
Mendengarkan kabar yang baru saja disampaikan oleh Bapaknya tentu saja Ardhita menjadi kecewa. Semua itu juga karena dulu mereka sudah sama-sama berencana untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Kedua keluarga pun juga sepenuhnya sudah setuju. Namun, apa daya hasrat ingin memeluk gunung, tapi tangan tak sampai. Itulah yang sama-sama dirasakan oleh Dhita dan Dhito sekarang.
Tidak berselang lama giliran Dhito yang menghubungi Dhita. Sebenarnya Dhita sudah tahu dan juga menerka apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Dhito. Kendati demikian, Dhita tetap menerima panggilan suara dari tunangannya itu.
"Halo ... assalamualaikum Mas Dhito," sapa Ardhita dengan mendekatkan telepon itu ke telinganya.
"Waalaikumsalam, Dik ... baru ngapain?" tanya Dhito kepada Ardhita.
Dhito beberapa kali menghela napasnya. Jujur saja, tidak mudah untuk membeitahukan secara langsung kepada Ardhita. Namun, ketika sebuah keputusan sudah diambil, maka yang bisa mereka berdua lakukan adalah dengan menjalankannya.
"Usai ditelepon Bapak barusan, Mas ... ada apa?" tanya Ardhita.
"Oh, Bapak pasti sudah berbicara mengenai hubungan kita berdua ya, Dik?" tanya Dhito lagi.
Di saat bersamaan, Ardhita pun menganggukkan kepalanya. Sudah tahu dengan apa yang hendak disampaikan Dhito. Namun, Dhita tidak mau mendahului. Dia memilih untuk memberikan waktu untuk Dhito berbicara.
"Sudah, Mas. Mas Dhito ingin berbicara apa? Silakan disampaikan," balasnya.
"Hampir sama, Dik ... sama dengan yang Bapak sampaikan. Rencana pernikahan kita berdua harus diundur. Pertama, karena suasana di Malang semakin mencekam. Yang terkena covid setiap hari semakin bertambah. Tidak baik ketika membuat hajatan dan membahayakan orang banyak," balas Dhito.
Sebagai tenaga kesehatan, juga Ardhita sudah tahu dengan apa yang terjadi. Walau demikian, juga ada rasa sakit dan perih di dada.
__ADS_1
"Itu benar, Mas. Sampai sekarang saja vaksin belum ditemukan. Selain itu, pastilah aku tidak bisa pulang, Mas. Semua pesawat penumpang komersial dilarang untuk terbang," balas Ardhita.
Fakta yang terjadi kala itu memang seluruh pesawat penerbangan yang mengangkut penumpang berhenti beroperasi. Bandara udara juga lumpuh. Jika ada yang bisa terbang itu hanya pesawat kargo saja. Di Ranai, Natuna yang mendarat juga hanya pesawat militer yang mensupplai obat-obatan untuk para pasien. Tidak ada pesawat penumpang yang beroperasi.
"Itulah dulu aku memilih untuk segera pulang ke Malang, Dik ... daripada aku terjebak di Makassar. Berada di kota orang, tidak ada keluarga, kemudian juga aku menganggur kala itu. Jadi, aku memilih segera pulang ke Malang," cerita Dhito.
"Benar, Mas ... daripaada terjebak di kota Makassar. Lebih baik pulang dan berkumpul dengan keluarga," balas Ardhita.
"Dik, dengarkan Mas berbicara yah," ucap Dhito kemudian. Sekarang waktunya untuk berbicara dengan serius. Walau hati sakit, tapi kenyataan harus dihadapi.
"Begini ... rencana pernikahan kita memang diundur. Hanya diundur, Dik ... setelah semuanya berlalu dan keadaan menjadi lebih baik, aku akan meminangmu segera," ucap Dhito.
"Kalau bersedih ... pastilah aku juga sedih. Hubungan kita tidak hanya satu hari atau satu bulan, melainkan tiga tahun. Sementara itu, sudah 2,5 tahun sendiri kita menjalani pacaran jarak jauh. Aku sangat sedih, Dik ... tapi memang inilah jalan terbaik," ucap Dhito.
Sekarang, Dhito benar-benar menyampaikan isi hatinya kepada Ardhita. Dia juga bersedih. Hasrat hati ingin meminang Ardhita. Menggapai pernikahan yang diridhoi Allah. Pernikahan yang shakinah, mawaddah, dan warahmah.
Di Natuna saja, Dhita menitikkan air matanya. Bukan patah hati, hanya bersedih hati. Semua juga karena rencana indah yang sudah dirangkai bersama, nyatanya harus tertunda.
"Tertunda dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan ya Mas?" tanyanya.
"Iya, sampai kondisi menjadi baik dan juga kamu sudah kembali lagi ke Malang. Maksimal itu, Dik," balas Dhito.
__ADS_1
Setelah berbicara panjang dan lebar, kemudian Dhito memberikan handphonenya kepada Bapak Hardi, Bapaknya yang juga ingin berbicara kepada Dhita.
"Assalamualaikum, Mbak Dhita ...."
Pak Hardi menyapa calon menantunya itu melalui telepon. Selain itu, juga Pak Hardi ingin menyapakan langsung apa yang sudah diambil oleh kedua keluarga.
"Waalaikumsalam, Bapak," balas Ardhita.
"Begini, Mbak Dhita ... tadi pasti Dhito sudah berbicara dengan Mbak Dhita. Nah, ini Bapak hanya menambahkan saja. Memang tadi Bapak dan Ibu sudah sowan (berkunjung, dalam bahasa Indonesia) ke rumah orang tuanya Mbak Dhita. Mengingat kondisi yang genting, maka kami sepakat untuk menunda pernikahan kalian berdua. Hanya ditunda Mbak Dhita. Bapak harap Mbak Dhita tidak sedih ... hanya beberapa saat saja. Nanti kalau Mbak Dhita sudah tiba di Malang, kita bisa berdiskusi lagi. Yang pasti Dhito selalu mencintai Mbak Dhita," ucap Pak Hardi.
"Nggih, Pak ... Dhita tahu. Terima kasih, Bapak," balasnya.
Usai itu handphone diberikan lagi kepada Dhito. Lantas, Dhito kembali berbicara kepada Ardhita lagi.
"Itu tadi dari Bapak, Dik ... jaga hati kita berdua yah. Saat masanya tiba, aku pasti akan meminang kamu."
"Iya, Mas ... tolong jaga hatimu juga," balas Ardhita.
"Pasti, Dik ... aku akan selalu menjaganya untuk kamu," balas Dhito.
Walau bukan patah hati, tetap saja rasanya memilukan. Usai ini Dhito akan membatalkan katering dan gedung pernikahan yang sudah pernah dia DP. Harus diselesaikan dan menundanya untuk batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
__ADS_1