
Setelah Dhito setuju untuk menunda pernikahannya yang sejatinya akan digelar pada akhir tahun nanti. Kemudian, keesokan harinya Bapak dan Ibu Hardi berniat untuk mengunjungi keluarga Ardhita. Walau dengan berat hati, tapi keputusan ini harus diambil. Oleh karena itu, sekarang Pak Hardi, Bu Lastri, dan juga Dhito datang ke rumah Pak Harjo.
"Jangan lupa memakai masker. Walau datang dan tidak akan berlama-lama, tetap harus menerapkan protokol kesehatan," ucap Pak Hardi kepada istrinya dan juga Dhito.
"Sudah, Bapak," balas Dhito yang sekarang mengenakan kemeja batik.
Memang Dhito memilih untuk memakai kemeja batik karena terkesan sopan. Terlebih ketika hendak datang ke rumah calon mertua, batik sering kali menjadi pilihan yang memang cocok di acara yang semi resmi. Selain itu, Dhito juga sudah mengenakan masker.
Setelah, Dhito mengeluarkan mobil Bapaknya, kemudian mengemudikan mobil dengan tipe city car itu untuk menuju ke rumah Ardhita. Walau di sepanjang perjalanan, Dhito juga bimbang. Jujur saja, Dhito masih ingin untuk melanjutkan rencananya semula. Namun, apa daya, memaksakan rencananya juga bisa berakibat fatal.
"Masih kepikiran, Dhit?" tanya Bu Lastri kepada putranya itu.
"Ya, masih, Bu. Kadang niat baik juga bisa gagal dengan keadaan. Namun, bagaimana lagi. Bisanya hanya bisa mengundurnya," balas Dhito.
Pak Hardi yang duduk tepat di belakang Dhito pun menepuk-nepuk lengan putranya itu. "Ya, yang sabar. Sedikit kesabaran bisa menjauhkan kita dari bahaya. Tidak apa-apa. Tidak gagal kok, hanya ditunda sementara," balas Pak Hardi.
Memang sebenarnya pernikahan mereka tidak gagal. Hanya ditunda. Ditunda sampai keadaan benar-benar sudah membaik. Ketika, bumi sudah membaik, Ardhita sudah kembali ke Malang, maka pernikahan akan tetap digelar. Tidak dibatalkan.
__ADS_1
Beberapa saat berkendara, sekarang mereka telah tiba di rumah Ardhita. Ada Pak Hardi yang mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salah untuk calon besannya itu.
"Assalamualaikum, Pak Harjo," sapanya.
Tidak berselang lama, dari dalam rumah ada Pak Harjo dan Bu Tini yang membukakan pintu. Pasangan paruh baya itu sudah mengenakan masker juga kala membukakan pintu. Di depan rumah sudah disediakan tempat untuk cuci tangan dan juga sabun cuci tangan. Hal itu karena Ardhita mengingatkan kepada Bapak dan Ibunya juga untuk menjaga dan menerapkan protokol kesehatan.
Pak Hardi dan keluarga memberikan salam tidak saling berjabat tangan seperti biasanya. Cukup merapatkan kedua telapak tangan dan mengangkatnya sejajar dengan dada, dan sedikit menundukkan kepalanya. Tanda menghormati. Memang di masa pandemi ini tidak diperbolehkan untuk melakukan kontak fisik.
"Tumben Pak Hardi dan keluarga kok datang ke mari? Mari silakan masuk," ucap Pak Harjo yang mempersilakan keluarga Pak Hardi untuk masuk.
"Iya Pak ... sekalian silaturahmi dan hendak menyampaikan kabar dari kami," ucap Pak Hardi.
"Silakan, Pak Hardi ... ada apa?" tanya Pak Harjo lagi.
Pak Hardi menghela napas sesaat. Jujur, dia kasihan juga dengan Dhito. Namun, mau tidak mau keputusan inilah yang harus diambil. Kemudian, Pak Hardi mulai memberitahukan maksud dan tujuan sebenarnya.
"Begini, Pak Harjo dan Bu Tini. Tujuan pertama kami datang ke sini tentu untuk bersilaturahmi dan kedua untuk memberitahukan terkait rencana pernikahan anak-anak kita yaitu Dhito dan Ardhita. Mengingat keduanya sudah lama berpacaran, dan sudah bertunangan juga. Namun, ketika bumi sedang kacau seperti ini. Mohon maaf sekali, agaknya rencana pernikahan yang seharusnya dilakukan akhir tahun ini sebaiknya untuk ditunda, Pak," ucap Pak Hardi.
__ADS_1
Pak Harjo menganggukkan kepalanya. Sejujurnya, dia tidak kaget. Sebab, memang di masa covid ini begitu banyak pemberitaan di televisi di mana banyak pasangan memilih untuk menunda pernikahan mereka. Menerapkan pembatasan sosial berskala besar. Semua itu dilakukan untuk mengurangi paparan covid yang setiap hari, angkanya semakin naik.
Memang Pak Harjo dan Bu Tini belum berbicara apa pun dengan Ardhira, tapi keduanya sudah berembug untuk menunda pernikahan juga. Mengingat angka covid yang masih tinggi dan juga Ardhita yang masih berada di Ranai, Natuna.
"Sebenarnya, saya dan istri sudah pernah membahasnya bersama, Pak. Jadi, kami tidak kaget. Namun, kita harus memberitahu Dhita juga. Sebab, rencana awal kan Dhita dan Dhito akan menikah akhir tahun ini. Kalau saya dan istri sih setuju. Bukan batal, hanya diundur saja, menunggu keadaan menjadi jauh lebih baik," balas Pak Harjo.
Tentu saja Pak Hardi merasa lega. Semula, Pak Hardi juga berpikir bahwa mungkin saja keluarga Ardhita tidak menerima. Sebab, pihak wanita biasanya memiliki berbagai pertimbangan tersendiri.
"Benar Pak Harjo, bukan gagal dan batal. Hanya diundur saja, menunggu kondisi lebih baik dan Ardhita sudah bisa kembali ke Malang," balas Pak Hardi.
"Kami tidak masalah, Pak Hardi. Justru, pendapat kami juga sama. Kalau Nak Dhito bagaimana?" tanya Bu Tini kini kepada Dhito.
"Sebenarnya, Dhito ingin pada rencana awal. Apalagi Dhito sudah pulang ke Malang juga, Bapak dan Ibu. Itu juga karena Dhito di-PHK di Makassar. Hotel tempat Dhito bekerja tutup untuk waktu yang tidak ditentukan. Namun, bersyukurnya Dhito sudah mendapatkan pekerjaan lagi di Malang, walau hanya di mini market. Yang penting bekerja dulu. Dhito sayang dengan Ardhita, tapi sekarang harus menahan dan lebih bersabar dulu," balasnya.
"Benar Mas Dhito, harus bersabar dulu. Kalau dipaksakan, hasilnya juga tidak baik," balas Pak Harjo.
"Jadi, siapa yang akan memberitahu Ardhita?" tanya Pak Hardi kemudian.
__ADS_1
"Kami akan memberitahukannya dulu saja, Pak Hardi. Nanti setelahnya Pak Hardi dan Dhito bisa gantian memberitahu. Sebenarnya kasihan Dhita juga, bertugas di Natuna sana pasti juga berat. Namun, sudah tugasnya untuk melayani masyarakat," balas Pak Harjo.
Setelah semuanya sepekat, mereka hanya perlu memberitahu Ardhita. Tentu hanya bisa memberitahu via telepon saja. Sebab, jika memberitahu langsung juga pastinya tidak bisa.