Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Kali ini, selang beberapa hari berlalu rupanya Dokter Handika menahan Ardhita supaya tidak pulang terlebih dahulu. Dokter muda itu mengatakan ingin mengatakan sesuatu kepada Ardhita. Sehingga, usai bertugas, Ardhita pun menemui Dokter Handika.


"Ada perlu apa ya, Dokter?" tanya Ardhita dengan sopan dengan sang Dokter.


"Silakan duduk dulu, Ardhita," ucap Dokter Handika.


Setelah itu, Ardhita pun mengambil tempat duduk di depan meja praktik Dokter muda itu. Ardhita mencoba berpikiran positif, karena memang bukankah perawat juga bekerja dengan seorang Dokter yang dinilai lebih expert untuk kesehatan pasien.


"Sebenarnya, ini bukan tentang pekerjaan sih. Lebih ke pembahasan pribadi," balas Dokter Handika.


Sekarang, Ardhita kembali menerka apa yang hendak disampaikan kepadanya. Sebab, memang sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan dengan Dokter Handika untuk hal pribadi. Sehingga, memang Ardhita menerka-nerka sendiri yang sebenarnya ingin disampaikan Dokter Handika.

__ADS_1


"Begini, Ardhita ...."


Tampak Dokter Handika berbicara, menjeda dulu ucapannya terlebih dahulu. Dokter itu mengamati wajah Ardhita beberapa kali, hingga akhirnya mulai meneguhkan hatinya untuk berbicara.


"Hm, seperti yang saya sampaikan tadi bahwa ini adalah masalah pribadi. Tidak ada kaitannya dengan pekerjaan kita di sini. Jadi, yang ingin saya sampaikan adalah ... Ardhita, sebenarnya saya memiliki perasaan denganmu," ucap Dokter Handika.


Mendengarkan apa yang disampaikan oleh Dokter Handika tentu saja Ardhita menjadi terkejut. Seingatnya mereka pernah banyak terlibat satu sama lain. Hanya terkait dengan masalah pekerjaan saja. Namun, bagaimana bisa tiba-tiba Dokter Handika mengatakan demikian. Apakah sang Dokter sedang bercanda?


"Mungkin kamu bingung, Dhita. Namun, saya tidak bohong. Awalnya saya juga bingung. Akan tetapi, rasa ini tumbuh dengan sendirinya setiap hari. Bahkan, saya jujur mengatakan ketika kamu positif Covid kemarin, saya sangat sedih," lanjut Dokter Handika.


"Jadi, bagaimana Ardhita. Mungkinkah perasaan saya ini terbalas?" tanyanya.

__ADS_1


Tentu Ardhita tak perlu berpikir panjang karena dia sudah tahu sendiri bagaimana dengan perasaannya sekarang. Di dalam hati sudah ada calon imam yang namanya selalu dia sebut dalam setiap sujudnya.


"Mohon maaf, Dokter. Semua itu karena saya sudah memiliki tunangan di kota Malang. Sebenarnya jika tidak ada aral melintang, akhir tahun ini kami akan naik ke pelaminan. Sayangnya, terjadi Covid dan mau tidak mau, kami harus menundanya," balas Ardhita dengan jujur.


Bagi Ardhita adalah lebih baik untuk jujur dan berterus-terang. Semua itu, memang Ardhita berkeyakinan untuk bisa menjaga hatinya hanya untuk Dhito saja. Tidak terpikir untuk melakukan hal yang lain.


"Jadi, tidak ada kesempatan nih buat saya?" tanya Dokter Handika.


Sekarang, Ardhita dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Mohon maaf, tidak bisa Dokter," balasnya.


"Saya ditolak?" tanya Dokter Handika lagi.

__ADS_1


Sekali lagi, Ardhita menganggukkan kepalanya. "Maaf, Dokter. Tidak bisa. Saya dan calon imam saya sudah saling berkomitmen satu sama lain," bagi Ardhita.


Bagi Ardhita itu adalah sebuah jawaban yang valid dan mutlak. Tidak perlu berpikir panjang, karena hubungan Ardhita dan Dhito adalah hubungan yang didasari dengan komitmen. Untuk itu, jawaban yang dia berikan kepada Dokter Handika juga adalah jawaban yang pasti.


__ADS_2