
Selang dua pekan berjalan ....
Sekarang, Ardhita memesan taksi yang akan mengantarkannya untuk pulang. Rumah yang sudah dia tinggali sejak masa kecilnya, sudah menunggunya. Sapa, sambutan, dan pelukan hangat dari kedua orang tuanya sudah sangat Ardhita rindukan. Kembali ke rumah, membuat jantung Ardhita berdebar-debar. Satu tahun lebih pergi, dan sekarang sua itu sudah di depan mata.
"Di sini, mbak?" tanya supir itu.
"Iya, benar, Pak. Silakan uangnya," balas Ardhita.
"Makasih Mbak ... sebentar masih ada kembaliannya," balas driver itu.
Akan tetapi, Ardhita menggelengkan kepalanya. "Sudah, untuk Bapak aja. Terima kasih banyak, Pak," balas Ardhita.
Setelahnya driver itu membantu mengeluarkan koper milik Ardhita dari bagasi, kemudian melajukan mobilnya kembali. Berdiri di depan pintu gerbang rumah saja membuat Ardhita sudah menitikkan air mata. Buliran bening itu sampai membasahi masker yang dia kenakan.
Dengan menggendong tas, dan mendorong dua buah koper. Ardhita kemudian membuka pintu gerbang perlahan dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," sapanya.
Pintu terbuka, pasangan paruh baya yang benar-benar terkejut melihat putrinya kembali ke rumah. Sua penuh air mata. Perpisahan yang panjang, akhirnya bisa kembali bertemu.
__ADS_1
"Dhita," sapa Bapak dan Ibunya bersamaan.
"Iya, Dhita pulang Bapak dan Ibu," balasnya.
Hasrat di hati ingin memeluk, tapi juga ragu karena Ardhita dikira masih dari luar pulau. Namun, Ardhita memilih menyapa dengan membawa kedua tangan di depan dada, air matanya berlinang melihat Bapak dan Ibunya.
"Sebaiknya Dhita mandi lagi dulu ya, Bu," balasnya.
"Iya, iya," balas sang Ibu.
Segera masuk ke kamar, Dhita memilih untuk mandi terlebih dahulu. Membersihkan diri, walau dari rumah karantina, dia sudah mandi. Namun, lebih baik untuk mengganti semuanya.
Hiks ....
"Akhirnya kamu pulang, Ta. Setelah sekian lama," ucap Pak Harja yang benar-benar rindu dengan putri tunggalnya.
"Iya, Pak," balas Ardhita.
"Kapan tiba di Malang?" tanya Bu Tini kepada putrinya itu.
__ADS_1
"Dua pekan yang lalu sih, Bu. Namun, Ditha masuk ke Karantina dulu. Maaf Dhita pulang tidak membawa oleh-oleh apa pun. Semua itu karena Dhita di karantina selama dua pekan," balasnya.
"Sudah selama itu di Malang. Kenapa tidak pernah memberikan kabar?" tanya Pak Harja.
Ardhita kemudian menganggukkan kepalanya. "Supaya Bapak dan Ibu tidak kepikiran. Apa Dhita bisa minta tolong melaporkan ke Pak RT kalau Dhita pulang dari Natuna, dan hasil Rapid test sudah negatif, sudah Karantina dan melakukan tes usab selama dua kali juga negatif. Supaya tidak menjadi gunjingan warga," pintanya.
Ardhita meminta demikian karena biasanya warga sekitar akan antipati dengan warga baru yang datang dari jauh. Supaya tidak menimbulkan gunjingan warga dan diduga membawa virus, sebaiknya memang melapor ke RT setempat.
"Iya, Bapak nanti urus. Ada surat keterangannya?" tanya Pak Harja.
"Iya, ada. Dari waktu berangkat dan waktu di rumah karantina ada surat keterangan negatif di tes usab yang dilakukan kok," balas Ardhita.
"Sudah bertemu Dhito?" tanya Bu Tini sekarang.
Ardhita menggelengkan kepalanya. Dia memang belum bertemu Dhito. Jangankan bertemu, memberikan kabar bahwa dia tiba di Malang saja belum. Ardhita lebih memilih pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Dhita pulang ke rumah lebih dahulu. Kangen dengan Bapak dan Ibu. Dhita juga belum memberikan kabar kepada Mas Dhito kok kalau Dhita sudah ada di Malang," balasnya.
Pak Harja menganggukkan kepalanya. Yang dilakukan Dhita dinilai tepat semua itu juga supaya bisa bertemu keluarga, orang tua terlebih dahulu. Begitu haru pertemuan kali ini. Usai satu setengah tahun akhirnya bisa kembali bertemu dengan putrinya.
__ADS_1