Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Kembali Beraktivitas


__ADS_3

Usai dua hari berlalu, sekarang Ardhita bersiap untuk kembali bertugas sebagai perawat di Rumah Sakit Darurat di Ranai, Natuna. Setelah pernah terpapar Covid dan harus kembali bertugas, berhadapan dengan setiap pasien ada kalanya membuat Ardhita menjadi gentar. Namun, kali ini Ardhita berjanji bahwa dia akan lebih berhati-hati.


"Ya Allah, hari ini hamba akan kembali bertugas. Berdiri di garda terdepan untuk menolong mereka yang terpapar virus ini. Mohon ya Allah, lindungi Dhita. Biarkan Dhita bisa beraktivitas kali ini dengan baik," doanya dalam hati.


Berdiri di depan cermin dan mengenakan masker medis, Ardhita bersiap untuk melaksanakan kembali tugas sebagai tenaga medis. Banyak pasien yang menunggunya, ada rekan sesama tenaga kesehatan yang selama 14 hari ini menggantikannya. Oleh karena itu, Ardhita berketetapan dalam hati untuk kembali bertugas.


Usai itu, Ardhita berjalan kaki menuju ke Rumah Sakit. Kembali bergabung dengan satuan dinas di Rumah Sakit Daerah. Di sana, temannya menyambutnya dengan penuh syukur yaitu Santi.


"Selamat datang kembali Pejuang Negatif!"


Santi menitikkan air matanya. Tidak mengira dalam empat hari berjibaku dengan virus mematikan ini, akhirnya Ardhita bisa sembuh. Sekarang keduanya sama-sama menitikkan air matanya. Datang dari daerah dan mengemban misi kemanusiaan di Natuna, mereka tahu bagaimana beratnya tugas mereka.


Jauh dari keluarga, jauh dari orang tersayang, berada di Natuna yang membuat keduanya seakan terisolasi di pulau terluar negara Indonesia yang berbatasan ke Vietnam itu. Suasana menjadi haru di ruangan mereka.

__ADS_1


"Aku senang banget akhirnya kamu negatif, Dhita," ucap Santi dengan tulus.


"Aku juga, San. Aku juga bersyukur. Aku bersujud kepada Allah ketika aku dinyatakan negatif," balas Ardhita.


Santi menyeka sendiri air matanya. Dia kemudian tersenyum di sela-sela air matanya yang terus berderai. "Selamat bertugas kembali ya, Bestie," ucap Santi.


"Makasih yah. Kita bertugas lagi. Lanjutkan misi sampai semua pasien negatif," balas Dhita.


"Kemudian kita bisa berkumpul dengan keluarga yah," balas Santi.


Usai itu, keduanya kembali bersiap mengenakan baju hazmat lengkap dengan semua pelindungnya. Bersiap untuk menengok satu per satu pasien yang ada di Rumah Sakit Daerah. Hingga akhirnya, Ardhita berpapasan dengan Dokter Handika.


"Pagi Ardhita, sudah kembali bertugas?" sapa Sang Dokter.

__ADS_1


"Pagi, Dokter. Iya, sudah saatnya harus kembali ke medan tempur," balas Ardhita.


Di sana Dokter Handika tersenyum. Bisa-bisanya Ardhita menganggap Rumah Sakit ini sebagai Medan pertempuran. Sampai dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kamu kira kita semua ini tentara?" tanyanya.


Ardhita tersenyum tipis. Walau senyum itu juga tidak nampak karena perlengkapan alat pelindung diri yang dia kenakan. "Kita bertempur dan berhadap-hadapan dengan sosok yang tak kasat mata, tapi dampaknya luar biasa."


Itulah yang Ardhita rasakan sekarang. Mereka juga adalah barikade yang harus berdiri di depan. Yang mereka hadapi bukan musuh yang berdiri di depan mata. Melainkan, sosok yang tak terlihat, tak kasat mata, tapi justru berhasil membunuh manusia di seluruh penjuru dunia. Selain itu, banyak tenaga kesehatan juga yang menjadi sasarannya. Sehingga, peristiwa ini benar-benar adalah tragedi kemanusiaan.


"Selamat bertugas kembali," balas Dokter Handika.


"Terima kasih, Dokter," balas Ardhita.

__ADS_1


Usia itu Ardhita berpamitan dan hendak visitasi kepada pasien. Untuk tugas ini, Ardhita akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sembari terus berharap bahwa masa-masa seperti ini akan berlalu.


__ADS_2