Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Negatif!


__ADS_3

Tidak terasa adalah hari keempat belas bagi Ardhita. Sebenarnya sejak isolasi mandiri hari kesepuluh, Ardhita sudah merasakan baik-baik saja. Namun, hasil tes usab terakhir belum dibacakan, itu membuat Ardhita masih menjalani isolasi mandiri di rumah.


Demam, batuk, hingga anosmia yang sebelumnya Ardhita rasakan sekarang sudah berangsur pulih. Ardhita pun yakin bahwa dirinya sudah sembuh. Namun, untuk membuktikan semua itu memang perlu pemeriksaan dan juga pembacaan hasil tes usab kali terakhir.


Menjelang siang hari, ada mobil ambulance yang berhenti di depan rumah yang dia tempati. Sekarang pun Ardhita bersiap dan mengenakan hijabnya. Sebab, Ardhita sudah yakin bahwa itu adalah petugas medis yang datang.


Tepat seperti tebakan Ardhita, ada Dokter Handika dan tiga perawat yang datang masih dengan mengenakan Alat Pelindung Diri. Hingga terdengar suara ketukan di pintu rumah Ardhita.


"Assalamualaikum," sapa suara seorang pria. Dhita yakin bahwa itu adalah Dokter Handika.


"Waalaikumsalam," balas Ardhita.


Akhirnya, Ardhita membukakan pintu untuk tim medis yang baru saja datang. Tim medis itu pun masuk dan bertanya kepada Ardhita.


"Ini hari keempat belas isolasi mandiri, ada keluhan tidak Ardhita?" tanya Dokter Handika.


"Saya sudah baik, Dokter. Demam, batuk, dan anosmia sudah sembuh," balas Ardhita.


Ada perawat yang mencatat kondisi Ardhita itu. Kemudian, Dokter Handika mulai mengecek suhu tubuh Ardhita dengan mengenakan termometer, hasilnya juga normal sudah tidak ada demam. Kemudian Dokter Handika membacakan hasil Tes Usab yang pernah diambil pada hari kesebelas.


"Jadi, begini Ardhita. Berdasarkan dari tes swab terakhir, kamu dinyatakan ... negatif!"


Ketika Dokter Handika membacakan itu, Ardhita menitikkan air matanya. Setelah empat belas hari penuh melakukan isolasi mandiri. Inilah arti adalah doa adalah sauh. Doa yang terus dilantunkan memberikan kekuatan dan mukjizat kesembuhan untuk Ardhita.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Maha Besar Allah," ucap Ardhita.


Ardhita memuji kebesaran Allah. Allah yang sudah menyembuhkannya. Dengan perantara setiap obat yang sekarang dia minum. Sungguh, semua karena kebesaran dan kemurahan Allah semata. Dia bisa sembuh. Padahal kala itu, obat masih diberikan berdasarkan gejala yang muncul. Vaksin untuk covid juga belum ditemukan. Jika, sampai dia dinyatakan negatif, itu tentu kebesaran Allah semata.


"Selamat, Ardhita... sudah negatif. Awal minggu nanti kamu sudah boleh bertugas di Rumah Sakit. Habiskan beberapa waktu ini untuk istirahat," ucap Dokter Handika.


Ardhita menganggukkan kepalanya. Dia sangat bersyukur. Masih ada waktu dua hari untuk istirahat dan awal minggu akan kembali bertugas ke Rumah Sakit.


"Terima kasih banyak, Dokter," balas Ardhita.


Usai itu, tim medis berpamitan untuk pulang. Sementara, Ardhita segera menghubungi Dhito. Dia teringat bahwa dia akan memberitahu Dhito untuk hasil negatif yang dia dapatkan.


Mas Dhito


"Halo, Assalamualaikum, Mas Dhito ...."


Ketika panggilan teleponnya sudah terhubung, Ardhita menyapa dengan mengucapkan salam. Sudah ingin memberitahukan kabar baik hari ini. Memang Ardhita menepati janjinya untuk memberi kabar kepada Dhito terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam, Dik ... ada apa?" tanya Dhito di seberang sana.


"Aku ingin menyampaikan kabar, Mas," balas Ardhita.


"Ya, Dik. Silakan. Mau menyampaikan kabar apa? Mas siap untuk mendengarkannya," balas Dhito.

__ADS_1


"Terima kasih untuk doa dan dukungannya selama ini, Mas. Barusan ... hasil tes usab terakhir sudah dibacakan dan hasilnya aku negatif," ucap Ardhita.


"Alhamdulillah ... Alhamdulillah ya Allah," balas Dhito.


Di Malang pun, Dhito sangat bersyukur. Akhirnya bisa mendengarkan kabar baik bahwa tunangannya itu sudah negatif. Allah mengabulkan doa-doanya.


"Akhirnya, hari ini datang juga. Mas ikut seneng, Dik," balas Dhito.


"Aku sudah berjanji kan, untuk memberitahu Mas Dhito terlebih dahulu ketika hasilnya sudah keluar. Makasih banyak yah. Dari jauh Mas Dhito sudah menemaniku untuk menjalani isolasi mandiri," kata Ardhita.


Walau jarak memang terpisah ribuan mil jauhnya. Berbeda pulau dan terpisahkan lautan, tapi untuk menemani bisa dilakukan dengan memanfaatkan handphone di tangan. Dalam empat hari ini, Dhito selalu menemaninya, mensupportnya, bahkan memberikan paket berisi camilan dan vitamin untuknya. Tentu ini adalah bentuk kasih sayang yang besar.


"Itu adalah perasaan cinta, Dik. Cinta bisa membuat jembatan tersendiri ketika semua jalan terasa buntu. Selamat yah ... lain kali, harus lebih menjaga kesehatan dan kebersihan yah. Katanya yang pernah terkena Covid, bisa terkena lagi. Jadi, lebih di hati-hati," balas Dhito.


"Pasti, Mas. Kalau bisa memilih, gak pengen terkena lagi. Pengen sepenuhnya sembuh," balas Ardhita.


"Semoga Allah kabulkan ya, Dik. Mas seneng banget. Hari seperti ini sudah Mas tunggu," sahut Dhito.


"Baiklah, Mas. Sampaikan salam dan terima kasihku untuk Bapak dan Ibu juga yah. Aku habis ini ingin menghubungi Bapak dan Ibu di rumah, Mas. Sebab, Bapak dan Ibu juga kepikiran. Aku tutup dulu ya, Mas," ucapnya.


Usai menghubungi Dhito, Ardhita menghubungi Bapak dan Ibunya. Sama seperti Dhito, Bapak dan Ibunya juga sangat bersyukur, anaknya yang berada jauh di Natuna akhirnya sudah dinyatakan negatif.


Bagi mereka yang pernah terkena Covid, dan dinyatakan negatif adalah hal yang sangat indah. Penuh dengan sujud syukur. Di tengah banyak orang yang tumbang, tapi ada mukjizat kesembuhan itu rasanya sungguh luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2