
Tidak terasa ini adalah hari ketiga bagi Ardhita untuk melakukan isolasi mandiri. Biasanya, Ardhita akan bangun pagi dan bersiap untuk ke Rumah Sakit sesuai dengan jadwalnya. Sekarang, Ardhita berjemur di belakang rumahnya. Membiarkan surya untuk menghangatkan dirinya, selain itu sinar matahari juga bisa meningkatkan imun. Sekalipun berada di belakang rumah, Ardhita tetap mengenakan masker.
Sebenarnya dalam tiga hari ini, Ardhita mengalami demam naik dan turun. Hanya saja, batuknya itu sangat kering. Hingga tenggorokannya merasa sakit. Selain meminum obat, Ardhita juga meminum banyak air putih dan vitamin C agar dirinya lebih sehat.
"Sudah hari ketiga, aku menjalankan isolasi mandiri. Masih ada sembilan hari lagi, semoga saja setelah sembilan hari, hamba akan dinyatakan negatif ya Allah."
Dalam hatinya, Ardhita tetap berharap semoga saja dirinya akan segera negatif. Sekarang dia harus semangat, karena jika sampai sedih dan lemah, justru imun tubuhnya akan terus menurun.
Baru beberapa menit Ardhita berjemur di rumah belakang. Terdengar ada ketukan pintu dari pintu depannya.
"Permisi ... permisi ...."
Ardhita pun segera menuju masuk ke rumah dan melihat siapa yang datang. Dari jendela depan rumah dia melihat ternyata ada Dokter Handika dan petugas medis yang mengenakan Alat Pelindung Diri datang ke rumahnya. Ardhita merapikan diri dan mengenakan hijab terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia membukakan pintu.
"Assalamualaikum," sapa Dokter Handika dan dua petugas medis.
"Waalaikumsalam, Dokter. Silakan masuk," balas Ardhita.
Rupanya yang datang adalah Dokter Handika dan tim medis. Datang untuk memeriksa kondisi Ardhita. Mulailah mereka mengukur suhu badan Ardhita dengan menggunakan thermometer yang diarahkan ke keningnya.
"36.4°, normal yah. Berarti tidak demam," ucap Dokter Handika.
Ardhita menganggukkan kepalanya. Memang dia sekarang tidak merasa demam. Sehingga, suhu tubuh Ardhita terbilang normal. Namun, Ardhita memang berharap bahwa dirinya akan segera pulih.
__ADS_1
"Ada keluhan apa, Ardhita?" tanya Dokter Handika kemudian.
"Masih batuk-batuk saja, Dokter," jawabnya.
Kemudian mereka memberikan obat sesuai dengan keluhan Ardhita. Diberikan obat untuk batuk kering yang harus diminum tiga kali sehari. Selain itu, juga mereka menyampaikan bahwa dua hari lagi akan kembali diambil sampel untuk tes usab lagi.
"Ardhita, kalau pengen membutuhkan apa-apa dan bantuan jangan sungkan untuk memberitahu saya," ucap Dokter Handika sekarang.
Ardhita yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya saja. Tidak begitu menganggap serius dengan ucapan Dokter Handika. Sebab, Ardhita akan menjaga hatinya dan akan selalu setia kepada Dhito.
Kunjungan itu hanya berlangsung kurang lebih sepuluh menit. Usai keluhan Ardhita dicatat, dan obat diberikan lantas tenaga medis akan berkeliling ke pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun, rupanya Dokter Handika masih berusaha untuk berbicara dengan Ardhita.
"Kesepian tidak melakukan isolasi mandiri, Ta?" tanyanya.
"InsyaAllah, tidak ... semua berjalan baik adanya," balas Ardhita.
"Ta, kamu tak perlu sungkan denganku. Walau di Rumah Sakit jabatan kita berbeda. Namun, tiap kali butuh bantuan, kamu bisa menghubungi aku," ucap Dokter Handika lagi.
Akan tetapi, Ardhita justru merasakan tidak enak sekarang. Kenapa seakan ada niat tersembunyi dari Dokter Handika. Selama di Natuna, mengenal Dokter Handika biasanya Dokter itu sikapnya biasa saja. Tidak pernah memberikan perhatian lebih.
"Terima kasih, Dokter. Namun, saya bisa sendiri. Terima kasih banyak," balas Ardhita.
Akhirnya Dokter Handika menganggukkan kepalanya. Mungkin memang harus hati-hati dan pelan-pelan untuk mendekati Ardhita. Lagipula, ketika Ardhita dinyatakan positif covid, justru Dokter Handika merasakan dirinya kepikiran dengan salah satu perawatnya itu. Ingin memberikan perhatian kepada Ardhita.
__ADS_1
"Baiklah, saya pamit ya, Ta. Semoga segera pulih," balasnya.
"Terima kasih banyak, Dokter," balas Ardhita.
Usai itu, Dokter Handika barulah menuju ke mobil Rumah Sakit keliling itu. Mengunjungi pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Namun, Dokter Handika harus merasa kecewa karena ingin mendekati Ardhita urung kesampaian.
Sementara Ardhita memilih untuk masuk ke rumah. Gadis itu mengunci pintu rumahnya, membuka maskernya, dan melepaskan hijabnya sebentar. Sebab, di rumah hanya seorang diri, sehingga kalau pun melepas hijab pun tidak menjadi masalah.
Setelahnya, handphone Ardhita berbunyi, rupanya ada pesan yang masuk dari Dhito. Gadis itu pun menggulir layar handphone dan membaca setiap deret pesan dari Dhito.
[Dari: Mas Dhito]
[Sudah hari ketiga isolasi mandiri ya, Dik?]
[Mas doakan kamu lekas sehat.]
[Tidak lagi demam, dan batuk-batuknya segera pulih yah.]
[Speedy recovery, Dik.]
[Mas sayang kamu]
Membaca setiap pesan dari Dhito itu, Ardhita tersenyum. Walau sekarang dia dalam keterasingan. Melakukan isolasi mandiri dan berteman sepi, tapi Dhito selalu rutin mengiriminya pesan dan motivasi untuk sembuh. Seolah pesan-pesan yang Dhito kirimkan bisa memperbaiki mood Ardhita dan meningkatkan imun tubuhnya.
__ADS_1
"Terima kasih selalu menemaniku, walau dari jauh Mas Dhito. Dengan doa dan semangat, dan dengan mukjizat dari Allah, aku pasti akan sehat dan sembuh segera. Aku menjadi bisa menerima diagnosis ini, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang dan bertahan untuk orang-orang yang mengasihi dan menyayangiku," gumam Ardhita seorang diri.
Dulu, memang kala mendapatkan hasil tes usabnya positif, dunia seakan runtuh untuk Ardhita. Namun, sekarang Ardhita sudah bisa menerima semuanya. Dia akan berusaha bangkit, sembuh, dan terus semangat. Tak akan menyerah dengan virus yang sekarang menjangkit dirinya.