Ramadhan Tanpa Sua

Ramadhan Tanpa Sua
Kondisi Genting


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kondisi bumi justru semakin genting saja. Di Ranai, Natuna saja semakin banyak pasien yang mengalami pneumonia atau peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru yang dapat berisi cairan. Sementara, sampai detik itu obat atau vaksin untuk covid sama sekali belum ditemukan. Sehingga, para perawat, tenaga medis berjibaku dengan pasien yang bertambah parah.


"Pasien di kamar A mengalami batuk dan demam menggigil, tolong tenaga medis untuk membantu," instruksi dari Dokter di sana.


Ardhita dan rekan perawat lainnya bersiap untuk membantu. Hanya bisa memberikan antibiotik terlebih dahulu untuk mengurangi gejala yang mungkin saja muncul. Sembari, perawat juga memberikan semangat untuk setiap pasien di sana. Sebab, tidak dipungkiri bahwa pasien juga mengalami mental yang down ketika didiagnosis positif covid.


"Apakah saya bisa sembuh, Suster?" tanya seorang ibu yang berusia paruh baya.


Sungguh, mendengar itu saja hati Ardhita terharu, dia begitu sedih rasanya. "Ibu jangan berhenti berharap yah. Selalu berdoa. Di atas brankar ini saja, melakukan sholat juga bisa. Insyaallah, nanti Ibu akan sembuh," balas Ardhita.


Tampak ibu itu menangis. Sebab, ketika positif covid tidak hanya fisik yang sakit, tapi juga psikis. Itu sangat terasa. Tak jarang, para perawat sekalian merangkap sebagai konselor untuk memberikan kekuatan dan juga motivasi untuk para pasien. Selain itu, ada Angkatan Laut yang sudah memberikan motivasi untuk pasien. Ketika senam pagi, tak jarang banyak Angkatan Laut yang memimpin senam dan memberikan motivasi untuk para WNI yang dikarantina di Ranai, Natuna.


"Saya masih memiliki anak SMP di rumah, Suster. Duh, kalau saya sampai tidak sembuh bagaimana nasib anak saya itu," ucap ibu itu lagi dengan sesegukan.

__ADS_1


"Jangan putus harapan yah, Bu ... hari depan itu ada. Semangat ya, Ibu," balas Ardhita.


Usai memberikan obat dan juga menenangkan pasien itu. Ardhita kembali ke ruang tunggu. Dia menangis. Hatinya kadang tidak kuat. Banyak penderitaan yang sekarang dia lihat secara langsung.


Temannya Dhita yang harus itu bertugas pun menepuk bahu Ardhita, "Hei, kenapa Ta?" tanya Santi.


"Aku terlalu sedih, San ... banyak duka di sini. Mereka yang dinyatakan positif, kehilangan harapan untuk sembuh. Aku sedih, Santi," balas Ardhita yang sekarang menangis.


"Sabar, Ta ... jangan terlalu emosional," balasnya.


Ardhita menggelengkan kepalanya dengan lemah. Kemudian dia mengusap dadanya perlahan, berahrap bisa lebih tenang. "Kapan hari seperti ini akan berakhir. Sebab, yang seolah putus asa dan kehilangan harapan bukan hanya pasien. Tenaga medis pun sama. Kami hanya manusia bersama. Sama-sama bisa terpapar virus itu kapan saja," balas Ardhita.


Santi menganggukkan kepalanya. "Semangat, Ta. Nanti kalau bumi sudah membaik, kita akan tersenyum karena kita pernah berdiri menjadi garda terdepan di situasi genting ini. Sekarang, kita lakukan tugas kita sebaik mungkin. Menolong pasien yang ada di sini. Juga, kita memotivasi mereka untuk sembuh. Yuk, semangat yuk! Kita pasti bisa," balas Santi.

__ADS_1


Di satu sisi Santi tahu bahwa para tenaga medis ada kalanya juga di dalam kondisi mental yang lemah. Para tenaga medis yang berjibaku dengan pasien setiap harinya juga kadang melihat hari yang suram. Akan tetapi, ini adalah kondisi yang harus dihadapi. Terus bertugas untuk kemanusiaan.


"Baiklah ... makasih, Santi," balas Dhita.


"Sama-sama. Semangat yah!"


Ardhita menenangkan dirinya, dan kemudian kembali menjalankan tugas untuk mengantarkan makan siang untuk para pasien. Sebab, mayoritas pasien tidak berpuasa. Hanya yang tidak berpuasa saja yang diberikan jatah makan siang. Sementara pasien yang berpuasa dan tanpa gejala juga akan dipisahkan tempat karantinanya. Sehingga nanti Ardhita bersama tenaga medis yang lain akan memisahkan para pasien. Yang tidak bergejala, bergejala ringan, dan gejala berat akan disendirikan. Sehingga diharapkan bahwa mereka yang tidak bergejala tidak tertular dengan pasien yang bergejala berat.


"Alhamdulillah, selesai Santi untuk hari ini," ucap Ardhita.


Santi menganggukkan kepalanya. "Iya, tinggal siap-siap untuk nanti berbuka. Pulang saja, Ta. Kamu juga butuh istirahat. Besok masih berjaga malam."


Ardhita menganggukkan kepalanya. Kemudian melepaskan baju hazmat yang dia kenakan dan dibuang secara langsung. Sebab APD itu hanya sekali saja. Esok ketika bertugas akan berganti dengan yang baru. Secara psikis Dhita juga sangat lemah, banyak menangis hari ini karena banyak pasien yang melemah. Dia hanya bisa berdoa dalam hati semoga saja semuanya akan segera membaik.

__ADS_1


__ADS_2