Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Kembali ke Kota Apel


__ADS_3

Agaknya kali ini, Ardhita mengambil langkah besar dalam hidupnya. Dia memutuskan untuk pulang ke kota Apel setelah satu tahun lebih tiga bulan berada di Ranai, Natuna. Gadis itu sebelumnya juga melakukan tes usab sebagai syarat terbang dengan pesawat udara.


Sebagaimana dulu dia berangkat ke Natuna seorang diri. Sekarang, Ardhita pun pulang ke Malang seorang diri. Tentu temannya Santi dan ada Dokter Handika yang kehilangan. Namun, Ardhita sudah sampai pada keputusannya.


"Pamit ya, Santi ...."


Ardhita berlinang air mata, mana kala berpamitan dengan rekan kerjanya selama berada di Natuna. Begitu juga dengan Santi. Yang sekarang tampak menitikkan air matanya.


"Kamu mendahului aku, Dhita," balasnya.


"Iya, maaf sekali. Aku sudah begitu rindu dengan Bapak dan Ibuku," balas Ardhita.


Bagi Ardhita, Dhito adalah alasan kedua. Alasan pertama adalah dia ingin bertemu dengan Bapak dan Ibunya. Lagipula, menurut perhitungan Ardhita, tidak lama lagi vaksin Covid akan ditemukan, sudah diuji klinis beberapa tahap. Sehingga, masyarakat akan segera mendapatkan vaksin untuk meningkatkan imunitas mereka terhadap virus ini.

__ADS_1


"Hati-hati yah. Selalu memberi kabar," balas Santi.


Begitu juga dengan Dokter Handika. "Ke Malang?" tanyanya.


"Iya, Dokter. Terima kasih untuk bimbingannya selama di Natuna ini," balas Ardhita.


"Iya, sama-sama. Walau ada hati yang masih terluka, Ta. Namun, bagaimana lagi. Mungkin memang tidak berjodoh," balas Dokter Handika.


Setelah itu, Ardhita juga menerima ketika Dokter Handika menawarkan untuk mengantar Ardhita ke Bandara. Tidak menolak, Ardhita menganggap itu hanya upaya berbuat baik dan menolong saja. Begitu sudah tiba di bandara. Dokter Handika juga membantu mengeluarkan koper milik Ardhita dari bagasi mobilnya.


"Hati-hati dalam perjalanan yah, senang bisa bekerja bersama denganmu."


"Sama-sama. Terima kasih Dokter Handika. Dhita pamit, terima kasih," balasnya.

__ADS_1


Tanpa menoleh ke belakang, Ardhita terus berjalan mendorong troli yang ada koper miliknya. Niatnya sudah bulat. Dia akan menempuh perjalanan lintas lautan untuk kembali ke kota Apel. Sudah begitu rindu dengan Bapak dan Ibunya. Akan tetapi, Ardhita memilih untuk tidak memberitahu Bapak dan Ibunya. Sebab, setibanya di Malang, dia harus mengikuti karantina di rumah singgah terlebih dahulu.


Hampir satu jam setelahnya, pesawat udara yang dinaiki Ardhita bersiap untuk mengudara. Di pesawat yang dibagi tempat duduknya agar penumpang tetap menerapkan social Distancing. Lautan berwarna hijau coral bisa Ardhita lihat. Pulau Natuna yang menjadi tempatnya singgah sekarang akan dia tinggalkan. Jika ini adalah pengorbanan biarlah, ini menjadi harga yang harus dia bayar.


***


Beberapa jam kemudian ....


Apabila di Natuna beriklim tropis dan cenderung panas. Walau hujan juga bisa turun sewaktu-waktu. Akan tetapi, di Malang rasanya begitu sejuk. Kembali ke Malang, hati Ardhita sudah bergetar. Terbayang rumahnya, terbayang orang tua, dan juga Dhito tentunya. Namun, Ardhita memilih diam dan tak memberi kabar. Nanti begitu usai dari rumah karantina barulah dia akan pulang ke rumahnya. Memberikan kejutan untuk orang tuanya.


"Satu tahun lebih aku meninggalkan kota ini, ketika aku bisa kembali, nyatanya rumah bukan menjadi tujuan utama bagiku pulang. Aku harus singgah di rumah karantina selama dua pekan. Bapak dan Ibu ... tunggu anakmu ini untuk pulang."


Pedih memang pedih. Namun, ada aturan memang harus dijalankan. Rindu dengan orang tua, tapi masih harus menahan beberapa pekan hingga akhirnya bisa kembali menatap Bapak dan Ibunya yang sudah lama dia tinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2