
Tiba di kota Malang, tidak serta-merta membuat Dhito bisa langsung beraktivitas atau mencari pekerjaan. Namun, Dhito memilih untuk melakukan karantina pribadi selama 12 hari di rumah. Aktivitasnya hanya bertemu dengan Bapak dan Ibunya saja. Selain itu, Dhito memilih berada di kamar. Sementara adiknya sendiri Diva juga sering berada di dalam kamar. Secara khusus jika sedang kuliah online dengan menggunakan zoom. Oleh karena itu, memang Dhito juga lebih banyak berada di dalam kamar.
Kadang pemuda itu memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan lagi setelah sekarang menjadi pengangguran. Dhito menjadi orang yang merasakan secara langsung menjadi orang yang kehilangan pekerjaannya di masa pandemi ini. Sebagai anak sulung, juga dia tidak enak jika berlama-lama menganggur.
Namun, di satu sisi Dhito sadar diri jika memang ijazah yang dia miliki adalah S1 perhotelan, dan sekarang nyaris peluang untuk bekerja di hotel itu tidak ada. Banyak hotel yang memilih tutup karena tidak mungkin mendapatkan omset selama social distancing. Selain itu, biaya operasional hotel itu sangat besar, sehingga tidak mungkin untuk membiayai semua dan staf ketika tidak ada orang yang akan stay di hotel.
"Ada info loker enggak, Va?" tanya Dhito kepada adiknya itu.
Cara berbicara yang unik. Diva berada di dalam kamar, sementara Dhito berdiri di dekat pintu. Untuk sekadar, berbicara saja juga berjaga jarak.
"Banyak yang menganggur, Mas. Lowongan kerja apa? Kerja di mini market aja, Mas," balas Diva.
Itu juga karena di dekat rumahnya akan dibuka mini market. Sehingga Diva mengatakan demikian. Setidaknya bekerja dulu saja, daripada menjadi pengangguran. Walau ijazah tidak sebanding dengan jenis pekerjaan yang tersedia.
"Habis dari kantoran, masak di mini market sih, Va," balas Dhito.
"Daripada tidak bekerja, Mas. Sebenarnya tidak kuliah, Diva juga pengennya kerja, tapi pasti Bapak dan Ibu pengennya Diva fokus kuliah saja. Terlebih kondisinya baru seperti ini, pasti tidak boleh keluar rumah jauh-jauh," balas Diva.
Dhito menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan Bapak dan Ibunya, Diva yang masih kuliah juga lebih baik kuliah dulu. Tidak usah memikirkan pekerjaan. Toh, Bapak dan Ibu juga masih bekerja. Selain itu, Dhito sendiri juga pastinya akan bekerja. Tidak ingin menganggur terlalu lama.
__ADS_1
"Ya, iya ... kamu kuliah dulu saja. Cepat lulus, biar Bapak dan Ibu juga lebih longgar," balas Dhito.
"Mas Dhito itu kerja keras, katanya mau nikahin Mbak Dhita. Jadi enggak?" canda Diva kepada kakaknya itu.
Dhito menganggukkan kepalanya. "Ya, pastinya lah, Va. Sudah pacaran tiga tahun juga. Sudah lama. Sudah harus memikirkan untuk berumahtangga," balas Dhito.
"Ya makanya itu, kerja serabutan dulu aja, Mas. Biar bisa nikahin Mbak Dhita. Nanti kelamaan yang pacaran rasanya hambar loh, Mas. Apalagi gak pernah bertemu," balas Diva.
Jujur saja mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh adiknya itu membuat Dhito menjadi kepikiran juga. Memang orang sering berkata bahwa lama-lama yang pacaran, rasanya bisa hambar. Selain itu, juga jarak yang jauh membuat hubungan keduanya juga rawan.
"Ya, udah ... lusa aku melamar ke mini market itu dulu, daripada enggak kerja," balas Dhito.
Usai itu, Dhito memilih masuk ke dalam kamarnya, kemudian dia membuat surat lamaran dengan menulisnya langsung dengan tangan. Selain itu, Dhito juga mencari fotokopi ijazahnya, supaya bisa diterima untuk bekerja. Ya, walau tidak sesuai dengan ijazahnya, yang penting bisa mengais Rupiah bisa untuk membantu orang tuanya, dan menabung untuk keinginannya meminang Ardhita.
***
Dua hari kemudian ....
Sekarang Dhito bersiap untuk melamar pekerjaan. Sebagaimana dulu dia melamar pekerjaan di hotel, Dhito pun mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Tidak lupa mengenakan sepatu hitam yang dulu biasa dia kenakan untuk bekerja di hotel. Ada rasa kangen untuk kembali bekerja di hotel. Berpenampilan rapi, dan berada di ruangan AC. Namun, sekarang yang dia hendak lamar hanya pekerjaan di mini market.
__ADS_1
"Tidak pernah ada yang tahu tentang hidup. Mentari selalu bersinar, tapi lika-liku hidup manusia berubah dengan drastis. Dulu, aku pekerja nyaman dengan gaji yang lumayan banyak di Makassar. Siapa sangka, aku bahkan sudah menjadi pengangguran dan sekarang melamar pekerjaan yang jauh berbeda dengan profesiku dulu," ucap Dhito dengan merapikan penampilannya.
Akhirnya pemuda itu menghela napas beberapa kali dan kemudian mengenakan masker terlebih dahulu. Akhirnya, Dhito berangkat untuk melamar pekerjaan.
"Loh, anaknya Ibu kok rapi banget ... mau kemana?" tanya Bu Lastri kepada putranya itu.
"Mau melamar pekerjaan, Bu," balasnya.
"Mau melamar kerja di mana, Dhit?" tanya Bu Lastri lagi.
Dhito pun tersenyum samar. Sayangnya, senyuman itu tertutup karena sekarang dia mengenakan masker. "Itu di mini market depan, Bu. Mau masuk ke perumahan kita," balasnya.
Bu Lastri pun menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya juga kasihan dengan putranya itu. Namun, memang sejak lulus kuliah, Dhito juga berpikiran jauh ke depan. Inginnya segera bekerja, dan tidak menjadi beban orang tuanya. Begitu juga dengan sekarang ini. Dhito juga tidak ingin berlama-lama menganggur. Semakin lama menganggur, semakin orang tuanya akan terbebani.
"Ya, sudah ... tidak apa-apa. Ambil pekerjaan yang ada dulu. Mendapatkan pekerjaan juga baru sulit, jadi yah sudah. Ibu doakan semoga diterima ya, Nang," balasnya.
Terkadang Bu Lastri dan Pak Hardi juga memanggil putranya itu dengan sebutan 'Nang' atau 'Anak Lanang' yang berarti adalah anak laki-laki di dalam bahasa jawa. Orang tua tentu merestui. Padahal, kalau Dhito tidak terburu-buru bekerja pun juga tidak apa-apa.
"Pangestunipun nggih, Bu," balas Dhito yang meminta doa restu dari ibunya.
__ADS_1
"Pasti, Nang ... Bapak dan Ibu selalu merestui."
Usai itu, Dhito berpamitan dengan Ibu dan Bapaknya. Cukup mengendarai sepeda motor saja dan mengikuti wawancara di mini market itu. Semoga saja nanti bisa mendapatkan pekerjaan. Apa pun pekerjaannya tidak masalah yang penting halal. Nanti, kalau bumi sudah membaik, Dhito bisa melamar untuk bekerja di hotel lagi.