
Pada bulan Ramadhan tahun ini dan juga sekaligus mengingat masa pandemi yang sepenuhnya belum berakhir, ada pembicaraan dari Bu Lastri, Pak Hardi, dan juga Dhito. Pembicaraan kali ini terbilang serius. Selain itu, membutuhkan ketegaran hati Dhito dan tentunya Ardhita yang akan diberitahu juga.
"Dhito, Bapak dan Ibu ingin berbicara. Sebenarnya tahun ini adalah tahun di mana dua keluarga pernah berdiskusi bersama untuk menggelar pernikahanmu dan Ardhita. Mengingat sudah tiga tahun juga kalian berpacaran. Niat baik memang sebaiknya tidak ditunda-tunda. Akan tetapi, dengan situasi genting dan juga pembatasan sosial skala besar di mana masyarakat tidak boleh membuat acara yang mendatangkan kerumunan. Jadi, sebaiknya pernikahanmu dan Ardhita diundur dulu, To," ucap Pak Hardi.
Sebagai orang tua tentu tidak mudah juga mengambil keputusan ini. Akan tetapi, Pak Hardi juga tidak ingin membuat acara yang akan membuat warga berkerumun dan dampaknya semakin banyak orang yang terpapar virus Corona. Selain itu, Ardhita sendiri juga berada di Natuna sekarang, sangat jauh dari Malang. Tidak mungkin juga bisa pulang ke Malang hanya sekadar menjalankan ijab dan qobul.
Mendengar ucapan dari Bapaknya, tidak dipungkiri hati Dhito sangat sedih. Rencana semula, di akhir tahun nanti sekaligus dengan cuti dari tempatnya bekerja di Makassar, Dhito dan Ardhita sudah merencanakan untuk menjalankan pernikahan. Pernikahan yang tentunya akan digelar di kota Apel, Malang.
Sayangnya dengan kondisi yang genting sekaligus ada pembatasan kegiatan di masyarakat tentu akan sukar untuk menggelar pernikahan. Selain itu, Ardhita memang berada di Natuna. Apakah bisa Ardhita pulang ke Malang terlebih dahulu untuk sekadar melaksanakan Ijab Qobul.
"Apakah tak ada jalan lain selain ditunda, Pak?" tanya Dhito.
Yang Dhito pikirkan sekarang adalah jika menunda pernikahan, lantas sampai batas kapan berapa lama akan ditunda? Kemudian, kapan mereka akan dinikahkan oleh kedua orang tua mereka. Semuanya penuh dengan ketidakpastian.
"Untuk sekarang, kelihatannya tidak ada, Dhito. Jumlah warga yang terkena Covid semakin bertambah setiap harinya. Mulai dilakukan karantina wilayah. Kalaupun, Ardhita bisa pulang pastilah akan dikarantina dulu selama 14 hari," balas Pak Hardi lagi.
Memang kala itu, sudah diberlakukan karantina wilayah. Sehingga memang kalaupun Ardhita bisa pulang pastilah akan dikarantina selama 14 hari terlebih dahulu. Sementara dengan pekerjaan Ardhita sebagai tenaga kesehatan di kala kondisi genting seperti ini, tentu dia akan sangat dibutuhkan untuk bertugas dan mengemban tugas kemanusiaan yang menyangkut nyawa seseorang.
Dhito benar-benar resah. Impiannya tahun ini bisa naik ke pelaminan bersama dengan Ardhita. Namun semuanya sia-sia. Seakan semua yang sudah direncanakan buyar begitu saja di depan mata.
__ADS_1
"Yang barusan disampaikan Bapakmu benar, Nang. Membahayakan jika membuat acara pernikahan sekarang," balas Bu Lastri yang turut menambahkan.
"Kalau ditunda mau sampai kapan Bu?" tanya Dhito kepada Bapak dan Ibunya.
"Tidak tahu sampai kapan, Nang. Nunggu keadaan sudah pulih dulu. Bersabar terlebih dahulu tidak ada salahnya, Nang," balas Bu Lastri.
Sekarang, rasanya Dhito tak memiliki pilihan lain. Bapak dan Ibunya sudah sepakat untuk menunda pernikahannya dengan Ardhita. Alasan protokol kesehatan, pembatasan sosial berskala besar, hingga Ardhita yang sekarang berada di Natuna. Seolah memberikan alasan yang massive untuk menunda Pernikahan.
"Ikhlas, Dhito. Kalau jodoh, pasti bisa sama-sama menjaga hati. Kalau jodoh, menunggu lamanya satu tahun juga bisa dilewati, Dhito," ucap Pak Hardi lagi.
Di saat seperti inilah, keputusan yang berat untuk Dhito. Hasrat hati ingin meminang bidadarinya. Menjadikannya satu-satunya bidadari surganya. Namun, sekarang semesta seolah menutup semua pintu. Membuat keduanya tidak bisa bersatu. Harus menunggu lagi. Dalam batas waktu yang tidak tentu.
"Dipikirkan baik-baik. Lebih baik menunda sekarang, tapi hasilnya baik sampai kurun waktu yang lama, Dhito."
"Dhito perlu berpikir dulu, Bapak," ucapnya.
Pak Hardi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia sangat paham bahwa Dhito juga perlu waktu untuk memikirkan semuanya. Jika Dhito sudah mendapatkan keputusannya, nanti keluarga Dhito akan datang ke keluarga Ardhita dan menyampaikan keputusan. Semoga saja bisa diterima satu sama lain.
***
__ADS_1
Tiga hari kemudian ....
Jujur saja, tiga hari ini menjadi hari yang berat untuk Dhito. Beberapa malam bahkan Dhito sampai tidak bisa tidur. Namun, sepenuhnya dia menyadari bahwa ketika bersikeras untuk tetap menikah pun, hasilnya juga tidak akan baik adanya.
Sekarang, Dhito bersiap untuk menemui Bapak dan Ibunya untuk memberitahukan keputusannya. Semoga saja keputusan ini juga adalah keputusan yang tepat dan juga bisa diterima dengan baik oleh semuanya.
"Bapak dan Ibu, Dhito ingin berbicara dengan Bapak dan Ibu," ucapnya sekarang menemui Bapak dan Ibunya di ruang tamu.
"Ya, Dhito. Bagaimana, sudah mendapatkan keputusan?" tanya Pak Hardi.
Dhito menganggukkan kepalanya, walau dia sangat bimbang dan tidak tahu apakah keluarga Ardhita bisa menerima, tapi juga Dhito ini adalah yang terbaik. Selain itu, Dhito berharap di Natuna nanti ketika sudah diberitahu, Ardhita juga bisa menerima semuanya.
"Dhito setuju dengan saran dari Bapak dan Ibu. Dhito setuju untuk mengundurkan pernikahan Dhito dan Ardhita. Setidaknya sampai keadaan jadi lebih baik," ucapnya.
Pak Hardi dan Bu Lastri sama-sama menganggukkan kepalanya. Keduanya tahu sangat tidak mudah untuk Dhito. Namun, melihat kondisi yang kian genting, bahkan jumlah warga terpapar covid juga terus bertambah, jadi. keputusan ini adalah keputusan yang baik.
"Baiklah, nanti kita akan mengunjungi keluarga Dhita. Kita sampaikan semuanya. Bukannya kami tidak setuju, tidak. Bapak dan Ibu setuju dengan hubungan kalian berdua. Hubungan yang sehat dan saling mendukung satu sama lain. Cuma, waktunya yang tidak tepat," balas Pak Hardi.
"Iya, Bapak. Dhito juga memikirkan itu. Dunia boleh corona, tapi semoga tidak demikian dengan hubungan kami berdua," balas Dhito.
__ADS_1
"Berdoa sama Allah, Nang. Sumber kekuatan dan pengharapan kita di waktu yang sedang genting seperti ini hanya Allah semata. Semoga Allah menjaga hati kalian berdua," ucap Bu Lastri.
Sungguh, ini adalah keputusan yang berat. Mengundurkan pernikahan juga tidak mudah. Sementara keluarga Dhito juga pernah memesan untuk katering, semua harus dibatalkan juga. Semoga saja nanti semuanya bisa diterima dua keluarga dan keduanya bisa menata rencana pernikahan dengan lebih baik lagi.