Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Berkah Allah yang Terindah


__ADS_3

Melewati hubungan yang dinilai panjang, penuh pasang surut. Sampai akhirnya Ardhita dan Dhito berhasil untuk menuju impian mereka. Ya, mewujudkan pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.


Kebahagiaan pun benar-benar dirasakan oleh Ardhita dan Dhito. Sama seperti sekarang ketika keduanya sama-sama membuka mata. Sosok pertama yang mereka lihat adalah pasangannya. Wajah yang tersenyum cerah, sapaan yang hangat juga.


"Pagi Sayang ...," sapa Dhito pagi itu dengan suaranya yang serak khas orang baru bangun tidur.


"Pagi, Mas Dhito," balas Ardhita lirih.


"Bisa tidur semalam?" tanya Dhito.


Bagaimana pun, ini adalah waktu pertama, kesempatan pertama bagi Ardhita untuk menginap di rumahnya. Biasanya ada beberapa orang yang tidak bisa tidur di tempat yang baru. Apakah Ardhita juga merasakannya?


"Lumayan, Mas. Mungkin sedikit capek dan ada kamu, jadi aku tidak susah tidur," balas Ardhita.

__ADS_1


Kembali pasangan baru itu tersenyum. Jika berkata aneh, pastilah aneh. Namun, tidak ada yang lebih indah selain merasakan semua berkah dari Allah untuk pernikahan mereka. Walau digelar dalam kesederhanaan, tidak ada pesta resepsi, hanya sekadar akad di kantor KUA, tapi kebahagiaan dalam hati itu tidak sirna. Justru meluap-luap rasanya kebahagiaan itu.


"Syukurlah, kita sholat subuh bersama yah?" ajak Dhito sekarang.


Satu hal yang Dhito pahami bahwa menjadi suami, akan membuatnya menjadi seorang imam untuk sang istri dan keturunannya. Oleh karena itu, Dhito pun mengajak istrinya untuk menunaikan sholat subuh bersama.


"Iya, Mas," balas Ardhita.


Keduanya bergantian untuk mengambil wudhu, lantas Dhito menggelar dua sajadah di mana satu sajadah berada sedikit di depan. Lantas, Dhito kini memimpin istrinya untuk menunaikan sholat bersama. Di dalam sujudnya, Dhito sangat bersyukur karena setiap apa yang dia minta sudah didengarkan dan dijabah oleh Allah. Termasuk meminang Ardhita, menjadikan Ardhita sebagai pasangan hidupnya, menjadi permata di dalam hatinya.


Usai menunaikan sholat, Ardhita juga menutup dengan mencium punggung tangan suaminya. Di satu sisi, berbalas dengan Dhito yang mengecup kening Ardhita.


"Alhamdulillah, aku selalu bersyukur kepada Allah. Pagi hari sebelum beraktivitas, kita sholat bersama ya, Sayang. Pernikahan kita juga adalah bakti dan ibadah kepada Allah di sepanjang hayat. Kita ibadah bersama yah," kata Dhito sekarang.

__ADS_1


"Iya, Mas Dhito ... aku mau. Keinginanku dikabulkan Allah, aku ingin kamu mengimamiku dalam sholat. Sebagai gantinya dalam setiap sembah dan sujudku, aku akan selalu berdoa untukmu," balas Ardhita.


Tersentuhlah hati Dhito. Di mana lagi dia akan mendapatkan istri sholehah seperti ini. Istri yang ingin dia pimpin dan imami. Istri yang dalam setiap sembah dan sujudnya akan selalu berdoa untuknya.


"Ramadhan kali ini, selang satu tahun kita sudah bersua, Sayang. Insya'allah, doaku di Ramadhan tahun depan, aku dan kamu sudah menimang baby. Mendapatkan kepercayaan dari Allah untuk memiliki keturunan. Amin," kata Dhito.


"Insya'allah, semoga ya Mas," balas Ardhita.


Setiap doa dan harapan yang kita naikan kepada Allah tidak akan sia-sia. Sama seperti Ardhita dan Dhito yang melewatkan waktu bersua di bulan Ramadhan hingga akhirnya sekarang bisa mencicipi manisnya berumahtangga di bulan Ramadhan yang akan tiba. Harapan keduanya adalah bisa menimang momongan di bulan Ramadhan tahun depan.


Kisah Ramadhan Tanpa Sua berakhir di sini. Kita jumpa lagi dengan kehidupan Ardhita dan Dhito selanjutnya di New Chapter Ramadhan Tahun Depan.


...****************...

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2