Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Mendapat Kerjaan Baru


__ADS_3

Dengan memiliki harapan di dalam hati, Dhito menuju ke mini market yang berada dekat dengan rumahnya. Tidak sampai lima menit, Dhito sudah tiba di mini market itu. Memang ada pelamar lainnya, yang Dhito tebak lulusan SMA atau mungkin SMK. Sementara, Dhito yang sudah kuliah dan sudah pernah bekerja, terlihat lebih dewasa. Untung saja, dari segi usia, dia masih masuk kategori untuk melamar.


"Silakan Saudara Dhito," panggilan orang di mini market itu.


Dhito dipersilakan untuk duduk dan mungkin orang pemilik mini market itu menatap Dhito, dan kemudian melihat surat lamaran pekerjaan, dan juga CV (Curicullum Vitae) milik Dhito. Orang itu tertarik bahwa Dhito sudah pernah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya di hotel di kota Makassar.


"Nama lengkapnya siapa?" tanya Pak Diyarto dengan menatap Dhito.


"Dhito Pratama, Bapak," jawabnya dengan sopan.


"Pernah bekerja di perhotelan yah? Sebagai apa?" tanya Pak Diyarto lagi.


"Sebelumnya sebagai staf marketing perhotelan," balas Dhito.


"Kalau di mini market ditempatkan sebagai apa saja, mau?" tanya Pak Diyarto lagi.


"Apa saja, mau ... tidak masalah," balas Dhito.

__ADS_1


"Hanya saja gaji di sini tidak sebesar di kota Makassar Mas Dhito. UMR di kota Malang, lebih rendah dibandingkan dengan kota di Makassar."


Apa yang disampaikan Pak Diyarto memang fakta. UMR di kota Makassar jauh lebih besar daripada di kota Malang. Memang di masa sulit seperti ini istilah kata, bisa mendapatkan gaji layaknya UMR saja sudah bagus. Sebab, faktanya banyak mereka yang kehilangan pekerjaan.


"Baiklah, karena Mas Dhito sudah punya pengalaman. Jadi, kami terima. Untuk posisinya nanti kita tunggu yah. Lusa sudah bisa bekerja, dan ini seragam yang nanti bisa dipakai yah," ucap Pak Diyarto.


Menyelesaikan wawancara kurang lebih lima belas menit, Dhito pun berpamitan untuk pulang. Sekarang, Dhito sudah tiba di rumah. Dia ditanyai oleh Ibunya bagaimana hasil wawancaranya.


"Bagaimana hasilnya, Nang?" tanya Bu Lastri.


Sepenuhnya Dhito juga tahu bahwa pekerjaan yang dia dapat sekarang tidak lepas dari restu dan doa ibu. Dia anak yang sangat percaya bahwa doa dan restu itu memberikan berkah untuknya.


"Tidak apa-apa. Besar atau kecil, banyak atau sedikit itu disyukuri. Semua sudah anugerah dari Tuhan. Nanti kalau kondisinya sudah membaik, bisa bekerja di hotel lagi," balas Bu Lastri.


Sebenarnya memang Dhito hanya mengambil peluang ini sebagai batu loncatan saja. Passionnya untuk bekerja di perhotelan masih ada. Hanya saja, memang sekarang harus mencari ladang lain untuk bertahan di masa pandemi yang rasanya berat dan tidak pernah tahu kapan akan selesainya.


"Dhito mandi dan bersih-bersih dulu, Bu ... abis dari luar soalnya," pamitnya.

__ADS_1


Sekarang, Dhito masuk ke dalam kamarnya. Memilih mandi dulu, harus lebih menjaga kebersihan. Menjaga diri sendiri dan keluarga, agar tidak terpapar virus mematikan itu. Setelahnya, Dhito mengirimkan pesan kepada Ardhita.


[To: Ardhita]


[Dik, Mas habis melamar pekerjaan di mini market dekat rumah.]


[Alhamdulillah diterima.]


[Kamu masih bekerja?]


[Terus semangat yah bekerjanya. Dijaga kesehatannya.]


[Nanti sore kita buka bersama virtual yuk?]


[Mas kangen kamu.]


Ya, Dhito merasa begitu kangen dengan Dhita. Sekarang, dia mengungkapkan ingin berbuka puasa secara virtual dengan pacarnya itu. Walau tanpa sua, tak bertemu, tapi ada cara untuk bisa dekat di hati.

__ADS_1


__ADS_2