Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Tentang Pangeran Erlangga


__ADS_3

Mata Zoya berkaca kaca memandang punggung pangeran Erlangga yang baru saja menghilang dibalik semak. Rasanya benar benar sedih harus berpisah secepat ini. Beberapa hari terdampar ditempat ini yang menjadi penghibur adalah pangeran itu. Meski dia datar dan jarang mengajak Zoya bercerita jika tidak dimulai, tapi Zoya senang berada didekatnya. Ada rasa nyaman dan aman yang tiada terkira yang dirasakan oleh Zoya.


Dan sekarang, pangeran Erlangga sudah pergi, dia sudah harus kembali keistana kerajaan. Zoya pasti akan benar benar kesepian. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkan pangeran itu saat dia pergi. Pangeran Erlangga hanya berkata jika Zoya jangan sampai menyusahkan bibi Nor. Menyebalkan memang.


Padahal Zoya sudah berharap ada sebuah salam perpisahan yang cukup manis untuk bisa dia kenang, tapi nyatanya, semua hanya tinggal angan angan Zoya saja.


"Ana, ayo masuk" perkataan bibi Nor membuat Zoya terkesiap kaget. Dia menoleh pada bibi Nor yang nampak tersenyum memandang Zoya.


"Suatu hari nanti pangeran Erlangga pasti akan datang lagi" ucap bibi Nor. Zoya mencoba memaksakan senyum nya dan mengangguk. Bibi Nor tidak tahu saja jika dia sudah takut karena pasti akan merasa kesepian nantinya.


"Apa dia memang sering mengunjungi bibi?" tanya Zoya seraya ikut masuk kedalam rumah menyusul bibi Nor.


"Ya, jika dia sedang keluar istana dia pasti menyempatkan diri untuk datang kesini. Meminta dibuatkan ikan bakar dengan kuah pedas" jawab bibi Nor seraya tertawa kecil.


"Ya, bahkan aku mulai bosan melihat nya hanya memakan itu selama beberapa hari ini" ucap Zoya yang kini duduk ditempat tidur nya dan memandangi bibi Nor yang juga duduk dan menumbuk dedaunan untuk dia jadikan obat.


"Itu memang kesukaan nya Ana" jawab bibi Nor.


"Apa bibi sudah lama mengenal pangeran Erlangga?" tanya Zoya.


"Sudah cukup lama, sejak ratu terdahulu masih hidup. Mungkin pangeran Erlangga masih berusia lima belas tahun" jawab bibi Nor


"Jadi ibunya sudah meninggal?" gumam Zoya.


"Ya, yang sekarang menjabat adalah ibu sambung pangeran Erlangga." jawab bibi Nor.


"Dulu saat keluar istana, raja Kertangga pernah diserang oleh sekelompok orang yang mungkin musuh kerajaan. Mereka cukup kewalahan karena adanya penyerangan secara tiba tiba. Pangeran Erlangga ikut waktu itu. Dan saat itu, dia sempat terpisah dengan rombongan raja. Namun anak lelaki ku berhasil menyelamatkan nya dan membawanya kerumah. Sejak saat itu, setiap kali dia keluar istana dia selalu datang mengunjungi kami" ungkap bibi Nor.


"Bibi pasti merasa kesepian sendiri dirumah ini, apalagi setelah anak lelaki bibi menjadi prajurit" ucap Zoya.


"Apa kau tahu itu dari pangeran?" tanya bibi Nor. Zoya langsung tertawa canggung mendengar nya.

__ADS_1


"Iya bibi.. Dia bercerita sedikit tentang mu. Oh bukan, aku yang bertanya lebih dulu. Maafkan aku jika aku sudah lancang" kata Zoya


Bibi Nor tersenyum dan menggeleng.


"Tidak apa apa. Dulu aku memang kesepian. Tapi sekarang sudah tidak lagi karena sudah ada kau yang menemaniku. Rasa rinduku pada putriku yang menghilang menjadi sedikit terobati" ungkap bibi Nor. Namun Zoya dapat melihat jika bibi Nor terlihat begitu sedih.


"Bibi... kau wanita yang kuat" ucap Zoya. Dia jadi ingat ibunya sekarang. Apa mereka mencari nya sekarang, sudah beberapa hari Zoya tidak pulang. Semoga saja ibunya tidak khawatir.


"Ya, aku memang harus kuat. Nyawaku masih harus aku urus. Apalagi aku masih mempunyai putraku, juga pangeran Erlangga, dan sekarang kau Ana. Aku cukup bahagia" ucap bibi Nor.


Zoya langsung beranjak dan duduk disebelah bibi Nor.


"Ahh bibi... terimakasih banyak sudah mau menampungku disini. Aku berhutang budi padamu. Tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tidak menemukan mu disini" ungkap Zoya seraya menahan air mata yang ingin sekali keluar.


Bibi Nor juga merasa terharu mendapatkan perlakuan Zoya yang seperti ini. Dia seperti merasa bertemu dengan putri nya yang telah beberapa bulan ini menghilang.


"Ana, jangan sungkan begitu. Kau bisa menganggapku sebagai ibu mu sekarang" ujar bibi Nor


"Tentu saja" jawab bibi Nor seraya mengusap kepala Zoya.


Zoya benar benar bahagia dengan semua ini. Dia memang kehilangan dunia nya, tapi Tuhan masih begitu baik mengirimkan bibi Nor yang menjaganya selama disini.


"Jika kau merindukan pangeran Erlangga, kapan kapan aku akan mengantarmu ke tempat pelatihan para prajurit. Sesekali pangeran Erlangga ada disana untuk melatih para prajurit baru bersama para jenderal" ucap bibi Nor.


"Woah... berarti aku masih bisa melihatnya tanpa menunggu dia yang datang kemari?" tanya Zoya begitu bahagia. Bibi Nor sampai tertawa melihat kebahagiaan Zoya. Sepertinya pesona pangeran tangguh itu sudah jatuh pada Zoya.


"Tentu saja, dua hari lagi kita kesana. Sekaligus aku ingin melihat putraku. Sudah cukup lama aku tidak melihatnya berlatih" ujar bibi Nor.


"Baiklah bibi, aku juga ingin melihat pangeran Erlangga" jawab Zoya tanpa sadar.


"Apa kau menyukai nya?" tanya bibi Nor dengan senyum lucu nya.

__ADS_1


Zoya terkesiap, namun sedetik kemudian dia menggeleng dengan cepat.


"Tidak tidak... maksudku, aku ingin melihatnya berlatih. Begitu... hehe" jawab Zoya dengan tawa canggung nya.


"Baiklah" jawab bibi Nor dengan pelan. Meski dia tahu jika Zoya memang menyukai pangeran Erlangga, rona merah diwajahnya tidak bisa berbohong. Ya, siapa yang tidak akan menyukai lelaki seperti seorang pangeran Erlangga. Tampan, gagah dan tentunya seorang putra mahkota.


"Tapi bibi..." tiba tiba Zoya menghentikan bibi Nor yang sedang menumbuk obatnya


"Ada apa?" tanya bibi Nor.


"Kau bilang jika orang orang melihat ku, aku akan ditangkap. Bagaimana nanti jika aku ditangkap oleh mereka?" tanya Zoya begitu ragu. Rasa takut dengan kejadian semalam membuat Zoya menjadi was was.


"Tidak apa apa, kau bisa menutupi dirimu besok. Lagipula disana tempat ramai dan berada didekat kerajaan. Kita akan aman, apalagi jika pangeran Erlangga ada disana" jawab bibi Nor


"Benarkah?" tanya Zoya sedikit ragu


Bibi Nor mengangguk yakin dan tersenyum kembali.


"Kau pasti belum tahu apapun tentang pangeran Erlangga bukan" ucap bibi Nor lagi, Dan Zoya dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Pangeran Erlangga adalah putra mahkota yang akan menggantikan kedudukan raja Kertangga nantinya. Dia juga dikenal sebagai jenderal perang yang kuat. Diberbagai kesempatan dia sering ikut berperang untuk membela kerajaan ini. Pangeran Erlangga tidak seperti pangeran yang lain yang betah berada didalam istana. Sesekali dia pasti keluar untuk mengawasi rakyat rakyatnya" ungkap bibi Nor. Matanya terlihat berbinar ketika menceritakan tentang pangeran Erlangga. Sepertinya dia memang begitu mengagumi sosok itu.


"Apa dia sering terluka seperti kemarin?" tanya Zoya


"Ya, bahkan disekujur tubuhnya sudah penuh bekas luka. Namun dia tidak jera untuk keluar istana. Akhir akhir ini dia sudah jarang keluar, karena raja melarang nya. Jika tidak, entah berapa kali aku mengobati luka lukanya" jawab bibi Nor seraya tertawa kecil.


"Apa dia tidak sayang nyawa" gerutu Zoya.


"Nyawanya hanya untuk rakyat nya Ana. Itulah yang selalu dia terapkan" jawab bibi Nor.


Zoya benar benar tidak habis fikir mendengar cerita ini. Terasa seperti sebuah dongeng yang entah harus dipercaya atau tidak. Tapi beberapa hari bersama pangeran Erlangga, semua memang harus dia terima.

__ADS_1


Dan lagi, sehebat apa sebenarnya pangeran itu??? Benarkah dia setangguh yang diceritakan oleh bibi Nor????


__ADS_2