Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Meminta Kepada Orang Tua


__ADS_3

Jika ada sosok pria yang tidak main-main dengan ucapannya dia adalah Dhito. Ya, Dhito sepulang dari rumah Ardhita segera menyampaikan maksud dan niat hatinya kepada Bapak dan Ibunya. Menurut Dhito, tidak ada lagi waktu yang tepat selain sekarang.


"Darimana, Dhit? Tumben loh, kamu rapi banget. Mana wangi juga," tanya Bu Lastri dengan tertawa melihat putranya itu.


Sebab, satu setengah tahun baru kali ini putranya begitu rapi dan tentunya sangat wangi. Bu Lastri sampai geleng-geleng kepala sendiri melihat putranya itu. Orang Jawa bilang,"Necis", karena Dhito benar-benar rapi dengan kemeja dan wangi.


"Tadi, Dhito baru sowan (mengunjungi - dalam bahasa Indonesia) ke rumah calon mertua, Ibu. Ternyata Ardhita sudah pulang ke rumah. Setelah karantina dua pekan usai dari Natuna," cerita Dhito.


Bu Lastri dan Pak Hardi juga kaget kok Ardhita sudah pulang dan tidak memberikan kabar. Rasanya juga bingung. Apakah itu nyata atau tidak.


"Tenanan loh, Dhit? Apa benar kalau Ardhita pulang? kenapa tidak memberikan kabar terlebih dahulu?" tanya Pak Hardi.


"Benar kok, Pak. Ardhita sudah datang dari Natuna. Alasannya tidak memberitahu karena dia menghabiskan karantina di rumah karantina bagi pendatang yang masuk ke Malang. Selain itu, Ardhita juga tidak tahu orang-orang khawatir kepadanya. Sehingga, tadi siang juga dia baru memberitahu Dhito."


Sekarang Dhito menceritakan semuanya kepada Bapak dan Ibunya. Memang Ardhita memilih karantina terlebih dahulu, selain itu ada waktu dua hari yang memang Ardhita habiskan bersama orang tuanya terlebih dahulu. Ada maksud dari setiap tindakan yang Ardhita ambil.

__ADS_1


"Ya, bagus, Dhito. Walau sudah new normal, tapi memang sebaiknya lebih berhati-hati. Vaksin juga masih diuji klinis. Nanti kalau sudah membaik, semua aturan kan bisa lebih longgar," balas Pak Hardi.


Syukurlah Pak Hardi adalah pribadi yang positif sehingga dia justru menilai tindakan Ardhita itu benar adanya. Sekarang, memang sudah memasuki era new normal, kenormalan baru. Aturan tidak seketat dulu waktu awal pandemi. Akan tetapi, tetap harus menerapkan protokol kesehatan dan juga menjaga diri sendiri terlebih dahulu.


"Bapak dan Ibu, izinkan Dhito untuk berbicara kepada Bapak dan Ibu," ucapnya.


Ada anggukkan kepala dari Bapak Hardi dan Bu Lastri. Biasanya, ketika putranya hendak berbicara dan ingin menyampaikan sesuatu, itu tandanya ada pembicaraan serius yang sedang Dhito sampaikan. Oleh karena itu, sebagai orang tua Pak Hardi dan Bu Lastri akan mendengarkan Dhito.


"Begini, sekarang Ardhita sudah pulang ke Malang. Jadi, menurut Dhito inilah saat yang baik untuk melanjutkan rencana dua keluarga yang sempat tertunda karena pandemi. Jadi, apakah Bapak dan Ibu merestui apabila Dhito mempersunting Ardhita?" tany Dhito sekarang.


"Bapak dan Ibu sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, apakah sekarang saat yang tepat, Nak? Mengingat bumi ini masih terkena pandemi. Tidak elok ketika kita membuat hajatan besar dan membahayakan keselamatan orang lain. Padahal di sekeliling kita sendiri juga banyak yang berduka," balas Pak Hardi.


Itu adalah pendapat dari Pak Hardi. Rasanya sangat tidak elok membuat pesta besar, ketika banyak di antara sanak saudara atau tetangga yang harus berpisah dari orang-orang terkasihnya untuk selamanya. Sangat tidak elok, ketika di tengah tingginya angka paparan covid, dan mereka akan menggelar hajatan. Oleh karena itulah, Pak Hardi menyampaikan demikian.


"Yang dikatakan Bapak kamu benar adanya, Dhito. Kondisi juga belum sepenuhnya membaik. Apakah tidak menunggu pandemi berakhir saja?" tanya Bu Lastri.

__ADS_1


"Begini Bapak dan Ibu. Tidak perlu menggelar pesta besar-besaran. Yang penting, kami berdua bisa menggelar akad saja dan di dampingi orang tua. Itu sudah lebih dari cukup. Bukankah inti dari sebuah pernikahan adalah akad? Jadi, sebaiknya mengikrarkan Akad di Kantor Urusan Agama saja," balas Dhito.


Dhito menyampaikan semua itu dengan hati-hati dan pelan-pelan. Alih-alih membuat pesta besar dan mengundang banyak orang yang bisa memicu kluster baru penyebaran covid, lebih baik untuk mengikrarkan akad saja. Bagi Dhito, inti dari pernikahan adalah di akad. Akad bukan hanya sekadar janji, melainkan ikrar yang menyatukan dua insan berbeda untuk bersatu dan membina rumah tangga.


"Kamu yakin? Tidak menginginkan resepsi?" tanya Pak Hardi.


Dengan begitu mantap, Dhito pun menganggukkan kepalanya. Sekarang yang penting bagi Dhito adalah mengucapkan ikrar sepenuh dan setulus hati untuk Dhita. Bahkan hanya di Kantor Urusan Agama saja tidak menjadi masalah.


"Tidak masalah, Bapak. Dhito yakin," jawabnya.


"Ardhita keberatan tidak jika hanya sekadar akad?" tanya Pak Hardi lagi.


Pertanyaan itu karena Pak Hardi ingin memastikan bahwa Ardhita juga sepakat dengan Dhito. Bukan hanya mengedepankan kemauan salah satu pihak saja. Jika dua belah pihak sepakat rasanya jauh lebih enak.


"Tadi Dhito sudah berbicara kepada Ardhita dan dia setuju," balas Dhito.

__ADS_1


Sebagai seorang pemuda, dia sudah menyampaikan niat hatinya terlebih dahulu kepada Bapak dan Ibunya. Bagaimana tidak bermaksud mendahului, tapi Dhito berusaha berbicara dan meminta kepada kedua orang tuanya. Sebab, bagaimana pun orang tuanya lah yang akan menikahkan dia dengan kekasih pilihan hatinya nanti.


__ADS_2