
Di Natuna, usai bertugas di Rumah Sakit, Ardhita memilih untuk mencuci sekalian baju yang sebelumnya dia kenalkan dan kemudian dia melihat pesan dari kekasihnya yang tinggal di Malang, yaitu Dhito. Tentu Ardhita merasa senang ketika Dhito bisa mendapatkan pekerjaan, walau itu bukan pekerjaan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki pacarnya itu.
Namun, di satu sisi Ardhita juga tahu bahwa tidak mudah untuk mendapat pekerjaan ketika kondisi sedang seperti ini. Setelah membaca pesan dari Dhito, Ardhita kemudian membeli pecel lele tidak jauh dari tempatnya sekarang ini.
Usai itu, Dhita menyiapkan menu berbuka dan akan menghubungi Dhito tentunya. Namun, sebelum melakukan video call, Dhita merapikan lagi hijab yang dia kenakan, supaya tidak memperlihatkan rambutnya. Tampil pantas ketika melakukan panggilan video.
Begitu deru adzan dari menara suar berkumandang, Ardhita kemudian mulai menelpon Dhito terlebih dahulu. Sebab, tadi dia tidak sempat untuk membalas pesan pacarnya itu.
Mas Dhito
Berdering ...
"Halo, assalamualaikum, Mas Dhito," sapa Dhita ketika wajah tampan kekasihnya sudah terlihat di layar handphone miliknya.
"Waalaikumsalam, Dik. Sudah pulang bekerja ya?" tanya Dhito.
"Sudah, Mas. Tadi bersih-bersih dulu, apalagi pakaian dari Rumah Sakit harus langsung dicuci untuk memutus mata rantai penularan Covid," balas Dhita.
Tampak Dhito menganggukkan kepalanya. Sebenarnya begitu rindu, tapi sekarang hanya bisa berjumpa secara virtual. Biasanya dulu bisa ngabuburit bersama di Alun-Alun Kota Malang, sekarang tak bisa bersua secara langsung.
"Selamat ya Mas Dhito, akhirnya sudah kembali dapat pekerjaan. Aku ikut seneng," balas Ardhita.
"Suwun, Dik. Doa dari kamu juga. Oh, iya. Jadi berbuka bersama? Aku ambil makananku dulu ya ke dapur," balasnya.
Dhita di sana tampak menganggukkan kepalanya. Menunggu sampai kekasihnya itu mengambil makanannya. Ada sampai kurang lebih lima menitan, karena Dhito juga pamit dengan Bapak dan Ibunya terlebih dahulu meminta izin untuk makan berbuka di dalam kamar karena ingin buka bersama dengan Dhita.
__ADS_1
"Yuh, kasihan, Nang ... dulu bisa berbuka bersama. Sekarang cuma bisa videocall yah," ucap Bu Lastri kepada putranya itu.
Belum sempat Dhito menjawab, Pak Hardi sudah menjawab terlebih dahulu. "Keadaannya baru seperti ini, Bu. Jadi, ya harus bersabar. Nanti kalau sudah bisa bertemu dan Dhita kembali ke Malang pasti ketemu lagi," balasnya.
"Benar, Pak ... tidak apa-apa. Layaknya tengah berpuasa," balas Dhito.
Walau tidak tahu sampai kapan, tapi Dhito optimis bisa bertemu dengan Ardhita lagi nanti. Entah kapan, yang penting sekarang doa dan harapannya tidak akan lepas. Semoga nanti Dhito juga akan dipertemukan dengan Ardhita.
Setelahnya, Dhito masuk ke dalam kamar. Pemuda itu sudah membawa nasi dengan sayurnya adalah Lodeh Terong dan ada ikan asin. Ada kolak ubi juga yang dibuat oleh Ibunya. Kemudian dia menaruh handphone dengan kamera yang hanya menyorot kepadanya saja.
"Halo, Dik ... maaf yah lama," ucap Dhito.
"Ditunggu kok, Mas," balas Dhita.
"Menu berbuka kamu apa?" tanya Dhito kemudian.
Apa yang disampaikan oleh Ardhita memang benar adanya, karena pilihan makanan di Natuna begitu terbatas. Hanya ada Pecel Lele dan Nasi Goreng saja. Itu saja yang berjualan adalah orang Jawa yang melakukan traunsmigrasi hingga ke Natuna.
"Enggak bosen?" tanya Dhito kemudian.
"Dinikmati saja, Mas. Masih bisa makan masih bersyukur, dan tentunya yang penting sehat," balas Dhita.
Di sana Dhito menganggukkan kepalanya. Kadang memang kita pergi ke suatu tempat dan pilihan makanannya tidak banyak. Di balik semua keterbatasan itu yang penting adalah nikmat sehat. Sebab, nikmat dari Allah itu benar-benar tak terkira.
"Mas Dhito yang pimpin doa berbuka yah," pinta Ardhita sekarang.
__ADS_1
Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menangkupkan kedua tangannya, memimpin doa berbuka puasa. Walau secara virtual, tapi berbuka puasa bisa dilakukan bersama-sama.
“Allahumma laka shumtu wabika amantu wa'ala rizqika afthortu birohmatika yaa arhamarrahimiin. Amin."
Dhita menyahut, "Amin ...."
"Selamat berbuka puasa, Dik," ucap Dhito.
Di sana Arshita menitikkan air matanya. Kangen juga dengan kekasihnya itu. Namun, bagaimana lagi karena tidak bisa bersua. Hanya bisa bertatap mata dengan kamera yang tersedia.
"Selamat berbuka puasa, Mas," balas Ardhita.
Kemudian mulailah Dhito memulai dengan makan takjil terlebih dahulu. Memakan kolak ubinya. Berbuka puasa dengan yang manis.
"Kamu tidak makan takjil?" tanya Dhito kemudian.
Di sana Ardhita menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Seadanya saja," balasnya.
Melihat pacarnya berbuka puasa dengan makanan seadanya benar-benar membuat Dhito sedih sebenarnya. Dhito tahu bahwa dulu Ardhita begitu suka dengan Es Buah atau Cincau yang biasa mereka beli bersama. Sekarang, tanpa meminum sedikit air putih saja. Usai itu, Ardhita juga langsung memakan Pecel Lele Nasi Uduk miliknya.
"Tidak apa-apa, Mas. Dilanjut saja berbukanya," balas Dhita.
"Kok aku yang kasihan yah ... biasanya kita dulu Ngabuburit bersama," balas Dhito.
Ardhita tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Nanti kalau aku sudah pulang ke Malang, bisa ngabuburit bersama lagi."
__ADS_1
Memang ada masa di mana berbuka puasa tidak bisa dilakukan secara tatap muka. Hanya bisa bersua dengan videocall saja. Namun, itu adalah cara untuk mendekatkan yang jauh supaya seakan menjadi dekat. Begitu juga dengan Ardhita dan Dhito sekarang.