
Zoya dan bibi Nor memandang pangeran Erlangga yang nampak terdiam setelah bibi Nor mengatakan sesuatu tentang kerajaan itu. Entah apa yang terjadi sebenarnya, dan entah ada hubungan apa kerajaan itu dengan kasus penculikan gadis gadis desa disini.
Zoya benar benar bingung sekarang.
Dan lagi, sepertinya pangeran Erlangga pernah berbicara sesuatu tentang kerajaan itu.
Kerajaan Prahari Kahyangan.
Ya, bukankah dulu pangeran Erlangga pernah sempat berfikir Zoya berasal dari kerajaan itu karena paras Zoya yang berbeda.
Mungkinkah kerajaan itu dalang dibalik semua kejahatan di kerajaan Ranula ini???
Brak
tiba tiba suara sesuatu diluar sana membuat mereka yang sedang menikmati makan malam terkesiap kaget.
Pangeran Erlangga dengan sigap menarik pedang nya dan berlari mengintip keluar. Begitu pula dengan Zoya yang juga menarik pedang nya.
"Mereka datang" ucap pangeran Erlangga
"Mereka siapa?" tanya Zoya
"Kelompok orang orang yang menyerang kita sore tadi" jawab pangeran Erlangga.
Zoya langsung panik mendengar itu, apalagi bibi Nor.
"Bawa bibi Nor pergi dari sini Ana" ujar pangeran Erlangga.
"Tapi bagaimana dengan mu?" tanya Zoya
"Aku bisa mengatasi mereka. Cepatlah , bawa bibi Nor pergi kearah sungai, tunggu aku disana" ujar pangeran Erlangga yang langsung keluar dan meninggalkan Zoya.
Zoya bingung, namun dengan cepat dia langsung menarik tangan bibi Nor dan keluar dari pintu belakang.
Namun sialnya, ada dua orang yang sudah mengepung mereka.
"Bibi mundur" pinta Zoya.
Bibi Nor langsung masuk kembali dan memandang Zoya dengan cemas.
Apalagi saat melihat Zoya yang mulai menebaskan pedang nya pada dua orang itu.
Zoya sudah tidak takut lagi, saat ini adrenalin nya berpacu, apalagi yang dia lawan adalah orang orang jahat yang ingin mencelakai mereka.
Anggap saja dia sedang bermain game namun ini adalah nyata.
Ayo Zoya... kau pasti bisa. Tolong pangeran mu!!! batin Zoya dalam hati.
Hingga dengan cepat dia menebaskan pedang nya, dan ..
srakkk
satu orang langsung terkapar, dan tidak lama satu orang kembali terjatuh.
Oke... sepertinya dia memang seorang psikopat sekarang.
"Bibi... ayo cepat"
__ADS_1
Zoya kembali menarik tangan bibi Nor. Mereka berlari dengan cepat ke arah selatan dimana sungai yang dimaksud oleh pangeran Erlangga berada. Cukup banyak orang orang yang ingin mencelakai pangeran Erlangga. Dan sebenarnya Zoya begitu ragu untuk meninggalkan pangeran itu sendirian.
Tapi bibi Nor, Zoya juga harus melindungi wanita baik ini.
"Ana, ada yang mengejar kita" ucap bibi Nor yang kembali panik saat dua orang lelaki kembali mengejar mereka.
Namun belum sempat mendekat, dari jauh pangeran Erlangga melempar dua buah paku ke orang itu, hingga mereka langsung jatuh terkapar diatas tanah.
"Ayo bibi, lebih cepat" seru Zoya.
Dia terus menarik tangan bibi Nor dengan nafas yang tersengal. Antara takut, cemas dan panik. Semua bercampur menjadi satu. Apalagi saat ini hutan sudah begitu gelap. Mereka hanya ditemani oleh cahaya bulan yang untungnya malam itu cerah. Hingga mereka tidak akan menabrak batang pohon. Meski sesekali Zoya hampir terjatuh karena tersandung akar pohon dan semak yang menjulur.
Sesekali Zoya menoleh kebelakang, disaat dia yakin tidak ada lagi yang mengikuti mereka, dia langsung memelankan langkah nya.
"Kita bersembunyi dimana" gumam Zoya.
"Disana Ana, disana ada gua kecil. Kita disana saja. Pangeran Erlangga pasti tahu tempat itu hingga kita diminta untuk berlari kesini" ujar bibi Nor
Zoya langsung mengangguk dengan cepat.
"Baiklah bibi, ayo" jawab Zoya.
Dan kali ini bibi Nor yang berjalan duluan. Zoya mengikuti dibelakang, seraya matanya yang memandang kesegala arah dengan begitu waspada.
Jantung Zoya bergemuruh hebat, nafas nya benar benar memburu. Dia panik dan cemas, kenapa dia bisa berada dikawasan seperti ini.
Gelap, ditengah hutan, dan dikejar oleh penjahat. Ya Tuhan... Zoya masih tidak habis fikir
Dia takut, sangat takut. Tapi untuk mengeluh dan larut dalam ketakutan, itu tidak akan berguna. Zoya harus menjadi gadis tangguh mulai sekarang. Seperti yang di harapkan oleh pangeran Erlangga.
Zoya dan bibi Nor berjalan menyusuri pinggiran sungai. Hari yang gelap membuat mereka kesulitan berjalan. Sungguh demi apapun Zoya benar benar takut jika dia akan menginjak ular. Mereka sama sekali tidak membawa penerangan apapun.
"Ayo Ana, kita masuk" ajak bibi Nor.
Zoya menggigit bibirnya saat melihat sebuah gua kecil didepan mereka, gua yang dialiri oleh air sungai yang tidak dalam. Mungkin jika sedang musim penghujan gua ini pasti terendam air. Sekarang saja sudah banyak air yang masuk.
"Apa tidak apa apa bibi? aku takut ada hewan buas didalam sana" tanya Zoya begitu ngerih
"Itu lebih baik dari pada di bunuh oleh orang orang itu" jawab bibi Nor yang langsung masuk duluan kedalam sana.
Zoya menggeleng pasrah.
Binatang buas, ataupun orang orang itu, bukankah sama saja????
Dan akhirnya mau tidak mau Zoya ikut masuk kedalam gua kecil itu. Meski kecil, tapi cukup menyeramkan.
Suara tapak kaki yang berjalan diatas air begitu menggema, membuat suasana begitu mencekam didalam sini.
"Aah" Zoya berteriak tertahan saat tiba tiba beberapa kelelawar terbang dan hampir menyambar wajahnya.
"Hei... jangan berisik Ana. Tidak apa apa, ayo kemari" ajak bibi Nor.
Keadaan semakin gelap gulita. Membuat Zoya benar benar takut.
"Bibi... ini gelap sekali" ucap Zoya, suaranya bahkan sudah bergetar hebat.
"Julurkan tangan mu" pinta bibi Nor.
__ADS_1
Zoya langsung menjulurkan tangan nya dan meraba raba dimana bibi Nor berada. Dan dapat..
"Bibi... ini bibi kan?" tanya Zoya.
"Ya, ini aku. Disini ada batu. Kita duduk saja disini. Dan jangan bersuara" pinta bibi Nor
Zoya hanya mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan kasar itu. Dia duduk dengan begitu hati hati meski terlihat kepayahan. Dengan cepat Zoya langsung merangkul lengan bibi Nor.
"Kau takut?" tanya bibi Nor sedikit berbisik.
"Ini gelap sekali, aku benar benar takut bibi" jawab Zoya yang juga ikut berbisik.
Bibi Nor mengusap pundak Zoya dengan lembut.
"Tidak apa apa, setidaknya kita aman disini. Pangeran Erlangga pasti akan menyusul kita" ujar bibi Nor.
Zoya mengangguk pelan. Dia memilih memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya dibahu bibi Nor.
Tempat ini benar benar gelap gulita. Bahkan dia sama sekali tidak bisa memandang dirinya sendiri atau apapun yang ada disini.
Hanya suara gemericik air dan suara suara binatang liar yang terdengar.
Benar benar mengerihkan. Entah bagaimana jika ada ular atau binatang liar yang menggigit mereka. Zoya benar benar takut untuk membayangkan hal itu.
Cukup lama mereka menunggu pangeran Erlangga. Mungkin jika ada jam, sudah hampir satu jam Zoya berada disini. Memeluk bibi Nor tanpa lepas.
Apa pangeran Erlangga baik baik saja?
Kenapa dia tidak datang dan menyusul mereka disini.
Hingga tiba tiba disaat hati dan fikiran yang mulai gelisah, sebuah cahaya mulai terlihat dari dalam gua itu.
Zoya dan bibi Nor langsung menoleh ke pintu gua.
"Bibi, apakah itu pangeran?" bisik Zoya.
"Entahlah Ana, semoga saja itu memang pangeran Erlangga" jawab bibi Nor.
Zoya yang takut langsung menarik pedang yang sejak tadi terselip di pinggangnya.
Semakin dekat cahaya itu, semakin terlihat siapa yang membawa obor.
Benar, dari bayangan nya saja sudah terlihat siapa orang itu.
"Pangeran" gumam Zoya yang langsung bisa bernafas dengan lega.
Pangeran Erlangga berjalan mendekat kearah Zoya, namun Zoya mengernyit saat melihat darah yang menetes dilengan nya.
"Pangeran kau terluka" ucap Zoya yang langsung melompat turun dan mendekat kearah pangeran Erlangga.
"Tidak apa apa. Jangan berisik. Mereka masih mencari kita disekitar sini" jawab pangeran Erlangga.
"Sebaiknya kita berjalan lebih kedalam" ajak pangeran Erlangga.
Zoya dan bibi Nor hanya mengangguk pasrah dan segera mengikuti pangeran itu membawa mereka.
Zoya masih khawatir melihat luka sayatan dilengan kekar itu. Namun sama sekali pangeran Erlangga tidak berekspresi sedikitpun.
__ADS_1
Benar benar hebat