Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Jangan Menyerah!


__ADS_3

Usai menelpon Ibunya, Ardhita melosrot duduk di lantai. Dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Secara mental memang terasa bagaimana rasanya mendapatkan vonis positif Covid.


Bagi siapapun yang dinyatakan terkena penyakit ini rasanya akan ketakutan, demikian juga dengan Ardhita . Bagaimana tidak takut? Setiap hari berita di berbagai televisi nasional didominasi dengan bertambahnya kasus Corona, deru ambulance yang nyaris menghiasi sudut kota dengan intensitas yang lebih sering, banyaknya korban yang berjatuhan satu demi satu, seolah menjadi momok tersendiri bagi manusia termasuk Ardhita.


Juga belum ada obat yang pasti untuk pasien yang terpapar virus ini, ditambah begitu banyaknya korban berjatuhan yang membuat Ardhita semakin tertekan secara mental.


"Ketika hamba menyerahkan diri hamba untuk bertugas hingga ke Natuna, untuk merawat orang banyak, pada akhirnya hamba sendiri yang harus merasakan terpapar virus ini. Tolong hamba, Ya Allah. Tolong hamba ... berikan hamba kesembuhan juga. Walau belum ada obat yang pasti, vaksin pun juga belum ada, hamba berharap mukjizat dari Allah semata."


Dengan hati yang kalut dan air mata yang terus berlinang, Ardhita hanya bisa memohon kepada Allah semata. Bagaimana pun secara medis penyakit ini belum ada obat yang pasti. Vaksin pun belum ditemukan. Sehingga, reaksi pertama yang dilakukan setiap orang yang terpapar Covid-19 pastilah kalut, dan juga ketakutan. Adalah lebih baik untuk memasrahkan diri dan juga mengharap mukjizat dari Allah. Sekarang, bersinggungan dengan manusia jelas tidak bisa karena Ardhita harus melakukan isolasi mandiri. Maka, Ardhita memilih bersandar kepada Sang Khalik, Pemilik Hidupnya.


Ardhita kemudian berusaha menenangkan dirinya dan kemudian menghubungi Dhito juga. Baginya, Dhito juga harus tahu bagaimana kondisinya sekarang. Ketika sudah terpapar Covid apa saja bisa terjadi. Bahkan manusia menjadi hilang pengharapan dan menunggu dalam ketidakpastian. Ardhita juga mengabarkan saja segala kemungkinan yang bisa terjadi.


Mas Dhito


Memanggil ....


Sembari menunggu panggilan itu terhubung. Ardhita berusaha untuk merangkai kata terlebih dahulu. Dia harus memiliki keberanian untuk menyampaikan kepada Dhito tentang kondisinya sekarang.


Beberapa detik berlalu, akhirnya terdengar suara Dhito menyapa. "Halo, Assalamualaikum, Dik," sapa Dhito.


Suara bariton yang khas, dalam setiap kata yang terucap pun terdengar kesopanan di sana. Ardhita sudah berlinang air mata. Hanya saja, dia berusaha untuk menahannya.


"Waalaikumsalam, Mas Dhito ...."


Akan tetapi, Dhito mendengar suara Ardhita yang berbeda. Sontak saja Dhito merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi. Itu juga yang mendorong Dhito untuk kembali bertanya.

__ADS_1


"Kenapa, Dik? Kamu menangis?" tanya Dhito.


"Mas, boleh aku menyampaikan sesuatu kepadamu?" tanya Ardhita sekarang kepada Dhito.


"Ya, tentu saja. Mas akan mendengarkannya," balasnya.


Ardhita memejamkan matanya, setelah itu dia berusaha untuk berkata jujur kepada Dhito.


"Mas, aku Positif ... Covid!"


Air mata Ardhita tak bisa dibendung lagi. Bahkan dia mengakui dirinya positif Covid dengan sesegukan. Bahkan sekarang, Ardhita membawa satu tangannya untuk menutup mulutnya sendiri, satu upaya untuk meredam tangisannya. Rasanya lebih hancur, ketika dia mengakui dirinya positif kepada kekasihnya sendiri.


"Mas tahu kamu menangis, Dik. Tidak apa-apa. Mas akan mendengarkannya. Namun, kamu perlu tahu juga. Jangan takut. Mas selalu ada buat kamu. Walau kita terpisah jarak yang jauh. Kita dekat secara hati bukan?"


Dhito berbicara demikian. Dia tahu bahwa Ardhita takut. Dhito pun sangat terkejut dengan pengakuan Ardhita. Seketika jantungnya berdebar-debar sekarang. Hasrat hati ingin segera menuju ke Natuna, dan mengunjungi Ardhita. Namun, tidak adanya pesawat penumpang yang beroperasi juga membuat Dhito tidak memiliki daya. Namun, Ardhita harus tahu walau jarak yang jauh, dia akan selalu ada untuk Ardhita.


Suara Ardhita tergagap-gagap sekarang. Tadi bersama Ibunya, Ardhita bisa menahan diri. Berusaha tegar. Namun, dengan Dhito dia bisa mengakui bagaimana takutnya dirinya. Bersama Dhito, Ardhita bisa menjadi sosok yang terbuka dengan apa yang dia rasakan sekarang.


"Mas tahu, Dik. Menangislah tidak apa-apa. Lebih baik kamu menangis, menunjukkan rasa takut itu. Namun, setelahnya kamu harus bangkit. Kamu harus melawannya. Begitu kamu ketakutan, sinyal-sinyal ketakutan itu akan dikirim ke otak kamu. Hingga membuat kamu benar-benar takut dan drop. Jangan sampai imun kamu turun ya. Menangislah terlebih dahulu, Dik. Setelah itu, jangan bersedih lagi. Harus bahagia, harus dilawan ya."


Walau hanya melalui panggilan telepon, Dhito berusaha untuk menguatkan Ardhita. Memotivasi bisa dilakukan walau jarak jauh. Kepedulian dan perhatian bisa disalurkan walau tidak bertatap mata. Itu yang coba Dhito lakukan sekarang.


"Dik, kita memiliki Allah yang jauh lebih besar dan hebat. Allah yang maha segala-galanya. Jika, Allah izinkan kamu untuk terpapar virus ini, yakinlah Allah akan izinkan kamu untuk sembuh. Setelahnya, kamu akan memuji dan membesarkan nama Allah untuk mukjizat yang luar biasa. Mas akan mendukung doa dan selalu menyemangati kamu. Jangan takut, kita punya Allah. Allah yang lebih besar dari semuanya, termasuk virus ini," jelas Dhito.


Lagi, Dhito berusaha menenangkan dan memotivasi Ardhita. Dia menguatkan Ardhita. Mengingatkan bahwa Allah lebih berkuasa, mukjizat Allah itu akan terbukti. Namun, hamba pun harus senantiasa mendekat kepada Allah. Memohon belas kasih-Nya.

__ADS_1


"Makasih, Mas. Aku akan berusaha melawan semuanya. Terima kasih sudah mengingatkanku untuk bersandar kepada Allah," balas Ardhita.


Dhito sekarang lebih tenang karena suara Ardhita yang lebih tenang, tidak terdengar isakan tangis lagi. Syukurlah, Dhito menjadi lega jadinya.


"Dik, yang kamu rasakan sekarang apa?" tanya Dhito.


"Beberapa hari ini, badanku meriang, Mas. Terus aku batuk kering saja. Tenggorokanku rasanya kering banget," jawab Ardhita.


"Lalu, sekarang kamu bagaimana, Dik? Isolasi mandiri atau berada di Rumah Sakit?" tanya Dhito.


Dia bertanya seperti itu juga karena tahu bahwa ada gejala covid yang dirasakan Ardhita sekarang. Terlebih jika sudah terkonfirmasi Covid, mereka akan diberikan pilihan melakukan isolasi mandiri atau berada di rumah sakit.


"Aku melakukan isolasi mandiri di rumah singgahku di Natuna, Mas. Gejalanya tergolong ringan. Yang aku takutkan itu karena belum ada obatnya, Mas. Kami pun begitu kepada pasien yang demam, obat yang diberikan paracetamol, begitu juga dengan gejala yang lain,"balas Ardhita.


Dhito di sana menganggukkan kepalanya. Mendengarkan cerita Ardhita yang sudah berpengalaman merawat pasien dengan gejala covid. Namun, apa yang disampaikan Ardhita memang benar karena belum ada obat yang ditemukan.


"Semangat ya, Dik. Jangan menangis. Mas akan selalu menemani kamu. Walau jauh, kita bisa menguatkan satu sama lain. Boleh nanti kamu kirimkan alamat tempat tinggalmu?" tanya Dhito.


"Ya, bisa."


"Jangan menyerah yah. Kamu pasti sembuh, Allah pasti menyembuhkan. Buktinya banyak juga kan, orang yang sembuh setelah isolasi mandiri. Aku akan bersama kamu, walau dari jauh."


Sekarang, Ardhita merasa tenang. Dia seolah mendapatkan kekuatan dari setiap ucapan Dhito. Ironis memang, kepada pasien yang pernah terpapar covid, Dhita bisa merawat mereka, menguatkan mereka. Namun, sekarang ketika dia menghadapi hal ini, justru Ardhita begitu kalut. Diserang ketakutan dan harapannya pupus.


"Makasih Mas. Tadi waktu telepon Ibu, aku berusaha tidak nangis. Aku khawatir Bapak dan Ibu akan kepikiran nanti," ucap Ardhita.

__ADS_1


"Iya, aku tahu nanti Bapak dan Ibu bisa kepikiran. Kalau sama aku, kamu harus jujur ya, Dik. Mas seneng kalau kamu bisa jujur kepada Mas. Jangan menyembunyikan apa pun," balas Dhito.


Ya, Ardhita memang demikian. Akan melibatkan Dhito walau memang jarak jauh. Setidaknya ada orang terkasih yang mensupportnya akan membuatnya lebih semangat dan melawan semuanya. Harus semangat untuk sembuh, itu yang harus Ardhita lakukan sekarang.


__ADS_2