Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Lebaran Tanpa Sua


__ADS_3

Hari ini adalah hari Idul Fitri. Namun, di hari ini Ardhita berada jauh di Natuna. Sementara keluarganya berada di Malang, Jawa Timur. Untuk kali pertama dalam hidupnya, Ardhita merasakan dan merayakan hari raya tanpa keluarga. Seolah berada jauh dari keterasingan.


Aneka hidangan khas lebaran yang biasanya Ibunya masak di rumah pun, tidak bisa Ardhita rasakan. Seperti Ketupat, Opor Ayam, dan Sambal Goreng yang seolah sudah menjadi menu tradisi bagi keluarga Ardhita. Sekarang, di tanah Natuna, dia hanya menjalani Ramadhan di rumah singgah, sembari nanti sore akan berangkat ke Rumah Sakit untuk bertugas shift malam.


Sebagai seorang tenaga medis, Ardhita juga tidak memiliki cuti. Tetap masuk bekerja, sesuai dengan jadwal shiftnya. Pada lebaran kali ini, ada juga yang berbeda karena tidak ada sholat Ied atau Sholat Idul Fitri. Pemerintah sudah menghimbau seluruh rakyat untuk melakukan Sholat Idul Fitri di rumah. Maka, Ardhita pun hanya mengambil waktu sholat sendiri di rumah.


Tahun yang lalu, Ardhita melaksanakan sholat Idul Fitri bersama keluarga dan jamaah dengan berbondong-bondong ke lapangan. Tahun ini, Hari Lebaran pun terasa sunyi.


"Ya Allah, jika Allah berkenan, di tahun yang sama, pada kesempatan yang sama tolong izinkan Dhita untuk merayakan lebaran bersama keluarga dan orang-orang yang Dhita sayangi dan kasihi."


Ardhita berdoa dalam hatinya, di dalam sujud. Gadis itu berlinang air mata lantaran rindu dengan keluarga dan juga rindu bisa merayakan Ramadhan dan lebaran bersama orang-orang yang dia kasihi. Akan tetapi, sekarang dia merayakan sendiri.

__ADS_1


Bahkan menu khas lebaran pun tidak ada di rumah singgah Dhita. Hanya ada nasi dan telor dadar. Benar-benar jauh dari kata perayaan Idul Fitri. Usai menunaikan Sholat Ied, Ardhita kemudian mulai melakukan panggilan video kepada Bapak dan Ibunya di Malang.


Bapak


Memanggil ....


"Halo, Assalamualaikum Bapak dan Ibu," sapa Ardhita begitu panggilan videonya sudah tersambung.


"Bapak dan Ibu, Dhita mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin nggih Bapak dan Ibu," ucap Ardhita dengan sesegukan.


Kedua orang tuanya yang berada di Malang pun juga menangis. Tidak bisa memeluk anak tunggalnya. Hanya saja melihat dari layar handphonenya.

__ADS_1


"Iya, Ta ... Selamat Idul Fitri juga yah. Bapak dan Ibu selalu mendoakan kamu sehat yang bekerja di sana yah. Tahun depan, ketika lebaran semoga sudah bisa bersama dan berkumpul di rumah yah," balas Bapaknya.


Hari raya, yang begitu pilu. Tidak bisa bersua. Hanya bisa bertemu secara virtual, dan tidak bisa bertemu langsung. Terlebih Ardhita yang begitu jauh dari rumah.


"Tadi Dhito dan keluarga juga menelpon video, Ta. Mereka mengucapkan Idul Fitri melalui panggilan video. Tidak bisa bersilaturahmi. Tidak bisa bermaaf-maafan langsung. Hanya bisa menelpon," balas Bu Tini.


Ardhita menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Bersilaturahmi secara virtual dulu. Semoga tahun depan sudah lebih baik dan bisa bersua," balasnya.


"Amin ... semoga ya, Ta. Terlebih bisa bertemu dengan kamu. Ibu sudah rindu."


Ya Tuhan, sepanjang melakukan panggilan video, Ardhita terus berlinangan air matanya. Tidak bisa bertemu dengan orang tuanya. Sedih sekali rasanya.

__ADS_1


Ketika jauh seperti ini rasanya benar-benar terisolasi. Idul Fitri pun tanpa sua. Berharap hari-hari seperti ini akan berlalu dan akan tergantikan dengan hari yang bisa dilalui bersama dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai.


__ADS_2