Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Akad


__ADS_3

Kurang lebih satu bulan kemudian, barulah pengurusan administrasi untuk pendaftaran pernikahan Ardhita dan Dhito baru diselesaikan. Keduanya pun akan bersiap untuk menyambut hari bahagia mereka berdua.


Benar-benar hanya sekadar akad, tidak ada pesta hajatan besar-besaran. Semua ini juga untuk memutus penyebaran mata rantai covid. Menjaga semuanya aman dan dalam kondisi sehat adalah prioritas utama untuk mereka berdua.


Sekarang hari yang ditunggu itu tiba. Biasanya ketika memiliki hajatan, keluarga akan memasang tanda bahwa mereka sedang punya kerja. Mengundang tetangga sekitar, atau memasang tenda. Akan tetapi, tidak demikian dengan keluarga Ardhita dan Dhito. Benar-benar tidak ada persiapan apa pun.


Hanya saja kedua keluarga membagikan Nasi Kotak dan Kue untuk tetangga se-RT saja. Itu sudah cukup, karena mereka menganggap hanya mengakadkan Ardhita dan Dhito saja.


Untuk persiapan sang pengantin sendiri juga tidak ada hal yang mewah. Ardhita hanya mengenakan kebaya putih miliknya, make naturalis yang menghias wajahnya. Sementara, Dhito juga sekadar mengenakan setelan jas berwarna hitam saja. Walau tidak membuat acara besar, Dhito memesankan buket bunga Mawar Putih untuk Ardhita. Bunga yang melambangkan kesucian cinta keduanya.


"Kita akan ke Kantor Urusan Agama sekarang?" tanya Pak Harja kepada putrinya dan istrinya.


"Iya, Pak," balas Ardhita.


"Bapak dulu itu memiliki mimpi ingin menikahkan kamu dengan acara yang baik, adat Jawa, dan resepsi. Sayangnya, belum bisa mewujudkannya yah, Ta," ucap Pak Harja.


Gadis itu pun menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bapak. Yang penting Ardhita dan Mas Dhito sah dalam ikatan pernikahan. Lebih berharga sebuah akad, daripada pesta resepsinya, Pak," jawab Ardhita.

__ADS_1


Mendengarkan apa yang disampaikan Ardhita, Pak Harja menganggukkan kepalanya. Bisa memahami pikiran Ardhita. Terlebih kondisi juga tidak memungkinkan untuk menggelar resepsi besar-besaran. Lagipula, memang yang penting Ardhita dan Dhito terikat dengan akad.


Usai itu, Pak Harja mengemudikan sendiri mobilnya. Mereka hendak menuju Kantor Urusan Agama, di sana mereka akan bertemu dengan Dhito dan keluarganya. Menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka tiba di Kantor Urusan Agama. Di depan Kantor Urusan Agama, sudah menunggu Dhito dan keluarganya.


"Cantiknya menantu, Ibu," kata Bu Lastri yang menilai bahwa Ardhita begitu cantik.


"Makasih, Ibu," balas Ardhita.


Sementara Dhito tak mengucapkan apa pun. Semua itu karena Dhito gugup menghafal kalimat akad. Selain itu, walau tak mengatakan apa pun, Dhito memuji Ardhita di dalam hatinya. Bidadarinya itu memang selalu cantik.


"Dhito gugup yah?" tanya Pak Harja.


"Tenang, pasti bisa. Ya sudah, kita masuk. Segera akad segera baik," balas Pak Harja.


Akhirnya, mereka dipersilakan masuk di sebuah ruangan dengan ada penghulu dan petugas dari kantor KUA yang akan mencatat dan menjadi saksi untuk akad yang berlangsung sore ini. Pak Harja pun mengambil tempat duduk berhadap-hadapan dengan Dhito.


"Kita mulai sekarang," kata penghulu di sana.

__ADS_1


Akhirnya Pak Harja menjabat tangan Dhito dan siap untuk memulai akad. Tampak Pak Harja menghela napas sejenak dan memulai untuk menikahkan putrinya sendiri dengan pria pilihan hatinya.


Bismillahirrahmanirrahim


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Dhito Pratama dengan putriku, Ardhita Maesti dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Dito mulai menghela napas dan mengeratkan jabatan tangannya. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Ardhita Maesti binti Harja dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai."


Dengan yakin, Dhito mengucapkan Qoubul. Cukup dengan mengucapkan akad saja keduanya dipersatukan dalam pernikahan yang sah.


Sah!


Saksi nikah mengatakan demikian. Semua yang ada di sana pun mengucapkan,"Alhamdulillah ...."


Setelah itu, ayat suci dilantunkan. Disertai dengan tangan yang menangkup di depan dada. Pernikahan ini sangat sederhana, sekadar akad di Kantor Urusan Agama saja.


Setelahnya dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah. Warna cokelat untuk suami, dan warna hijau untuk istri. Kemudian, keduanya tersenyum melihat foto mereka berdua yang sudah berada di halaman pertama buku nikah itu.

__ADS_1


"Selamat ya Mas Dhito dan istri. Sudah sah," kata petugas KUA di sana.


Menikah di KUA menjadi trend sendiri di masa pandemi. Sebab, cara ini dinilai lebih bisa memutus mata rantai penyebaran covid. Toh, inti dari pernikahan adalah akad. Walau dulu sempat tertunda, sekarang Ardhita dan Dhito sudah dipersatukan dalam pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah.


__ADS_2