Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Puasa Terberat


__ADS_3

Menjalani puasa Ramadhan dengan kondisi tengah bertugas di Rumah Sakit Darurat dan juga mengenakan APD yang cukup berat dan pengap menjadi pengalaman yang membuat puasa ini begitu berat untuk Ardhita. Bagaimana tidak, ketika bertugas dia harus mengenakan alat pelindung kepala berupa hair cap dan head cover steril. Alat pelindung mata dan muka berupa kacamata khusus, face shield atau tameng muka untuk melindung wajah dari partikel berbahaya di udara. Alat pelindung saluran pernapasan berupa masker. Alat pelindung tangan yang tentunya adalah sarung tangan. Alat pelindung kaki yang adalah sepatu boot atau safety shoes. Alat pelindung tubuh atau biasa disebut Hazmat Suit.


Untuk seorang tenaga medis yang bekerja saat itu, benar-benar harus mencover dirinya dengan Baju Hazmat atau biasa disebut dengan Alat Pelindung Diri atau APD. Belum juga dengan pakaian dan hijab yang dikenakan Ardhita, tak jarang gadis itu begitu pulang seluruh baju hingga hijabnya bisa benar-benar basah kuyu karena keringat. Sebab, semua APD ketika dipakai membuat tubuh berat dan panas.


Semua itu masih ditambah dengan cuaca di Natuna yang sangat panas, seolah menjadi rintangan tersendiri untuk Ardhita. Namun, jika sudah memiliki niat dari dalam hati, maka seberat apa pun kondisi yang dijalani akan bisa dilakukan dan dilewati. Tentunya semua atas izin dan anugerah dari Allah semata.


"Dhita, hari ini tugas sampai jam berapa?" tanya rekannya yang bernama Santi.


"Sampai jam 17.00 sore. Menjelang waktu berbuka nanti," balas Dhita.


"Lalu besok shift apa?" tanya Santi lagi.


"Besok shift malam, jadi aku harus berjaga sampai pagi," balas Dhita.


Santi tampak menghela napas. Mengenakan APD, wajah yang ditutup dengan masker, head cap, face shield, dan helm di kepala membuatnya terasa sesak. Bahkan face shield yang dia kenakan sampai berembun.


"Ya Allah, ini benar-benar ibadah puasa yang berat yah. Pakaian APD ini saja berat. Natuna yang sangat panas. Ujian yang tak henti," keluh Santi sekarang.

__ADS_1


Sebenarnya keluhan itu pasti dirasakan oleh semua petugas medis. Terkadang hati dan jantung juga berpacu ketika ada pasien yang menurun kondisinya, terkena pneumonia, hingga saturasi udara yang turun. Dalam kondisi berpuasa sekali pun, mereka juga harus siap dan sedia untuk mengemban tugas mulia ini.


"Suatu saat nanti jika bumi sudah membaik, ini akan menjadi cerita tersendiri untuk ini. Kenangan yang akan selalu kita ingat. Kita berjuang bersama-sama menyelamatkan nyawa sampai ke Pulau Natuna, dan kita mengenakan Baju Hazmat ini," balas Ardhita.


Santi meneteskan air matanya. Namun, dalam kondisi wajah ditutup dengan berbagai alat pelindung diri, jadi kelopak matanya saja yang tampak berembun.


"Benar, di sini semua berjuang yah. Tidak bisa membayangkan. Dunia seperti dijungkir balikkan. Aku kadang berpikir, sampai kapan ini akan berakhir," balasnya.


"Semoga obat yang terbaik. Vaksin akan segera diuji klinis dan bisa menyelamatkan bumi ini," balas Ardhita.


"Kamu kuat banget sih, Ta. Padahal kamu masih muda. Namun, berada di tempat terpencil seperti ini, kamu bisa sabar dan ikhlas menjalani," balas Santi.


Sekarang keduanya duduk melantai, usai bertugas dan pinggang mereka sangat pegal. Namun, masih harus bertahan beberapa jam untuk bisa pulang dan berganti shift dengan yang lain.


"Kangen orang tua enggak, Ta?" tanya Santi kemudian.


"Kalau ditanya kangen, pastinya kangen banget. Namun, bagaimana lagi, San. Sekarang pesawat udara untuk penumpang juga berhenti. Ingin pulang pun tak bisa."

__ADS_1


Ya, menjelang Idul Fitri, pemerintah mengeluarkan peraturan untuk menekan penularan virus covid, seluruh pesawat udara komersial untuk penumpang tidak terbang. Bandara udara juga ditutup. Hanya pesawat kargo saja yang berjalan. Dengan demikian, peluang untuk pulang ke kampung halaman saja benar-benar sudah tertutup.


"Kamu kangen Mama dan Papa kamu enggak, San?" tanya Ardhita sekarang kepada Santi.


Rekannya Santi itu adalah seorang perawat. Dia berasal dari Pekan Baru, Riau. Dengan tidak adanya pesawat udara penumpang yang terbang, maka Santi juga tidak bisa pulang ke Pekan Baru. Seolah mereka terdampar di Pulau Natuna.


"Kangen ... kangen banget sama Mama dan Papa. Namun, sama seperti kamu, Ta. Mau gimana lagi, kita tidak bisa berbuat banyak sekarang," balas Santi.


Di saat Ardhita dan Santi sedang mengobrol bersama, ada petugas lain yang berlarian dan memberitahu ada pasien yang mengalami sesak napas. Sehingga, Ardhita dan Santi juga segera menegakkan punggungnya, berdiri, dan berlari.


"Ada pasien yang sesak napas!"


Tidak bisa tidak untuk berlari. Walau berat, pengap, dan terengah-engah semua perawat pun harus sigap untuk menolong pasien. Di saat seperti inilah, jantung mereka seakan mendapatkan kejut jantung. Berdebar-debar dan was-was menjadi satu. Namun, mereka harus tenang dan tidak menunjukkan kepanikan mereka kepada pasien. Sebab, para petugas medis juga harus menjaga mental pasien.


Tak jarang mereka menitikkan air matanya kala menolong pasien. Ardhita pun berkata pada dirinya sendiri.


"Oh, Tuhan ... tolong selamatkan hamba-Mu. Dalam puasaku, dalam sembah dan sujudku, kiranya Tuhan selamatkan seluruh pasien yang ada di sini. Tuhan menyelamatkan kami semua."

__ADS_1


Puasa itu memang begitu berat untuk Ardhita. Namun, dia akan mengingat dan mengenang, bahwa dalam masa terberat sekali pun, Sang Khalik senantiasa menyeratainya. Menyempurnakan ibadah dan doanya. Amin.


__ADS_2