
Juna menoleh kesana kemari mencari dimana pangeran tertua dikerajaan itu. Juna benar benar tidak terima kenapa pangeran Erlangga memenjarakan Ana. Apa ada sesuatu hal fatal yang telah dilakukan oleh gadis itu? Atau pangeran Erlangga melakukan ini karena suatu hal?
Tapi apa???
Gedung prajurit telah terlewati, dan kini dia telah tiba digedung para bangsawan. Beruntungnya Juna karena dia di angkat oleh jenderal untuk berjaga jaga didalam istana, hingga dia mempunyai wewenang untuk bertemu siapa saja yang ada disana. Kecuali raja Kertangga tentunya.
Sesekali Juna membungkuk hormat ketika berpapasan dengan beberapa petinggi kerjaan dan juga jenderal yang lewat. Dan disaat sudah berjalan semakin mendekat kearah kamar pangeran Erlangga, Juna bisa melihat jika pangeran gagah itu ternyata sudah bersiap siap untuk pergi menuju aula, dimana pertarungan mereka akan dimulai.
Begitu pula dengan pangeran Adipati. Pangeran berwajah datar itu terlihat kesal pagi ini. Kenapa dengan nya? ah tapi kan memang begitu pembawaan nya setiap hari. Lagi pula, Juna tidak menyukai pangeran Adipati. Apalagi dengan desas desus yang didengar oleh Yuda, jika pangeran Adipati juga terlibat dalam penculikan gadis gadis desa, termasuk Rengganis, adik perempuan nya.
Juna berdiri, di samping gedung bangsawan, dia tidak berani mendekat, pasalnya Pangeran Erlangga berjalan dengan pangeran Adipati. Namun tiba tiba, mata Juna mengernyit, karena pangeran Erlangga yang malah memutar haluan. Dan membiarkan adik nya berjalan lebih dulu.
Mau kemana dia?
Karena penasaran, akhirnya Juna berjalan mengikuti pangeran Erlangga. Kenapa dia berjalan menuju perpustakaan kerajaan? ada apa disana?
Benar benar aneh, tapi sudah lah. Juna harus mencari tahu kenapa Ana bisa dikurung. Juna benar benar tidak ingin Ana ketakutan didalam penjara bawah tanah. Karena dia tahu bagaimana menyeramkan nya penjara itu.
"Untuk apa menemui ku?"
deg
Tiba tiba suara seseorang membuat Juna terkesiap. Dia yang sedang mencari pangeran Erlangga malah dibuat terkejut, karena ternyata pangeran Erlangga berdiri disamping pintu dan tidak terlihat oleh nya.
Juna langsung membungkukkan tubuhnya dihadapan pangeran Erlangga.
"Hormat saya pangeran" sapa Juna
Pangeran Erlangga hanya diam dan memandang Juna dengan wajah tenang nya seperti biasa. Pembawaan nya yang penuh wibawa ini benar benar membuat Juna sedikit bergetar.
"Saya kemari ingin bertanya, kenapa pangeran memenjarakan Ana?" tanya Juna
Pangeran Erlangga hanya mengerjapkan matanya sekilas.
"Bukankah kalian cukup dekat. Dan saya dengar hanya karena dia yang bertemu dengan pangeran Adipati. Pangeran, pangeran pasti tahu jika Ana adalah gadis yang penakut dan cengeng. Saya takut dia depresi didalam sana. Dan bagaimana jika ibu tahu, dia pasti begitu bersedih" ucap Juna panjang lebar.
__ADS_1
"Aku punya alasan tersendiri " jawab pangeran Erlangga
Juna memandang pangeran Erlangga dengan bingung. Sudah dia duga, tapi alasan apa?
"Kau jangan khawatir, Ana tidak berada didalam penjara bawah tanah, melainkan ada di..... kamar ibunda ratu" jawaban pangeran Erlangga membuat Juna terkesiap kaget.
"Pengeran, kau serius?" tanya Juna
Pangeran Erlangga mengangguk pelan.
"Dan tugasmu sekarang, pergi antarkan makanan pada nya. Masuk lewat jendela belakang, jendela disana tidak aku kunci. Katakan pada Ana, jika aku akan terlambat datang menjemputnya " ujar pangeran Erlangga.
"Tapi jika ketahuan oleh prajurit atau para jenderal yang lewat bagaimana pangeran?" tanya Juna. Dia benar benar khawatir. Dia tahu jika kamar ibunda ratu sudah tidak pernah lagi terjamah oleh siapapun. Tapi jika Ana ditempatkan disana dan ada yang mencarinya diruang bawah tanah bagaimana? apa pangeran Erlangga sudah memikirkan hal itu.
"Disana adalah tempat yang paling aman. Kau bisa pergi sekarang, selagi para jenderal dan prajurit pergi keaula" ujar pangeran Erlangga. Dan setelah mengatakan itu, dia langsung pergi meninggalkan Juna yang masih terpaku memandang kepergian nya.
Dan tanpa berkata apapun lagi, Juna langsung berjalan menuju dapur kerajaan untuk mengambil makanan. Dan setelah itu, dia langsung pergi menuju kamar ibunda ratu. Jalan melewati jalan belakang gedung bangsawan. Semoga saja tidak ada yang melihatnya.
Entah apa maksud pangeran Erlangga mengurung Ana. Dan lagi, dia akan menjemput Ana nanti.
Sialan...
Sepertinya begitu.
Sedangkan didalam kamar ibunda ratu.
Zoya baru saja terbangun dari tidurnya. Bahkan dia baru saja duduk dan merenggangkan otot otot tubuhnya yang kaku. Rasanya benar benar nyaman, karena tempat tidur ini yang cukup empuk. Tidak seperti tempat tidur miliknya yang keras. Meskipun bau debu dan juga sedikit gerah, namun Zoya bisa tidur dengan nyaman. Tubuhnya yang lelah, kini bisa segar kembali.
Mata Zoya memandang kesegala arah, dan baru bisa dia lihat jelas penampakan kamar ibunda ratu yang ternyata memang cukup megah dan luas. Bahkan dikamar ini dipenuhi oleh barang barang antik. Namun beberapa nya tertutupi oleh kain. Mungkin agar tidak berdebu.
Zoya tersenyum saat melihat sebuah cermin besar yang ada didalam kamar itu. Dia langsung beranjak dan berjalan kearah cermin itu. Meski sudah sedikit usang, namun masih bisa memandang wajah nya dengan jelas. Bahkan cermin ini lebih besar dari pada cermin milik Putri Cendana.
Zoya meraba wajahnya yang masih sembab. Rambutnya yang masih acak acakan karena baru bangun tidur.
Ya ampun...
__ADS_1
Kenapa dia sudah jelek sekali sekarang. Jika ini dizaman nya pasti dia sudah seperti gembel yang ada dijalanan itu. Tapi kenapa Gendis dan orang orang yang ada disini malah mengatakan dia cantik.
Cantik dari mana?
Zoya menghela nafas seraya membenarkan sanggulan rambutnya.
Entah sampai kapan dia akan berada dizaman ini. Apa selama nya dia tidak akan bisa kembali lagi? Apa dia akan terjebak dizaman ini dan meninggalkan zaman dimana dia menjadi Zoya???
Entahlah jika mengingat itu, Zoya benar benar gundah. Dia merindukan orang tuanya, kakaknya, sahabatnya dan semuanya yang ada disana.
Tapi disini, Zoya menemukan cintanya, dia juga menemukan teman baik, menemukan kakak, menemukan ibu. Rasanya semua yang ada dizaman nya, juga ada disini. Meski berbeda orang.
Huh... Zoya bingung sekali. Dia tidak tahu harus apa. Ingin kembali namun Zoya tidak tahu bagaimana caranya. Dan akhirnya, dia hanya bisa menjalankan perannya sebagai Ana dengan baik disini.
Kltak...
Tiba tiba sebuah suara mengejutkan Zoya. Dia langsung menoleh kesana dan kemari. Apa tadi itu??
grieettt
Lagi, suara seperti sebuah pintu yang terbuka membuat Zoya semakin takut. Apa ada yang masuk. Tapi pintu kamar masih tertutup rapat.
Zoya kembali menoleh kearah jendela dibagian belakang. Dia mengernyit saat melihat jendela itu terbuka perlahan.
Zoya langsung mundur dan tersandar dimeja rias ibunda ratu. Memandang takut kearah jendela. Karena bisa dia lihat ada tangan yang menjamah kedalam.
Zoya memandang kesana dan kemari melihat sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melawan, saat tahu itu bukan tangan pangeran nya.
Sebuah tongkat kayu, tidak tahu tongkat apa. Zoya langsung meraih nya dan membawa nya mendekat kearah jendela.
Dia ingin melayangkan pukulan kearah orang itu yang ingin masuk kedalam, namun tiba tiba, suara orang itu membuat Zoya terkejut.
"Hei... Ana .. ini aku" ucap orang itu.
"Kak Juna" gumam Zoya
__ADS_1