Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Dayang Putri Cendana


__ADS_3

Zoya benar benar terperangah takjub melihat pemandangan yang sangat memanjakan matanya ini. Dimana didepan sana berdiri para pangeran dan seorang putri. Tiga pangeran yang tampak begitu gagah dengan jubah dan pakaian pangeran mereka. Dan juga putri yang begitu anggun dan sangat mempesona dengan pakaian yang seperti gaun dan melebar terseret.


Ya ampun....


Apa ini mimpi.


Zoya benar benar ada didalam kerjaan yang sesungguhnya. Dia sungguh tidak percaya dengan penglihatan nya kali ini. Apalagi dengan satu objek yang menurutnya paling menonjol diantara yang lain.


Pria berwajah datar dengan pakaian serba putih nya dengan jubah yang tergerai dibelakang tubuh.


Pangeran Erlangga...


Dia berdiri dengan begitu gagah didepan sana...


Sungguh, hati Zoya semakin tidak menentu melihat pangeran Erlangga yang seperti ini. Tapi dia harus ingat dengan perkataan bibi Nor tadi. Jika dia harus bisa menjaga sikap saat berada didalam istana. Tidak boleh memandang pangeran Erlangga terlalu lama, apalagi sampai menegurnya. Itu hal yang sangat dilarang.


Ya, Zoya mengerti sekarang.


Status nya dan pangeran Erlangga sangat jauh berbeda. Bahkan sekarang pangeran Erlangga juga seperti tidak mengenali nya. Dia hanya memandang sekilas pada Zoya, dan itu juga dilakukan nya pada calon dayang yang lain.


Ya ampun...


miris sekali.


Zoya rasa ini adalah kali pertama nya dia merasakan perasaan yang begitu dalam pada seseorang. Mungkin bisa dikatakan sebagai perasaan cinta. Tapi kenyataan nya, Zoya sudah harus menelan pil pahit sebelum meneguk manis nya jalinan kasih.


Jatuh cinta pada seorang pangeran. Pangeran berkuda putih. Bukan kah itu yang selalu ada didalam mimpinya dulu???


Dan sekarang, semua menjadi kenyataan. Dan apakah mungkin Zoya hanya bisa mengagumi nya dari jauh saja, dan tidak akan pernah bisa menggapai nya.


Tentu saja..


Pangeran Erlangga adalah seorang putra mahkota.


Lihatlah betapa mempesona nya dia didepan sana.

__ADS_1


Zoya memang harus sadar diri.


"Selamat untuk para dayang baru yang telah diterima masuk kedalam istana. Semoga kalian bisa melayani kami dengan baik. Tentunya harus dengan batasan dan juga keahlian kalian masing masing" ucapan pangeran Erlangga langsung membuyarkan lamunan Zoya.


"Baik pangeran" jawab mereka semua seraya membungkukkan sedikit tubuh mereka. Dan mau tidak mau Zoya juga langsung mengikutinya.


Para dayang kemudian dibagi dan berbaris rapi dihadapan tuan baru mereka masing masing.


Zoya melirik sinis pada dayang dayang pangeran Erlangga yang tampak begitu bahagia. Benar benar menyebalkan. Seharusnya dia yang ada disana, agar bisa selalu bersama dengan pangeran Erlangga. Sialan memang.


Zoya membungkukkan tubuhnya dihadapan putri Cendana. Mungkin seumuran Zoya. Masih muda dan tentu nya sangat cantik. Putri ini juga kelihatan nya baik, dia murah senyum, tidak seperti dengan ketiga pangeran itu, yang berwajah datar.


Apalagi pangeran Adipati. Entah kenapa sejak tadi Zoya merasa jika pangeran Adipati sering kali mencuri curi pandang kearahnya.


"Siapa namamu?" pertanyaan putri Cendana kembali membuat Zoya terkesiap. Itupun karena sentuhan dilengan nya dari Gendis.


"Ah,,, saya Ana tuan putri" jawab Zoya dengan cepat.


Putri Cendana mengangguk dan kembali bertanya pada yang lain.


Zoya melirik sekilas pada pangeran Erlangga yang lebih dulu keluar dari aula itu bersama dengan para dayang nya. Wajah nya datar, bahkan sedikitpun tidak ada memandang Zoya sama sekali. Menyebalkan sekali memang dia. Padahal Zoya sangat ingin sekali bertemu dengan nya. Apalagi melihat senyum pangeran Erlangga yang sangat langka itu. Tapi sekarang, sepertinya mereka memang dibatasi oleh tembok yang sangat tinggi.


Apa Zoya hanya bisa mengagumi nya dari jauh saja???


Yah, sepertinya begitu.


Zoya dan Gendis akhirnya mengikuti langkah kaki putri Cendana. Tuan putri itu membawa kelima dayang nya menuju kamarnya yang ada digedung utama istana.


Dimana disana Zoya baru bisa melihat jika banyak peralatan dan hiasan hiasan yang terbuat dari emas dan perunggu. Sangat indah dan begitu estetik. Ternyata begini bentuk kerajaan yang sesungguhnya.


Apalagi saat mereka masuk kedalam kamar putri Cendana. Kamarnya begitu besar dan luas. Bahkan Zoya sampai berdecak kagum dan matanya terus mengedar tanpa canggung.


Memang jika dibandingkan dengan kamar nya didunia nyata, tidak seindah dan secanggih itu. Tapi ini benar benar estetik dan mewah. Tempat tidur nya tertutup seperti tirai putih yang mengelilinginya. Ada ruang untuk bersantai, dan juga ada beberapa ruang yang Zoya tidak tahu apa yang ada didalam nya.


Pajangan berupa guci guci antik dan juga lukisan lukisan unik didalam sini. Dan juga beberapa rangkai bunga mawar segar dibeberapa sudut dinding.

__ADS_1


Putri Cendana duduk disebuah kursi, sementara Zoya dan yang lain nya berdiri dihadapan nya dengan kepala yang tertunduk.


"Aku senang bisa bertemu dengan kalian. Aku harap kalian bisa menjadi dayang sekaligus temanku disini" ujar putri Cendana. Suara nya benar benar lembut dan mendayu. Zoya bahkan sampai ingin tidur ketika mendengar dia berbicara.


"Kamu ... Ana" panggil putri Cendana, yang kembali membuat Zoya terkesiap. Bukankah dia sedang meledek tuan putri ini tadi. Apa dia tahu?


"Saya putri" jawab Zoya dengan cepat.


"Kamu cukup cantik, dan yang paling cantik diantara semua dayang yang melamar. Kulitmu putih dan bersih. Apa kau memang mempunyai ramuan khusus untuk merawat tubuhmu?" tanya putri Cendana.


Zoya mengernyit. Dia bingung harus menjawab apa. Bahkan sudah sangat lama tinggal disini, Zoya tidak pernah lagi menyentuh kulitnya untuk perawatan. Lagi pula mau beli dimana dia handbody atau skincare disini???


"Kenapa kau tak menjawab nya Ana?" tanya putri Cendana lagi.


Zoya benar benar bingung.


"Saya... saya hanya rajin makan sayur dan berolahraga putri. Tidak ada perawatan khusus" jawab Zoya seraya memejamkan matanya sekilas. Jawaban macam apa itu. Astaga, bahkan itu adalah kebalikan dari dirinya selama ini.


Putri Cendana tersenyum dan langsung mengangguk.


"Jika begitu, mulai saat ini tugas mu adalah merawat kulit dan tubuhku. Aku ingin memiliki kulit yang lembut dan sehat sepertimu" ujar putri Cendana.


Matilah, harus apa Zoya sekarang.


"Tapi bukankah kulit tuan putri sudah sangat indah?" tanya Zoya seraya memandangi tubuh putri Cendana. Sementara Gendis dan yang lainnya hanya diam dan tidak berbunyi.


"Aku merasa kulitku tidak selembut kulitmu" jawab putri Cendana.


"Apa kau keberatan Ana?" tanya putri Cendana lagi.


"Tidak putri, tentu saja tidak" jawab Zoya dengan cepat.


Ribet sekali memang. Seharus nya sebelum kesini dia menghitamkan dulu kulitnya dibawah terik matahari. Jika sudah begini dia jadi susah sendiri. Kulit yang selalu dia banggakan malah menjadi bumerang baginya sekarang.


Astaga... menyebalkan!

__ADS_1


__ADS_2