyahut. "Di luar gerbang ya, Kak."
"Baik, makasih banyak, Pak," balas Ardhita.
Tadi suasana tenang, dia seakan bisa masuk ke dalam cerita. Di mana seorang gadis yang tinggal dan bekerja di Seoul, Korea Selatan, akhirnya memilih mengambil jeda dan menuju ke sebuah desa bernama Boekhyun. Menikmati musim dingin di sana. Pembawaan dalam buku itu terasa tenang, diiringi dengan musik instrumen yang Ardhita putar dari handphonenya memang seakan menciptakan relaksasi tersendiri.
Sekarang, Ardhita meninggalkan sejenak bukunya dan kemudian berjalan ke luar rumah. Gadis itu tetap mengenakan masker dan mengambil paket itu. Namun, sebelumnya, Ardhita menyemprotkan cairan desinfektan ke paket itu untuk membunuh kuman yang mungkin terbawa dari paket itu.
Ardhita buru-buru membawanya masuk, lantas dia tersenyum ketika mendapati siapa pengirim paket itu rupanya adalah dari Dhito, tunangannya yang berada di Malang. Ardhita kemudian mulai membuka paket itu dan kemudian terharu melihat seluruh isinya.
Ada vitamin C, ada beberapa vitamin lain untuk daya tahan tubuh, alat saturasi oksigen dalam tubuh, Disfuser lengkap dengan oilnya, kue-kue kering, bahkan ada aneka jamu tinggal seduh. Menurut Dhita paketan itu sangat lengkap. Dari obat, camilan, hingga jamu. Namun, Ardhita juga tahu bahwa ada keresahan di sana. Sekaligus ada doa yang Dhito sampaikan kepadanya. Tentunya adalah doa supaya segera sembuh.
__ADS_1
"Kamu mengirimkan banyak banget, Mas Dhito. Padahal dari Rumah Sakit juga sudah diberikan obat dan vitamin juga. Terima kasih banyak, Mas Dhito," gumam Dhita dengan menatap semua paket yang dikirimkan oleh Dhito.
Setelah itu, Ardhita mengambil handphonenya dan juga menghubungi Dhito. Sebab, dia harus memberitahukan bahwa apa yang Dhito kirimkan sudah sampai dan dia sudah menerimanya.
Mas Dhito
Memanggil ....
"Halo, assalamualaikum Mas Dhito," sapa Ardhita begitu panggilannya sudah terhubung.
"Ya, Waalaikumsalam, Dik ... ada apa?" tanya Dhito.
"Mas Dhito mengirimkan banyak banget buat aku. Padahal aku hanya seorang diri dan makanannya banyak banget," ucap Ardhita.
"Pasti, Mas. Doakan aku juga yah. Semakin banyak yang mengirimkan doa akan semakin baik adanya. Semoga Allah dengar dan kabulkan," balas Ardhita.
Ketika memang tidak bisa memberikan perhatian dari dekat. Namun, bisa mengirimkan paket sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Yang menerima pun juga akan merasakan kepedulian yang didapatkan oleh si pengirim. Sama seperti Ardhita sekarang yang benar-benar merasakan bahwa Dhito peduli padanya. Sampai keripik apel kesukaannya saja, Dhito belikan untuknya.
"Dik, itu dikirimin jamu sama Ibu juga. Nanti kalau sembuh, bisa diminum yah, biar sehat. Itu titipan dari Ibu," balas Dhito.
Sekadar menyampaikan kepada Ardhita bahwa banyak yang peduli kepadanya. Dhito dan keluarganya sangat sayang dan peduli kepada Ardhita. Walau jauh, tapi tetap ada rasa sayang.
"Wah, kok repot-repot sih, Mas. Sampaikan terima kasih kepada Ibu ya, Mas. Nanti kalau Ardhita pulang dari Natuna, Dhita beliin oleh-oleh untuk Ibu," balasnya.
__ADS_1
"Tidak usah, Dik. Yang penting kamu sehat. Selain itu, nanti hari-hari seperti ini akan berlalu. Setelahnya kita bisa menikmati hari bersama, melanjutkan rencana kita berdua untuk menikah," balas Dhito.
Jauh dari semua yang diharapkan adalah Dhito hanya ingin ketika hari sudah membaik, bumi sudah pulih, dia bisa melanjutkan rencananya yang tertunda yaitu meminang Ardhita. Hanya itu yang menjadi keinginan terbesar Dhito. Besar harapannya untuk mempersunting pujaan hatinya itu.
"Iya, Mas. Semoga bumi segera membaik. Semua virus ini bisa dikendalikan. Vaksin juga cepat ditemukan. Aku juga menanti masa itu tiba," balas Ardhita.
"Sama-sama berdoa, Dik. Kalau tidak berdoa, manusia tidak memiliki kekuatan. Di lain waktu, di hari yang baik kita akan Allah pertemukan lagi yah," ucap Dhito.
Akan tetapi, ketika Dhito mengatakan itu jujur saja hati Ardhita menjadi pedih. Semoga hari yang baik itu akan tiba. Semoga saja, Allah akan mempertemukan dirinya dengan Dhito dan keluarganya di Malang. Bisa berkumpul dalam keadaan hidup, serta sehat walafiat akan menjadi kado terindah untuk Ardhita.
"Insyaallah, Mas. Kiranya Allah mengabulkan dan menghendakinya," balas Ardhita.
Mendengar apa yang Ardhita sampaikan, Dhito menganggukkan kepalanya. Seolah-olah sekarang dia tengah berhadapan dengan Dhita. Bisa menatap wajah ayu kekasihnya itu.
"Ya sudah, ini Mas mau berangkat kerja shift siang sampai malam nanti. Kamu segera pulih dan sehat yah. Terus semangat. Jangan sampai menyerah. Kalau kita sedih, dan patah semangat, justru daya tubuh kita akan segera semakin lemah. Oh, iya ... kamu butuh sesuatu yang lain enggak? Aku bisa mengirimkannya untukmu,"tanya Dhito sekarang.
Akan tetapi, Ardhita menggelengkan kepalanya."Tidak, Mas. Ini saja sudah banyak banget. Semua vitamin ada di sini. Terima kasih banyak Mas Dhito, aku pasti akan segera sembuh. Jangan lupa sampaikan terima kasihku untuk Ibu ya, Mas. Salam untuk Bapak, Ibu, dan Diva," balas Ardhita.
"Tentu, Dik. Nanti Mas salamkan yah. Hati-hati di sana yah. Speedy recovery, Dik. Mas sayang kamu," ucap Dhito.
"Terima kasih banyak Mas Dhito," balas Ardhita.
Sungguh, ada rasa haru di hati Ardhita. Walau tak bisa bersua, tak bisa bertatap muka, tapi Dhito menunjukkan kepedulian, dan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda. Seakan Dhita teringat dengan dulu kala dia sakit di Malang, Dhito juga akan mengirimkan makanan melalui ojek online untuknya. Sekarang pun sama. Ardhita berharap bahwa dirinya akan pulih. Nanti jika sudah pulih, dia ingin mengirimkan sesuatu untuk Dhito dan keluarganya, tanda terima kasih darinya.
__ADS_1