Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Anosmia


__ADS_3

Tidak terasa sudah tujuh hari, Ardhita menjalani Isolasi Mandiri. Selama itu pula, Dhito selalu setia menemani Ardhita dari jauh. Melalui mengirim pesan, artikel untuk tetap semangat dan menjaga imun, hingga sering menelpon Ardhita. Semua itu Dhito lakukan supaya kekasihnya itu tidak kesepian ketika menjalani isolasi mandiri.


Jika beberapa hari sebelumnya, Ardhita hanya merasa demam dan batuk-batuk. Di hari ketujuh ini, Ardhita merasa kehilangan indera penciuman dan perasanya. Kehilangan indera perasa dan penciuman ini sering kali disebut dengan Anosmia.


Ardhita terasa panik saat bangun di pagi hari, dia tidak bisa menghirup inhaler yang biasa dia hirup untuk melegakan indera penciumannya. Selain itu, saat dia memakan buah Apel sebagai sarapan rasanya benar-benar hambar. Rasa manis, segar, bahkan asam dari buah Apel sama sekali tidak terasa di indera pengecapnya.


"Kenapa tiba-tiba aku tidak bisa merasakan apa-apa ya Tuhan ...


Hidungku bermasalah ...


Lidahku juga ...."


Mulailah Ardhita kembali berderai air matanya. Tidak tahu harus melakukan apa, Ardhita hanya mampu menghirupi inhaler dengan hidungnya berusaha mengembalikan kembali indera penciumannya. Lantaran sekian waktu dia menghirupi inhaler dan tidak ada perubahan sama sekali, Ardhita pun menghubungi Rumah Sakit tempatnya bekerja meminta untuk diperiksa dan menyampaikan keluhannya.


Menjelang siang, barulah pihak Rumah Sakit datang dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Kali ini Ardhita kembali diperiksa, sekaligus tes usap lima hari yang lalu akan dibacakan.


"Selamat siang Dhita, bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Handika yang sekarang juga datang untuk turut memeriksa Ardhita. Beberapa hari sebelumnya, Dokter Handika sudah datang dan sekarang datang lagi.


"Tadi pagi saya bangun, justru indera penciuman dan indera perasa saya hilang. Gak bisa mencium apapun," jawab Ardhita.

__ADS_1


Tenaga kesehatan pun mencatat keluhan kesehatan Ardhita dalam sebuah buku. Tidak lupa, hasil tes usab Ardhita dibacakan kembali. "Hasil tes usab, lima hari yang lalu masih positif ya Mbak ... jadi harus dilanjutkan isolasi mandirinya. Untuk kehilangan indera perasa dan penciuman itu disebut Anosmia. Coba terapkan beberapa langkah berikut: Pertama, bersihkan bagian dalam hidung caranya tidak sulit, bilaslah bagian dalam hidung dengan larutan air garam. Cara ini membantu jika indra penciuman dipengaruhi oleh infeksi atau alergi. Kedua, Pelatihan penciuman melibatkan menghirup berulang-ulang dan sengaja mengendus satu set bau (biasanya lemon, mawar, cengkeh, dan kayu putih). Cara ini dilakukan selama 20 detik, masing-masing setidaknya dua kali sehari. Ketiga, konsumsi Vitamin A," penjelasan dari Dokter Handika tersebut yang dicatat Ardhita dalam fitur catatan di handphonenya.


"Apakah ada gejala lainnya?" lagi tanya Dokter Handika kepada Ardhita.


"Saya agak mual rasanya, mungkin karena indera perasa sedang bermasalah sehingga makanan yang saya telan, rasanya hambar," jawab Ardhita.


"Ya, memang benar ... itu memang terjadi karena Anosmia. Beberapa langkah yang saya sebutkan tersebut bisa dilakukan. Bila gejala ringan ini berubah ke gejala berat, maka Dhita harus mengikuti karantina terpadu," jelas Dokter Handika


Mendengar kata 'karantina terpadu' justru Ardhita merasa harap-harap cemas. Dia berharap bisa sembuh dengan melakukan isolasi mandiri di rumah.


Setelah pengecekkan kesehatan bagi Ardhita selesai, tenaga kesehatan pun berpamitan pulang. Mereka akan kembali lagi untuk melakukan tes usap di hari kesepuluh nanti.


***


Siang ini, orang tua Ardhita pun melakukan panggilan videocall. Mereka sudah kangen dengan Ardhita, tetapi jarak yang sangat jauh membuat mereka tidak bisa bertemu. Hanya bisa melakukan panggilan video jika kangen dengan Ardhita.


"Nduk, piye kabare? (Nak, gimana kabarnya?)" tanya Bu Tini begitu panggilan video telah tersambung dan memperlihatkan wajah Ardhita di layar handphonenya.


Belum sempat Ardhita menjawab, Bu Tini terlebih dahulu telah menangis. Sementara Pak Harjo hanya menepuk-nepuk bahu istrinya yang tidak bisa lagi membendung air matanya saat melakukan panggilan video kepada putri satu-satunya, yaitu Ardhita.

__ADS_1


"Bu, jangan menangis. Ardhita tetap berjuang untuk sembuh," sahut Ardhita.


Gadis itu bahkan menggigit bibir bagian dalamnya, berusaha menahan kesedihan dan air matanya. Ardhita tentu saja rapuh, kangen dengan orang tuanya, kangen bisa berkumpul lagi. Apadaya dia masih harus melanjutkan perjuangan, selain itu masih terikat dengan pekerjaan yang entah sampai kapan.


Mata Ardhita pun memerah karena menahan tangis hingga terasa pedih rasanya. Ardhita tidak ingin orang tuanya semakin kepikiran hingga akhirnya berdampak pada kesehatan mereka.


"Kamu kok kurusan, Ardhita. Gimana pengen apa? Biar Bapak dan Ibu belikan dari sini," tanya Bu Sundari masih dengan terisak.


"Ardhita mboten (tidak - dalam bahasa Jawa) pengen apa-apa, Bu ... Cuma pengen sembuh. Doakan Ardhita nggih, supaya Ardhita cepat sehat, cepat negatif," ucapnya dengan berusaha tersenyum kepada orang tuanya.


"Pasti Bapak dan Ibu berdoa buat kamu. Sama-sama berdoa ya, semoga segera negatif. Segera sehat. Supaya kita bisa berkumpul lagi. Bapak dan Ibu sudah kangen, tapi entah kapan baru bisa bertemu dengan kamu." kali ini Pak Harjo lah yang berbicara kepada Ardhita.


Ardhita nampak menganggukkan kepalanya. "Ardhita tetap berusaha sembuh, Pak ... doakan Ardhita selalu, tanpa doa semuanya sia-sia. Biar Tuhan berbelas kasihan untuk menyembuhkan Ardhita."


"Pasti ... tanpa kamu minta pun, Bapak dan Ibu selalu berdoa buat kamu. Obatnya jangan lupa diminum, olahraga, makan yang bergizi, dan berjemur, Nduk ... semoga gak lama lagi bisa sehat dan negatif hasilnya." lagi Pak Harjo yang mengingatkan Ardhita.


"Amin Pak ...."


Ketika panggilan video telah usai, barulah air mata Ardhita tumpah ruah. Segala perasaan sakit, rindu, hingga kesepian mengalir menjadi satu melalui air matanya. Gadis itu duduk hingga merosot di lantai dengan kedua tangan yang seolah memeluk kedua kakinya. Bukan hanya sakit secara fisik yang dirasakan Ardhita, secara mental dia pun tertekan. Ada hasrat ingin sembuh, kembali sehat, kembali bisa bertemu dengan kedua orang tua, bisa kembali beraktivitas. Akan tetapi, dia hanya bisa mengisolasi dirinya sendiri di dalam kamar. Hari-hari berlalu, pagi menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam. Begitulah hari-hari berganti dan Ardhita hanya bisa mengisolasi dirinya sendiri.

__ADS_1


Ketika waktu dalam satu hari terasa begitu lambat, saat seluruh aktivitas hanya bisa dilakukan di dalam rumah, saat kerinduan tidak terbalas karena harus seorang diri, Ardhita hanya bisa menangis. Sungguh, air matanya tak terbendung lagi. Kendati demikian, Ardhita masih memiliki satu asa yang tidak akan dia biarkan padam. Satu asa yang selalu dia perjuangkan dan harapkan setiap hari, yaitu asa untuk sembuh.


Harapannya tidak hilang. Ardhita mengingat satu per satu orang yang menyayanginya, orang-orang yang selalu berdoa untuknya, dan orang-orang yang selalu mensupport dirinya saat dia benar-benar berada di titik nadirnya. Demi merekalah, Ardhita mau berjuang. Demi merekalah, Ardhita mau bertahan. Demi merekalah, Ardhita tidak akan kehilangan asanya untuk sembuh.


__ADS_2