
Selang beberapa hari berlalu, di Rumah Sakit Darurat di Ranai, Natuna dilakukan tes usap (swab) massal. Bukan hanya untuk pasien atau TKI yang dikarantina, melainkan untuk tenaga medis juga. Sebab, virus Corona kian menyebar dan terus memunculkan kluster baru. Oleh karena itu, di Natuna dilakukan tes usab secara massal mulai dari Rumah Sakit, sekolah, hingga instansi pemerintah.
Pun begitu juga dengan Ardhita. Dia menjadi salah satu dari banyaknya sampel yang akan dites usap hari ini. Sebenarnya, melakukan tes usab seperti ini juga baru pertama kalinya untuk Ardhita. Tetap saja dia merasa tidak tenang. Semua itu karena dua hari belakangan, Ardhita merasakan badannya merasa meriang dan beberapa kali demam. Namun, dia tidak bisa mengelak, mau tidak mau harus mengikuti tes usap yang dilakukan di hari itu juga. Terlebih untuk tenaga medis memang diprioritaskan untuk dilakukan tes usab, semua itu karena mereka yang selalu bersinggungan dengan para pasien yang terpapar virus ini.
Ada petugas medis lainnya yang sudah mengenakan alat pelindung diri hingga helm, dan bersiap untuk melakukan tes usab. Ardhita dan beberapa rekannya juga deg-degan. Walau dia juga adalah perawat, tapi beda cerita jika mereka sendiri yang akan terpapar virus ini. Terkhusus untuk Ardhita yang merasa khawatir juga. Bagaimana pun dia hanya menusia biasa.
Tes usap ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang tenaga kesehatan. Mereka yang berhak dan berwenang melakukan tes usap ini adalah analisis kesehatan yang bertugas di bawah pengawasan Dokter spesialis Patologi Klinik. Mengapa demikian? Karena proses pengambilan sampelnya memerlukan pengetahuan secara anatomi sampai sejauh mana swab itu masukkan ke dalam hidung, tujuannya untuk memastikan sampelnya benar.
Setelahnya satu per satu perawat maju untuk dilakukan tes usap. Sementara tenaga kesehatan telah bersiap dengan alat swab yang tersegel. Satu orang akan dites dengan menggunakan satu alat tes usap. Tes usap hanya boleh digunakan sekali pakai. Alat tes usap tidak boleh dipakai beberapa kali atau reuseable, begitu dipakai harus dibuang.
Sampai akhirnya, tiba giliran Ardhita. Dia melepas sejenak maskernya karena memang kala itu Ardhita tidak sedang bertugas, sehingga dia tidak mengenakan baju hazmat. Wajahnya mulai menengadah, lalu tenaga medis mulai mengambil sampel dari hidung dan tenggorokkan. Gadis itu memejamkan mata saat alat tes usap masuk dalam hidungnya, setelah dari hidung dilanjutkan dengan pengambilan sampel di tenggorok. Jujur saja Ardhita takut. Ini adalah pengalaman pertama baginya melakukan tes usap, tangannya hingga terasa dingin, keningnya berkeringat saking ketakutannya. Pengalaman pertama yang menakutkan bagi Ardhita. Selain itu bagian hidung dan tenggorokannya pun terasa sakit.
Di masa awal Corona itu, hasil tes usap baru keluar tiga hari setelahnya. Praktis mulai hari ini hingga tiga hari ke depan Ardhita merasa cemas. Menanti hasil tes usap, rasanya membuat Ardhita tidak bisa bernapas lega. Ketakutan dengan hasil yang akan keluar nantinya.
***
Tiga hari kemudian ....
Hari ini hasil tes usap yang dilakukan Rumah Sakit Ranai, Natuna diberikan. Sementara Ardhita merasakan perasaannya tidak enak. Meriangnya belum hilang, selain itu Ardhita mengalami batuk kering. Sehingga, Ardhita merasa semakin was-was saja rasanya.
"Kenapa aku begitu deg-degan begini. Terlebih, aku juga batuk-batuk beberapa hari ini. Ya Tuhan, kenapa aku begitu cemas," gumam Ardhita dalam hatinya sendiri.
Hingga akhirnya, Ardhita dipanggil oleh Dokter Handika untuk ke ruangannya. Dia dipanggil untuk menghadap Dokter itu.
"Selamat siang, Dokter Handika ada apa?" tanya Ardhita.
__ADS_1
"Kamu apa sakit dalam beberapa hari ini?" tanya Dokter Handika.
Ardhita pun menganggukkan kepalanya. "Sedikit kurang sehat, Dokter. Saya mengalami meriang dan batuk kering," balasnya.
"Sayang sekali, Ardhita. Berdasarkan hasil tes usab tiga kali yang lalu, kamu dinyatakan positif. Ya, positif Covid," jelas Dokter Handika.
Seketika Ardhita merasa takut, sedih, dan juga cemas. Mengingat bahayanya virus Covid saat itu, pastilah sekarang dirinya tidak aman. Terlebih tidak ada obatnya. Dokter dan tim medis sejauh ini hanya memberikan obat berdasarkan dengan gejala yang timbul dan dirasakan oleh pasien.
"Demam tidak?" tanya Dokter Handika.
Ardhita kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, Dokter. Hanya saja demamnya naik turun, selain itu batuk kering," jelas Ardhita.
"Nah, setelah mengetahui kamu positif. Jadi, kamu harus diisolasi Ardhita. Bagaimana, kamu mau isolasi di rumah atau di Rumah Sakit ini?" tanya Dokter Handika.
Kini, Ardhita dihadapkan dengan dia pilihan. Isolasi mandiri di rumah dengan nanti ada petugas medis yang datang berkala, atau di rumah sakit di dalam pengawasan perawatan. Jujur saja, dunia Ardhita seketika runtuh. Ada ketakutan yang merantai dirinya sekarang.
"Harus terus melihat kondisi kamu. Perawat dari Rumah Sakit juga bisa visitasi setiap tiga hari. Jadi, keputusan di kamu," jelas Dokter Handika lagi.
Aku positif! Aku sungguh tak mengira, justru diriku sendiri yang terpapar virus ini. Aku yang selalu mengatakan kepada Bapak dan Ibu di rumah untuk menjaga kesehatan, menerapkan protokol hidup sehat, dan mengonsumsi vitamin, kini justru aku sendiri yang terpapar virus ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Tuhan? Aku sangat takut, kenapa engkau mengizinkanku tertimpa sakit ini ya Tuhan. Sungguh, aku sangat takut ... Sembuhkan aku ya Tuhan. Sembuhkanlah aku.... gumam Ardhita dalam hati dengan perasaan yang sukar didefinisikan.
Saat itu belum ada vaksinasi Covid-19, Dokter dan tenaga medis hanya memberikan obat kepada pasien terdasarkan keluhan yang didapatkan. Ketakutan Ardhita pun semakin menjadi-jadi. Terlebih dia melihat sendiri setiap pasien yang dia rawat setiap harinya. Pasien yang menangis, ketakutan, dan kehilangan harapan ketika divonis mengidap Covid. Sekarang, Ardhita merasakannya sendiri.
"Saya ... isolasi sendiri saja di rumah, Dokter," balas Ardhita pada akhirnya.
"Baiklah, Ardhita. Kamu nanti bisa terus menginformasikan kondisi kamu kepada saya. Nanti saya akan terus memantau kondisi kamu," balas Dokter Handika.
__ADS_1
Ardhita hanya bisa menganggukkan kepalanya. Sekarang, Ardhita berpamitan untuk pulang, segera kembali ke rumah dan melakukan isolasi mandiri. Jarak rumah yang ditempati Ardhita juga tidak jauh dari Rumah Sakit. Cukup berjalan kaki saja baginya.
Begitu sudah tiba di rumah, Ardhita memilih mandi dan membersihkan semuanya. Kemudian, dia duduk melosot di lantai. Hatinya sangat gelisah, dan Ardhita memutuskan untuk menelpon ibunya terlebih dahulu. Baginya, lebih baik memberitahu orang tuanya dulu setelahnya barulah Ardhita akan menghubungi Dhito, menurutnya orang tua dan juga Dhito adalah dua orang yang berhak dia beritahu.
Ibu
Berdering
“Halo Ibu, bagaimana kabarnya di Malang?” tanya Ardhita begitu sambungan teleponnya berdering.
"Baik Nduk … bagaimana?" sahut sang ibu dalam panggilan selulernya itu.
Ardhita seketika berusaha merangkai kata-kata untuk menyampaikan kabar yang tidak baik ini kepada orang tuanya.
"Euhm, begini Bu … tiga hari yang lalu di rumah sakit dilakukan tes usap. Hasilnya sudah keluar hari ini." ucap Ardhita dengan berusaha tenang.
"Iya … bagaimana hasilnya?"
Lidah Ardhita seakan kelu, bahkan air matanya mulai berlinang. "Dhita positif, Bu …." ucapnya dengan terisak.
Mendengar kabar sedih Ardhita , handphone yang dipegang sang ibu hingga terjatuh ke lantai.
"Astaghfirullahalazim … kamu positif?" ucap ibunya begitu dia mengambil handphone dan menempelkan handphonenya ke telinganya.
Ardhita pun menganggukkan kepalanya, seolah-olah dia sedang berhadapan dengan Ibunya sekarang. Air matanya pun sudah luruh, membasahi kedua pipinya. "Ii … iya Bu," sahut Dhita dengan lirih. "Bapak dan Ibu di rumah jangan lupa menjaga kesehatan dan kebersihan, selalu memakai masker saat keluar dari rumah. Jangan sampai terpapar virus ini seperti Dhita," ucapnya dengan terisak-isak.
__ADS_1
Usai menelpon Ibunya, Ardhita melosot duduk di lantai. Dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Yang dia lakukan hanyalah menangis, dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dunianya seolah terbalik seketika, cemas, takut, dan khawatir semuanya menjadi satu. Kendati demikian, Ardhita tetap berharap dirinya bisa melawan semua ini. Ada keajaiban, ada mukjizat yang Tuhan berikan baginya.