
Tidak terasa minggu sudah berganti dengan minggu. Bulan pun sudah berganti juga dengan bulan. Sejak datang ke Ranai, Natuna, sekarang ... tidak terasa sudah satu tahun berlalu. Satu tahun yang dijalani Ardhita penuh dengan cucuran air mata. Satu tahun yang membuatnya jauh dari rumah, dan belum ada hilal kapan dia bisa pulang ke rumah.
Satu tahun dengan berbagai jenis varian covid. Satu tahun dengan korban yang berjatuhan tidak hanya satu, tapi hingga ribuan korban meninggal yang sudah berjatuhan. Tidak bisa dihitung berapa banyaknya air mata yang tumpah. Berapa anak-anak berpisah dari Ayah atau Ibunya, karena satu di antara keduanya gugur dalam wabah ini. Berapa banyak orang tua kehilangan anaknya, atau anak kehilangan orang tuanya. Tidak bisa diukur lagi banyaknya kesedihan yang terjadi.
Masa pandemi selalu memiliki ceritanya tersendiri. Walau memang lebih banyak dengan cerita penuh air mata. Namun, ada sepasang anak manusia yang masih berusaha bertahan di tengah-tengah gempuran virus corona. Ya, mereka ada Ardhita dan Dhito yang selalu mempertahankan hubungan dengan handphone di tangan. Selalu memberi kabar, selalu menunjukkan rasa cinta, walau benar-benar tidak bisa bersua.
"Sudah satu tahun berlalu, Dik ... satu tahun yang benar-benar tidak mudah yah? Tidak pernah sebelumnya kita berpisah selama ini. Dulu, kala aku masih bekerja di Makassar saja, aku akan berusaha untuk pulang setiap empat bulan sekali, supaya aku bisa bertemu denganmu," ucap Gibran dengan mendekatkan handphone di telinganya.
"Ya, sudah satu tahun. Bulan demi bulan berganti hingga rindu ini kian menumpuk," balas Dhita.
"Seolah baru kemarin kita menyambut Bulan Ramadhan. Ramadhan tanpa sua kita berdua. Beberapa bulan lagi akan kembali Ramadhan, kali ini apakah mungkin kamu akan pulang ke Malang, Dhita?" tanya Dhito.
__ADS_1
Sebenarnya, pesawat udara sudah mulai terbang. Kabar baiknya, sekarang vaksin untuk covid juga sedang diuji klinis. Oleh karena itu, sekarang sudah memasuki era kenormalan baru. Yang pasti, kemana saja tetap harus menggunakan masker dan juga menerapkan protokol kesehaatan atau Prokes.
"Benar Mas Dhito ... sudah satu tahun berlalu. Tidak terasa. Itu artinya sudah satu tahun lebih sebulan aku berada di Natuna," balasnya.
"Iya, aku benar-benar rindu, Dik," balas Dhito.
Itu adalah pengakuan jujur dari Dhito. Tidak mudah untuk menjaga hati ketika jarak begitu jauh. Dalam 13 bulan terakhir pun juga tidak pernah bertemu. Sangat sukar. Akan tetapi, keduanya masih harus sama-sama menanti waktu yang dinilai tepat untuk keduanya.
Dhito mengungkapkan keinginan terbesar hatinya. Permintaan hatinya kepada Ardhita. Rencana yang sudah tertunda satu tahun lamanya. Dia ingin menunaikan akad bersama dengan Ardhita. Menyatukan dua hati dalam satu biduk yang bernama rumah tangga. Menyudahi hubungan yang sudah terjalin dalam kurun waktu empat tahun dan membawanya ke jenjang pernikahan.
"Aku akan berusaha, Mas Dhito. Insyaallah," balas Dhita.
__ADS_1
Memang Ardhita juga menggenggam rindu di hatinya. Bukan hanya untuk Dhito, tapi juga untuk kedua orang tuanya. Terlebih beberapa bulan yang lalu, Bapaknya sempat terpapar covid. Syukurlah setelah berada di Rumah Sakit selama dua pekan, Bapak Harja bisa sembuh dan kumpul lagi dengan ibunya. Maka, Dhita pun merasa perlu mendamaikan hatinya sendiri. Ingin pulang memeluk kedua orang tuanya. Segenap asa di hati benar-benar menggerakkan hatinya untuk bisa pulang.
Lagipula, terus-menerus di pulau Natuna, Dhita merasakan tubuhnya sehat, tapi memang hatinya sepi. Ada kebutuhan batiniah dan afeksi yang tidak bisa memenuhinya. Kangen rumah, kangen orang tua, kangen dengan Dhito juga. Rasa kangen itu baru bisa terpuaskan kala sudah bertemu dengan orang-orang yang mereka sayangi.
"Benarkah? Aku akan menunggumu di Kota Apel," balas Dhito.
"Insyaallah, kiranya aku akan segera tiba di Malang. Namun, harus isolasi dulu selama dua pekan," balas Ardhita.
Kala itu, untuk setiap orang yang dari jauh dan kembali ke kota asalnya masing-masing harus diisolasi oleh pemerintah di rumah singgah atau rumah penampungan selama dua pekan. Dalam kurun waktu itu, mereka harus berolahraga dan mengikuti swab. Ketika hasil swab negatif, barulah mereka diperbolehkan untuk pulang.
Apakah nanti Dhita memutuskana untuk pulang? Apa yang harus Dhita pertaruhkan supaya Ramadhan bulan depan bisa bersua dengan orang tua dan kekasih hatinya?
__ADS_1