
Beberapa hari melakukan isolasi mandiri, kesehatan Ardhita berangsur pulih. Dia benar-benar merasakan menjadi seorang pejuang negatif. Makan bergizi, berjemur, olahraga, hingga meminum vitamin yang membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya.
Usaha yang disertai dengan doa membuat Ardhita perlahan memetik hasil bahwa kesehatannya kian pulih. Anosmia yang dia alami beberapa hari yang lalu juga berangsur pulih.
Dalam usahanya untuk sembuh, Ardhita tidak sendiri. Melainkan ada Dhito yang menemani dari jauh. Selain itu, ada tim medis juga yang menemaninya. Tentunya semua juga berkat Allah yang memberikan kesembuhan. Ketika, tangan benar-benar menyerah, hanya di atas sajadah panjang Ardhita bersujud dan memohon Allah untuk bekerja atasnya. Menunjukkan belas kasihannya.
Sore itu, Ardhita tersenyum ketika mendapati panggilan video dari Dhito. Gadis berhijab itu merapikan hijabnya terlebih dahulu, kemudian barulah dia menggeser ikon telepon berwarna hijau di handphonenya.
"Assalamualaikum Mas Dhito," sapa Ardhita.
"Waalaikumsalam, Dik ... baru ngapain?"
Dua mata saling memandang melalui layar handphone. Sorot kamera yang menyiratkan senyuman berbalut rindu. Namun, sekarang hanya bisa bertemu virtual saja.
"Di rumah saja, isolasi mandiri," balas Dhita.
Dhito tersenyum itu karena Ardhita terlihat lebih sehat. Dibanding beberapa hari yang lalu kala Ardhita baru pertama dinyatakan positif dan juga menderita anosmia. Sekarang, wajah Ardhita juga tidak begitu pucat.
Ardhita menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum. "Iya ... aku merasa lebih baik, lebih sehat. Anosmia yang aku alami juga berangsur pulih. Terima kasih sudah memberikan essential oils yang bisa mengembalikan indera penciumanku, Mas Dhito ... aku berhutang banyak padamu untuk kebaikanmu selama aku sakit."
"Jangan menganggap berhutang, kita harus saling tolong menolong bukan? Sekarang kamu fokus sembuh ya. Semangat pejuang negatif!" ucapnya sembari mengepalkan tangan hingga kepalan tangan tanda semangat itu terlihat oleh Ardhita .
__ADS_1
Dari jauh gadis itu pun tersenyum. "Benar. Aku menjadi pejuang negatif, Mas. Aku tak menyangka akan berada di fase ini. Sebagai terima kasihku, saat aku sembuh Mas Dhito pengen apa? Insyaallah kalau ada berkah, nanti Dhita bisa kirimkan dari Natuna," ucap Ardhita sekarang kepada Dhito. Itu juga karena Ardhita merasa berhutang kepada Dhito yang sudah sangat baik kepadanya.
Namun, sekarang Dhito menggelengkan kepalanya."Tidak usah. Kamu sembuh saja, aku sudah sangat bersyukur, Dik. Semangat terus ya! Aku jadi orang pertama yang bahagia kalau kamu sembuh," balas Dhito.
Perkataan Dhito sangat tulus sampai Ardhita bisa merasakan ketulusan itu. Begitu juga dengan Dhito yang merasa sangat bahagia kalau Ardhita bisa sembuh. Benar-benar dinyatakan negatif.
"Makasih banyak ya, Mas ... terima kasih selama aku isolasi mandiri selalu menemaniku dari jauh," ucap Ardhita.
"Sama-sama, Dik. Aku senang bisa menemanimu. Sama seperti doaku, aku memelukmu dari jauh. Begitu juga sekarang, aku menemani kamu dari jauh. Kalau dekat, aku bisa menemanimu dari dekat walau kita tetap berjarak, tapi mungkin kalau kamu di rumah, aku bisa menemanimu dari luar rumah sembari menelpon," balas Dhito.
Sekarang keduanya sama-sama tersenyum, perasaan rindu yang amat dalam sebenarnya kedua rasakan. Akan tetapi, masih tidak bisa bertemu. Selain itu, seluruh penerbangan juga masih berhenti. Tidak akan bisa pulang kembali ke Malang.
"Ini Mas Dhito sudah pulang kerja yah?" tanya Dhita.
Mendengar Dhito, Ardhita menganggukkan kepalanya. Rupanya memang Dhito baru shift pagi, pantas saja jam segini sudah bisa menelponnya.
"Puasanya lancar Mas? Semangat, Mas ... beberapa hari lagi sudah akan Idul Fitri," balas Ardhita.
"Benar banget. Ramadhan akan segera usai, Dik. Sementara kita masih belum bisa bertemu yah? Kalau bulan Ramadhan tahun depan kita bisa bertemu tidak, Dik?" tanya Dhito sekarang.
Rasanya sedih saja. Sekarang, Ramadhan hampir usai. Ibadah puasa pun juga tidak beberapa hari lagi, sementara di tahun depan juga seakan belum ada tanda ataupun titik terang apakah keduanya bisa bertemu. Harapan akan masa depan masih suram.
__ADS_1
"Kita sama-sama berdoa saja, Mas. Semoga tahun depan di bulan Ramadhan, Allah akan mempertemukan kita lagi," balas Ardhita.
Sekarang, keduanya sama-sama menghela napas. Sebab, jika membicarakan tahun depan dan harapannya seakan tidak ada pengharapan akan kepastian. Semuanya samar. Blur. Tidak terlihat dengan jelas.
"Iya, kalau bisa sih kita bertemu di bulan Ramadhan. Bahkan, aku ingin meminangmu di bulan Ramadhan. Menjalani ibadah puasa bersama sebagai suami dan istri. Kira-kira mungkinkah, Dik?"
"Manusia boleh berencana, tapi sepenuhnya kehendak Allah semata yang terjadi. Kita serahkan rencana kita di tangan Allah, ya Mas. Semoga saja Allah menolong kita dan menyempurnakan semua harapan kita," balas Ardhita.
Sekarang, memang mereka hanya bisa pasrah. Menyerahkan semua doa dan harapan kepada Allah semata. Bukannya hidup tanpa harapan, tanpa kalau terlalu berharap dan Allah tak menghendaki rasanya juga menyesakkan. Oleh karena itu, sekarang memang lebih baik untuk berharap kepada Allah semata.
"Benar, Dik. Aku juga menyerahkan semua kepada Allah. Semoga yang kita minta akan dikabulkan Allah. Yang penting sekarang kamu negatif dulu yah. Kabarin aku kalau nanti hasil tes usabnya negatif yah," balas Dhito.
"Pasti, Mas. Pasti aku akan memberitahu dirimu. Baiklah, aku melanjutkan kegiatan dulu ya, Mas. Persiapan berbuka juga," ucap Ardhita.
"Iya, Dik. Nanti kita bertukar pesan yah. Hati-hati di sana yah. Mas sayang kamu," ucap Dhito.
"Iya, Mas. Makasih," balas Dhita dengan tersenyum malu.
Walau itu hanya panggilan video, tapi ketika Dhito menutup dengan mengungkapkan sayang, pastilah Ardhita tersipu malu. Kendati demikian, Dhita juga belum bisa membalasnya. Terlalu malu untuk menjawab. Setiap kali Dhito mengungkapkan rasa sayang, Dhita hanya membalas dengan berterima kasih.
"Gak mau balas?" tanya Dhito.
__ADS_1
Di sana Ardhita menggeleng, malu untuk menjawab ungkapan sayang dari kekasihnya itu. "Kamu sudah tahu jawabannya," balas Ardhita.
"Baiklah, aku tahu perasaanmu. Segera sembuh yah. Speedy recovery, Pejuang Negatif!"