Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Silaturahmi Virtual


__ADS_3

Usai menelpon Bapak dan Ibunya yang berada di Malang. Rupanya, tidak berselang lama ada panggilan masuk dari tunangannya yaitu Dhito. Maka dari itu, Ardhita pun menggeser ikon tombol hijau di layar handphonenya.


"Assalamualaikum," sapa Dhito dengan tersenyum.


Pemuda tampan berkulit bersih yang sekarang mengenakan kemeja batik lengan pendek itu tampak tersenyum ketika wajah Ardhita sudah terlihat di layar handphone. Sapaan yang disertai senyuman, hingga dari seberang sana Ardhita turut tersenyum.


"Waalaikumsalam, Mas Dhito. Selamat Hari Raya Idul Fitri ya Mas Dhito. Dhita mohon maaf lahir dan batin, kalau banyak salah selama ini," balas Ardhita.


"Selamat Hari Raya Idul Fitri juga ya, Dik. Mas juga minta maaf yah, kalau selama ini banyak salah. Kamu sehat?" tanya Dhito.


"Alhamdulillah sehat, Mas. Tadi sholat Idul fitri di mana?" tanya Ardhita kepada tunangannya itu.


"Sholat Ied di rumah saja berjamaah, Dik. Dipimpin Bapak," jawabnya.


Memang kala itu, seluruh jemaah muslimin dan muslimah diimbau untuk melaksanakan sholat Ied di rumah saja. Kepala keluarga bisa mengimami dan memimpin Sholat dengan keluarga dalam satu rumah. Oleh karena itu, di keluarga Dhito juga Bapak Hardi yang memimpin Sholat Idul Fitri.


"Kamu sholatnya gimana, Dik?" tanya Dhito.


"Sholat sendirian di rumah, Mas. Ini di rumah, nanti shift malam," balas Ardhita.

__ADS_1


Dhito pun menganggukkan kepalanya. Risiko pekerjaan memang seperti itu. Sama seperti Ardhita yang di hari raya idul fitri tetap harus bekerja.


"Jaga kesehatan, Dik. Vitaminnya diminum. Jangan sampai terkena Covid untuk kedua kali loh," balas Dhito.


Di sana Ardhita tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Semoga yah. Kemarin kena itu juga takut, apalagi waktu anosmia. Benar-benar enggak bisa mencium aroma dan bau."


Setelah itu, Dhito keluar dari kamar dan menemui Bapak dan Ibunya yang berada di ruang tamu. Tadi memang Bapak dan Ibunya ketika Dhito menelpon Dhita, ingin turut menyapa. Sehingga sekarang Bapak dan Ibu Hardi menyapa calon menantunya itu.


"Halo, Assalamualaikum Mbak Dhita," sapa Pak Hardi dan Bu Lastri bersamaan.


"Nggih, Waalaikumsalam Bapak dan Ibu. Dhita mengucapkan selamat hari raya idul fitri untuk Bapak dan Ibu. Mohon maaf jika ada kesalahan ya, Bu. Semoga di tahun yang akan datang bisa semakin baik," ucap Dhita.


Mendengar ucapan Pak Hardi, Dhita tersenyum. Wajar memang jika Dhito menjadi galau. Itu juga karena tidak ada kepastian kapan bisa bertemu. Pesawat udara saja masih belum mengudara. Membuat mereka berdua harus berpisah begitu jauh.


"Nggih Bapak. Doanya nggih, Pak," balas Ardhita.


"Pasti Mbak ... Bapak dan Ibu bisanya mendoakan. Makan ketupat lebaran enggak di Natuna sana?" tanya Bu Lastri.


Dhita menggelengkan kepalanya. Di hari raya saja hanya seorang diri, tidak ada yang membuat ketupat lebaran yang khas dengan Opor Ayam.

__ADS_1


"Tidak ada, Ibu. Lagipula, nanti malam Dhita berjaga dinas malam, di sini tidak ada apa-apa," balasnya.


"Oh, kasihan Mbak ... ini Ibu buat ketupat lebaran cuma sedikit. Kan tidak ada saudara yang datang dan silaturahmi, Mbak. Semua silaturahminya dengan panggilan video. Virtual," cerita Bu Lastri.


Biasanya di hari raya, sanak saudara dari Batu, bahkan dari Sidoarjo akan datang ke rumahnya di Malang. Akan tetapi, kala itu benar-benar tidak ada yang datang. Hanya keluarga satu rumah saja. Sehingga, Bu Lastri juga memasak ketupat lebaran, cuma sedikit.


"Harus berada di rumah, Bu. Supaya tidak terpapar virusnya," balas Ardhita.


"Lha iya tow mbak. Sepi lebaran tahun ini," balas Bu Lastri tadi.


Usai mengobrol cukup lama dengan Ardhita, kemudian Bapak dan Ibu Hardi berpamitan.


"Baik Mbak Ditha. Selamat berlebaran yah. Sehat selalu. Bapak dan Ibu selalu mendoakan dari jauh. Semoga nanti bisa segera kembali ke Malang. Insyaallah, lebaran tahun depan sudah bersama Dhito."


"Amin. Doakan ya, Bapak dan Ibu," balas Dhita.


Sebenarnya keduanya memiliki impian, usai lebaran ini pernikahan keduanya akan digelar. Meresmikan hubungan yang sudah tiga tahun terjalin, menapaki jenjang pernikahan yang sudah diimpikan Dhito dan Ardhita. Sayangnya, mereka harus mengurungkan niatnya karena virus yang semakin tidak bisa dikendalikan.


"Ya sudah, Dik. Mau lanjut apa? Intinya sehat-sehat. Lanjut berkirim pesan yah. Sekali lagi selamat Hari raya idul fitri, Dik ... Insyaallah, tahun depan kita sudah bersua yah," balas Dhito.

__ADS_1


Sungguh, di dalam hati pun rasanya juga ingin bertemu. Sayangnya, semesta belum mengizinkannya. Sekarang hanya bisa bersilaturahmi secara virtual. Di tahun yang akan datang, semoga bisa bersilaturahmi secara tatap muka.


__ADS_2