Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Doa Adalah Cara Memeluk dari Jauh


__ADS_3

Menyelesaikan pekerjaannya di mini market, Dhito kemudian segera pulang. Seperti kebiasaannya sekarang setiap hari, Dhito akan mencuci tangannya dengan hand sanitizer sebelum masuk ke rumah. Kemudian, Dhito segera mandi terlebih dahulu, membersihkan tubunnya dari kuman dan virus yang mungkin saja bisa menempel di tubuhnya.


Usai membersihkan diri, Dhito kemudian mengambil handphonenya, sekarang Dhito ingin segera menelpon Ardhita. Semua juga karena, Dhito juga khawatir dengan kondisi Ardhita. Tak perlu menunggu lama, Dhito segera menelpon kekasihnya itu.


Ardhita


Berdering ....


"Halo, Assalamualaikum, Dik," sapa Dhito begitu telepon itu tersambung.


"Waalaikumsalam, Mas Dhito," balas Ardhita di Ranai, Natuna sana.


"Bagaimana kondisimu, Dik?" tanya Dhito sekarang.


Ketika menanyakan pertanyaan itu, Dhito berharap bahwa Ardhita bisa bercerita banyak hal kepadanya. Sebab, Dhito siap untuk menemani Ardhita, walaupun harus jarak jauh.


"Masih, batuk-batuk kering, Mas," jawab Ardhita.


Bahkan sekarang, Dhito mendengar sendiri Ardhita yang sedang batuk-batuk. Sekadar mendengar suara batuk itu saja, Dhito sudah menghela napas. Merasa kasihan dengan Ardhita.


"Pasti sakit yah? Kuncinya semangat yah. Harus dilawan. Ingat, Dik ... kamu tidak sendirian. Kamu memiliki aku," balas Dhito.


Ya, walau jauh Dhito ingin Ardhita tahu bahwa dia ada bersama dengannya. Dia akan selalu menemani Ardhita. Walau terpisah jarak, tapi kekuatan cinta mampu memangkas jarak.


"Makasih, Mas."


Sekarang terdengar isakan dari Ardhita. Tidak dipungkiri bahwa mentalnya juga down. Namun, bagaimana lagi kalau memang sekarang Tuhan mengizinkannya untuk merasakan sakit ini. Sakit yang obatnya sendiri belum ditemukan.


"Boleh aku mengalihkannya ke panggilan video?" tanya Dhito kemudian kepada Ardhita.

__ADS_1


Di sana, Ardhita menganggukkan kepalanya. Namun, dia meminta waktu karena sekarang Dhita belum mengenakan hijab. Sehingga, Dhita harus mengenakan hijabnya terlebih dahulu.


"Tungguh, sebentar ya Mas. Aku belum mengenakan hijab," ucapnya.


"Iya, Mas akan tunggu. Kalau sudah alihkan saja ke panggilan video, Dik."


Usai itu, Ardhita merapikan rambutnya terlebih dahulu. Kemudian, dia mengenakan hijab untuk menutupi rambutnya. Walau sudah bertunangan, seorang gadis masih bukan mahram untuk kekasihnya. Keduanya dinyatakan sah ketika akad telah terucap.


Beberapa menit, dan sekarang panggilan telepon itu dialihkan ke panggilan video. Ada senyuman Dhito yang terpampang nyata di screen handphone itu.


"Assalamualaikum, Mas," sapa Dhita lagi.


Wajah ayu, hanya saja matanya agak sembab dan juga terlihat bahwa Ardhita sedang menangis di sana. Berusaha untuk tersenyum dan menyapa Dhito.


"Waalaikumsalam, Dik. Akhirnya bisa melihat kamu. Jarak pandang lintas pulau, kini terlihat di layar handphone," balas Dhito.


Yang Dhito tahu bahwa ketika terpapar virus, mereka harus makan makanan sehat dan bernutrisi untuk meningkatkan daya imun. Jadi, Dhito berpikir bahwa mungkin saja Ardhita membatalkan puasa.


"Aku tetap berpuasa, Mas. Maaf, tidak sepenuh hari. Hanya sampai azhar saja," balasnya.


Puasa adalah ibadah. Ardhita berharap dengan terus melanjutkan ibadah, melakukan puasa Ramadhan banyak ridho dari Allah turun atasnya. Terlebih, sakitnya sekarang akan diangkat oleh Allah.


"Kalau tidak kuat jangan dipaksa ya, Dik. Allah juga tahu kalau hamba-Nya sedang sakit. Nanti kita membayar puasanya saja," balas Dhito.


Lantas, Ardhita menganggukkan kepalanya. "Selama aku masih kuat, aku akan tetap berpuasa, Mas," balasnya.


"Jangan lupa Berjemur juga, Dik. Sinar matahari pagi bagus untuk badan."


Sekarang Ardhita tersenyum, sangat senang ada yang memperhatikannya dari jauh. Memang tidak bisa bersua. Tidak bisa berjumpa. Namun, kasih yang hangat itu bisa terasa.

__ADS_1


"Dik, selama ini. Selama berpacaran, kita berdua tak pernah melakukan kontak fisik. Namun, kali ini, ketika kamu sakit, izinkan aku memelukmu ... memelukmu dalam doa. Ya, dengan doa yang aku panjatkan, aku sedang memberikanmu pelukan dan sandaran."


Dhito berbicara dengan serius. Selama tiga tahun berpacaran dengan Ardhita, keduanya menjaga untuk tak saling bersentuhan. Paling hanya berjabat tangan saja. Terkesan kuno, tapi memang keduanya lebih ingin menjaga satu sama lain. Akan menjaga sampai janur kuning melengkung. Sekarang, Dhito mengatakan untuk bisa memeluk Ardhita, bukan pelukan dua tangan yang saling memeluk, tubuh saling menyatu. Selainnya doa. Ya, cara memeluk yang indah adalah melalui doa.


Kala Dhito mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, Ardhita menitikkan air matanya. Sungguh tak mengira bahwa kekasihnya itu bisa berbicara seperti itu. Terharu.


"Jangan pernah takut, Dik. Allah bersama dengan kita. Penyakit datang atas seizin Allah, maka Allah juga yang memberi kesembuhan," kata Dhito lagi.


"Ii ... iya, Mas Dhito. Terima kasih banyak," balas Ardhita.


"Semangat yah. Oh, iya ... aku tadi siang mengirimkan paket untuk kamu. Jadi, nanti kalau sudah datang diterima dan ada beberapa vitamin diminum yah," ucap Dhito.


"Merepotkan Mas Dhito loh," balas Ardhita.


"Untuk kamu, Mas gak pernah repot, Dik. Masa karantinanya 12 hari kan? Nanti berarti akan di tes usab lagi yah?" tanya Dhito.


"Iya hari keempat nanti akan di tes usab lagi. Mas Dhito di Malang selalu jaga kesehatan yah. Pakai masker dan jaga kebersihan jangan sampai tertular seperti aku. Selain itu, usahakan yang keluar rumah satu orang saja. Jaga kebersihan, terlebih ada orang tua yang sudah paruh baya," balas Ardhita.


"Pasti, Dik. Mas saja sehari mandi empat kali. Tiap keluar dari rumah langsung mandi kok," balas Dhito dengan tersenyum.


Ardhita mengangguk. Dia tahu kalau Dhito memang pria yang rapi dan menjaga kebersihan. Namun, Ardhita kemudian batuk-batuk lagi. Sampai Ardhita memegangi dadanya, karena dorongan dari batuk itu.


Uhuk ... Uhuk ...


"Minum dulu, Dik. Ya sudah, kamu istirahat yah. Kita berbalas pesan saja. Ingat yah, bahwa aku akan memelukmu dari jauh dalam doa. Mas sayang kamu, Dik," ucap Dhito.


"Amin. Terima kasih Mas Dhito," jawab Ardhita.


Setidaknya ada bentuk perhatian yang bisa ditunjukkan untuk orang terkasih lalu hanya melalui panggilan video. Saling memandang, saling berkata, walau sesungguhnya itu hanya sekadar pertemuan virtual semata. Namun, jauh dari semua itu Dhito akan selalu memanjatkan doa kepada Allah, caranya untuk memeluk Ardhita dari jauh adalah melalui doa. Amin.

__ADS_1


__ADS_2