Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Peraduan yang Indah


__ADS_3

Usai akad, Ardhita pun dibawa ke kediaman Dhito. Sebenarnya, Dhito sudah membeli sebuah rumah. Niatnya memang akan mereka tempati bersama usai pernikahan. Akan tetapi, Pak Hardi dan Bu Lastri meminta Dhito untuk mengajak Ardhita pulang ke rumah mereka terlebih dahulu. Untung sebelumnya, Ardhita sudah menyiapkan tas jinjing yang berupa perlengkapan miliknya.


Tentu keluarga Harja pun ikhlas. Sebab, memang putrinya dibawa oleh suaminya sendiri. Begitulah anak gadis, ketika sudah menikah akan menjadi hak suaminya.


"Titip, Ardhita yah, Dhito. Bapak serahkan putri Bapak satu-satunya kepadamu," ucap Pak Harja.


"Insyaallah, Dhito akan menjaga Dik Dhita dengan sebaik mungkin," balasnya.


Usai itu, Ardhita sekarang menjadi satu mobil dengan mobil keluarga suaminya. Senang sudah pasti senang, tapi tetap saja gugup. Terlebih baru kali pertama Ardhita akan mulai tinggal dengan suaminya.


Hanya beberapa saat berkendara, sekarang Ardhita sudah tiba di kediaman Hardi. Gadis cantik berkebaya putih itu diajak Bu Lastri masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang, Dhita ... anggap rumah Bapak dan Ibu seperti rumah kamu sendiri," ucap Bu Lastri.


"Terima kasih, Ibu," balas Dhita.


Kemudian Bu Lastri mengajak Ardhita untuk duduk bersama di ruang tamu. Sementara adiknya, Dhito yaitu Diva yang membuatkan minum untuk mereka semua.


"Deg-degan, Mbak?" tanya Diva kepada Ardhita.


"Iya, tadi waktu akad," balas Ardhita.


"Sekarang sudah sah, sudah lega yah," balas Pak Hardi.


Tidak ada kelegaan yang lebih indah daripada sudah sahnya Ardhita dan Dhito dalam pernikahan. Cukup lama mereka berbincang-bincang di sana. Hingga akhirnya, malam pun tiba. Ardhita dipandu oleh Bu Lastri untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah malam sekarang, Ta ... istirahat yah. Bapak dan Ibu tidak akan mengganggu," kata Bu Lastri.

__ADS_1


Ardhita hanya menyunggingkan senyuman di wajahnya. Bagaimana pun rasanya sangat malu. Ini pun menjadi hal yang tidak biasa. Sebab, biasanya pengantin baru akan menghabiskan malam pertama di hotel atau tempat bulan madu yang indah. Namun, lantaran pandemi Ardhita dan Dhito hanya bisa menghabiskan malam pertama usai akad di rumah suaminya.


Ini pun menjadi kali pertama bagi Ardhita memasuki kamar suaminya itu. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Sekilas, Ardhita mengedarkan pandangannya, melihat kamar dengan cat biru itu. Kesannya begitu minimalis, dengan ranjang yang ada di tengah-tengahnya.


Begitu tiba kamar, Ardhita memilih mandi dulu, mumpung suaminya belum datang ke kamar. Hanya sekian menit saja, Ardhita sudah mengenakan piyama tidur dan masih mengenakan hijabnya. Walau sudah halal untuk satu sama lain, rasanya masih sungkan.


"Dik," sapa Dhito begitu pria itu masuk ke dalam kamar.


Belum terbiasa melihat bidadari ada di dalam kamarnya. Jangan ditanya, Dhito pun sangat deg-degan. Sebab, baru kali pertama juga dia sekamar dengan lawan jenisnya.


"Ya, Mas," jawab Ardhita dengan lirih.


Hingga akhirnya, Dhito memberanikan dirinya duduk di samping Ardhita. Memulai juga rasanya bingung dan canggung. Walau sangat bahagia, tapi Dhito akan berusaha untuk bersikap tenang malam ini.


"Boleh aku pinjem tanganmu?" tanya Dhito perlahan.


"Akhirnya, malam ini tiba juga. Tahu enggak, Dik ... kamu wanita pertama yang memasuki kamarku. Kalau mau bicara jujur, aku lega dan bahagia. Setelah tahun lalu, rencana pernikahan kita batal. Namun, di tahun ini, kita bisa bersatu," kata Dhito perlahan-lahan.


Tangan Ardhita sekarang saja terasa dingin. Gugup yang lebih mendominasi. Rasanya tidak mengira ketika Dhito mengecup punggung tangannya.


"Hm, aku juga, Mas," balas Ardhita.


"Jadi, apakah malam ini akan terjadi yang seharusnya terjadi tanya Dhito?"


Tidak mudah juga untuk mengatakan itu. Akan tetapi, bukankah hadiah pertama ketika menikah adalah mengarungi malam pertama? Oleh karena itu, Dhito pun berusaha untuk mengatakannya.


"Sekarang, Mas?" tanya Ardhita perlahan.

__ADS_1


"Iya," jawab Dhito singkat.


"Bapak, Ibu, dan Diva masih terjaga loh. Apakah memang tidak bisa ditunda?" tanya Ardhita.


Dhito menggelengkan kepalanya. Baginya sekarang adalah waktu yang tepat. Istrinya itu tidak perlu merasa khawatir.


"Aman, Dik. Pintu sudah aku kunci. Lampu bisa dipadamkan," balas Dhito.


Merasa suaminya sudah menginginkannya, maka Ardhita menganggukkan kepalanya. Dhito tersenyum, karena istrinya itu begitu taat kepadanya. Pria itu masih menggenggam tangan Ardhita, kemudian bertanya.


"Boleh, aku membuka hijabmu?" tanya Dhito.


Sekadar membuka hijab dan juga melihat rambut yang adalah mahkota sang istri itu, dia meminta izin terlebih dahulu. Memang istrinya adalah miliknya dan haknya. Namun, Dhito ingin berlaku santun. Memulai percintaan pun harus santun.


"Iya, boleh Mas," balas Ardhita.


Dhito senang ketika Ardhita benar-benar memberikan kesempatan untuknya. Pria itu perlahan-lahan membuka hijab sang istri. Ketika kain persegi yang dibentuk menjadi segitiga itu dia urai, masih ada kain di sana yang seolah menyelimuti rambut Ardhita. Hingga akhirnya, Dhito melepaskannya dan melihat sendiri surau indah nan panjang sang istri.


"Masyaallah, cantik banget kamu, Dik," kata Dhito.


Dhito benar-benar terpesona. Rambut hitam nan panjang, selain itu rambut Ardhita pun sangat harum. Sungguh beruntungnya Dhito menjadi pria pertama yang melihat mahkota istrinya.


Ardhita sendiri tertunduk. Dia tidak berani bersitatap mata dengan suaminya. Sedikit beringsut, Dhito mengucapkan doa dan perlahan semakin mendekat dengan Ardhita.


Dalam kesantunan, dalam peleburan cinta yang membara. Keduanya saling memberi dan menerima untuk kali pertama. Ketika sakit datang karena itu memang harus terjadi, Dhito pun menunggu dan meminta maaf kepada istrinya. Namun, bagaimana pun itu adalah peraduan yang indah.


Saling memuja. Saling membuka diri, hingga keduanya tak mampu lagi berkata-kata untuk setiap tetes cinta yang bisa mereka rasakan bersama.

__ADS_1


🥰


__ADS_2