
Setelah Dhito mengungkapkan niat hatinya kepada kedua orang tuanya. Sekaligus Dhito juga menjelaskan bahwa keinginannya hanya sekadar akad. Oleh sebab itu, keluarga Dhito pun menyanggupi.
Keesokan harinya Bu Lastri berbicara kepada Dhito terlebih dahulu. Walau memang hanya sekadar akad, tapi keluarga Pak Hardi ingin prosesnya itu sedikit lengkap. Dimulai dengan lamaran terlebih dahulu. Setelah itu, akan mengurus surat-surat administrasi ke Kantor Urusan Agama, lantas menunggu waktu untuk akad.
"Dhito, coba kamu bikin list, apa saja yang akan kita berikan untuk Ardhita dan keluarganya sebagai lamaran," ucap Bu Lastri.
"Biasanya apa saja Bu?"
"Lamaran itu ya kamu memberikan seserahan untuk Ardhita. Biasanya ada perhiasan, kain kebaya dan jarik, peralatan mandi, dan sebagainya," jawab Bu Lastri.
Supaya Dhito mendapatkan gambaran, Bu Lastri menunjukkan gambar-gambar dari internet mengenai seserahan itu. Setidaknya supaya Dhito juga mengetahuinya.
__ADS_1
"Nah, kayak gini. Kita lamar dan beri seserahan dulu. Nanti pas akad tinggal ke KUA dan berikan cincin nikah," ucap Bu Lastri.
Dhito yang memang tidak neko-neko pun setuju saja dengan saran Ibunya. Selain itu, Dhito juga tidak tahu-menahu perihal demikian. Yang penting akad dan sah dengan Ardhita.
"Sampaikan kepada keluarganya Ardhita yah. Bapak dan Ibu akan berkunjung untuk melakukan lamaran dulu, sembari nunggu administrasi diurus. Bagaimana pun kan, pendaftaran pernikahan juga membutuhkan waktu," balas Bu Lastri.
Menuruti saran dari Ibunya, Dhito akan memberitahukan kepada keluarga Dhita mengenai kapan kedatangan keluarganya ke rumah mereka. Semakin cepat, semakin baik. Hanya saja, memang boleh cepat, asal tak terburu-buru.
Sepekan kemudian ....
Keluarga Hardi benar-benar menuju ke kediaman Ardhita. Disertai dengan Pak RT dan satu tokoh masyarakat saja sebagai saksi. Begitu juga dengan keluarga Ardhita yang didampingi Pak RT dan juga satu tetangga dekat. Walau mengundang orang lain, protokol kesehatan tetap diterapkan. Mereka yang ada di sana pun, mengenakan masker.
__ADS_1
Keluarga Dhito datang tidak dengan tangan kosong. Seperangkat seserahan pun diberikan untuk Ardhita dan keluarganya. Tanda bahwa mereka bukan hanya sekadar datang, tapi meminta kepada keluarga Pak Harja dengan baik-baik untuk meminta Ardhita untuk dipersunting oleh Dhito.
"Assalamualaikum, Bapak Harja dan keluarga. Langsung saja, tujuan kami ke sini yang pertama tentu untuk bersilaturahmi, kemudian yang kedua, kami datang untuk meminta kepada Bapak Harja dan Ibu untuk mempersunting putrinya yaitu Ardhita untuk putra kami, Dhito," ucap Pak Hardi.
"Terima kasih Bapak Hardi dan keluarga, kami sambut dan terima dengan baik kedatang dan niat baik Bapak Hardi dan keluarga. Mengingat sudah lamanya hubungan Ardhita dan Mas Dhito, dan tentunya memenuhi pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, maka kami pun menerima lamaran ini," balas Pak Harja.
Pak RT sebagai pemimpin di lingkungan tempat tinggal dan tokoh masyarakat juga menyaksikan. Sekarang, hubungan dua keluarga sudah semakin serius. Keduanya pun akan menjadi keluarga juga dengan bersatunya Ardhita dan Dhito.
Tidak menyemaratkan cincin, tapi malam itu, pihak keluarga Dhito memberikan gelang untuk Ardhita. Maka, kedua pasangan menuju halal itu dipersilakan berdiri. Dhito pun mulai memasangkan sebuah gelang emas di tangan Ardhita.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Dhito kala memasang gelang itu.
__ADS_1
Menuju pernikahan pun, Dhito menyebut nama Allah. Tujuannya kiranya Allah yang maha pengasih dan maha penyayang akan selalu menyertai. Niat baiknya didengar oleh Allah.