Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Masuk Kedalam Istana


__ADS_3

Setelah menunggu sekitar satu jam lebih, akhirnya kini tiba giliran Zoya dan juga Gendis. Hanya bertemu selama lebih satu jam namun mereka sudah cepat akrab. Dan Zoya sangat senang karena kini dia sudah memiliki teman baru dizaman ini. Semoga saja mereka bisa diterima bersama sama.


"Hei...kalian berdua kemari" panggil dua orang prajurit.


Zoya dan Gendis saling pandang dan tersenyum. Mereka langsung berjalan kedepan dan mendekati barisan orang orang dari kerajaan. Zoya memandang orang orang itu dengan takjub, ternyata dia memang berada dizaman kerajaan yang sesungguhnya. Apalagi melihat mereka semua yang memakai pakaian dayang dan prajuit. Ya, ternyata wanita wanita ini adalah kepala dayang istana yang akan menentukan calon dayang baru. Gendis yang memberi tahu Zoya tadi.


Jika Zoya memandang orang orang itu dengan pandangan aneh dan takjub, namun mereka memandang Zoya dengan pandangan kagum. Jelas saja, karena kecantikan Zoya yang berbeda dari yang lain. Kulit Zoya yang bersih dan putih dan juga rai nya yang berbeda, sungguh membuat mereka semakin memandang Zoya dengan lekat.


"Siapa namamu?" tanya salah seorang prajurit.


"Aku... Ana" jawab Zoya


"Apa keahlian mu?" tanya prajurit itu lagi.


Zoya terdiam, dia nampak menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Apa yang harus Zoya jawab, jika dia saja tidak memiliki keahlian apapun. Apa Zoya harus bilang jika dia bisa bermain pedang. Tapi inikan melamar sebagai dayang, bukan sebagai prajurit. Astaga.


"Dia bisa memijat" sahut Gendis tiba tiba. Zoya langsung memandang kearah Gendis dengan mata yang melebar.


"Pijatan nya sangat enak. Kalian tidak usah risau" kata Gendis lagi. Dia sama sekali tidak melihat kearah Zoya yang nampak terperangah.


Memijat???


Yang benar saja??


Sejak kapan?


Astaga... Gendis memang ada ada saja.


Para prajurit itu langsung memandang kearah kepalaya dayang. Dan aneh nya mereka malah mengangguk dan masih terus memperhatikan Zoya.


"Kau diterima, kau bisa masuk dari sebelah kanan" ujar salah seorang dayang yang nampak sudah dewasa namun masih terlihat sangat cantik.


Dayang nya saja sudah cantik begini, bagaimana dengan ratu nya ya??? Waah Zoya benar benar tidak sabar. Meski dia juga heran, kenapa semudah ini dia diterima.


"Hei... kenapa kau malah melamun. Sana masuk" ujar prajurit itu.


Zoya terkesiap dan segera mengangguk, namun dia memandang Gendis terlebih dahulu.


"Masuk lah, tunggu aku didalam" bisik Gendis.


Zoya tersenyum dan langsung mengangguk. Dia sangat berharap jika Gendis akan diterima juga.


Setelah itu, Zoya langsung berjalan kedalam ruangan sebelah kanan. Ruangan itu nampak sepi, tapi dia terus saja berjalan mengikuti langkah seorang prajurit yang mengantar nya.


Cukup seram saat melewati lorong ini, kenapa jauh sekali, bahkan hanya diterangi oleh beberapa obor saja disepanjang jalan nya. Zoya tidak akan di bawa ke tempat aneh kan, atau prajurit ini tidak akan melakukan hal cabul padanya kan???


Jika iya, maka Zoya akan menebas kepalanya.

__ADS_1


Eh... tapi dia kan tidak membawa pedang, Astaga...


Namun tidak lama kemudian, Zoya tersenyum saat lorong panjang yang gelap itu sudah berakhir. Dan saat dia keluar, senyum Zoya langsung mengembang sempurna saat melihat penampakan dalam istana.


Tidak seperti yang ada dalam bayangan nya, dimana istana yang dipenuhi oleh barang barang mewah dan berkilauan. Namun istana ini hanya berdiri dengan susunan tembok dari bata merah yang tidak diplaster. Mungkin zaman ini memang belum ada semen.


Tapi meskipun begitu, gedung gedung yang berdiri nampak begitu kokoh dan megah. Besar dan menjulang tinggi. Apalagi dibangunan utama, istana tempat peraduan raja dan ratu serta para putra dan putri mereka.


Saat ini, Zoya dibawa kesebuah tempat, seperti aula. Dimana para gadis cantik seusianya sudah berbaris rapi disana. Dan memang hanya gadis gadis cantik saja yang berkumpul ditempat ini. Diantara seratus orang lebih yang melamar namun yang diterima hanya dua puluh orang saja. Lalu kemana sisanya??? Apa dipulangkan lagi, sepertinya begitu.


Dan lagi...


Apa istana ini hanya menerima gadis cantik saja???


Entah lah.


"Cepat berbaris disana" ujar prajurit itu.


Zoya langsung mengangguk dan berdiri dibarisan paling belakang. Entah beruntung atau tidak dia melamar menjadi dayang di istana ini. Bukankah dayang itu seperti pembantu??? Tapi kenapa para gadis ini nampak begitu bahagia???


Zoya mengedarkan pandangan matanya kesegala sudut aula, dan sesekali menoleh kebelakang, kearah pintu masuk. Berharap Gendis juga diterima agar dia bisa ada teman disini. Apalagi melihat pandangan gadis gadis ini yang terlihat sangat sombong. Benar benar menyebalkan.


Namun senyum Zoya langsung melebar saat melihat Gendis datang dan berlari kearahnya.


"Gendis, aku menunggu mu sejak tadi" gumam Zoya seraya merangkul lengan Gendis


"Semoga kita satu pekerjaan ya" tambah nya lagi.


"Harus, aku sangat berharap" jawab Zoya.


"Hei.. diam dan dengarkan kepala dayang membagi tugas" ucap salah seorang gadis.


Gendis dan Zoya langsung terdiam dan mencebikkan bibir mereka.


"Memang tugas dayang itu apa?" bisik Zoya.


"Kau tidak tahu?" tanya Gendis


Dan Zoya langsung mengangguk dengan cepat.


"Aku dengar, dua puluh orang dayang yang terpilih akan dijadikan dayang para pangeran dan putri" bisik Gendis.


"Waahhh benarkah?" tanya Zoya tak percaya.


"Ya, dayang lama mereka sudah dipindah tugaskan untuk menjadi dayang ratu dan raja" jawab Gendis.


Zoya langsung tersenyum penuh harap. Dia benar benar berharap jika dia akan menjadi dayang pangeran Erlangga. Tidak masalah menjadi pembantu dan babu, asal bersama dengan pangeran Erlangga yang tampan itu.

__ADS_1


"Hei... kenapa kau malah tersenyum seperti itu?" tanya Gendis dengan aneh.


"Tidak ada, aku hanya berharap kita bisa menjadi dayang pangeran" bisik Zoya.


"Kau berharap pangeran siapa. Pangeran Erlangga atau pangeran Adipati? Mereka adalah dua orang pangeran yang paling berpengaruh dikerajaan ini" ungkap Gendis.


"Tentu saja pangeran Erlangga" bisik Zoya dengan senyum simpul nya.


"Kau menyukai nya kan" tuding Gendis.


"Siapa yang tidak suka pada seorang pangeran. Kau ini aneh sekali" ucap Zoya seraya menahan tawa.


"Yah,, tapi aku lebih suka dengan pangeran Habib, dia lebih muda dan lebih lembut" gumam Gendis.


"Ada banyak pangeran ya disini?" tanya Zoya.


"Tidak, hanya ada tiga pangeran dan satu putri" jawab Gendis


Zoya hanya mengangguk saja. Mau siapapun itu, yang ada didalam didalam fikiran nya tetap lah pangeran Erlangga.


Mereka terdiam saat kepala dayang datang dan mulai membagikan tugas untuk mereka masing masing. Zoya sangat berharap jika dia yang akan menjadi dayang untuk pangeran Erlangga. Namun dia harus kecewa, saat ternyata dia malah menjadi dayang untuk Putri Cendana. Putri satu satunya yang dimiliki oleh kerajaan Ranula. Namun dia harus bahagia, karena ternyata dia dan Gendis satu pekerjaan.


"Aku benar benar senang Ana. Meski kita tidak bisa menjadi dayang pangeran, tapi kita masih bisa melihat mereka setiap hari" ungkap Gendis.


"Waaahh benarkah?" tanya Zoya yang kembali sumringah setelah tadi dia nampak lesu.


Gendis langsung mengangguk dan tersenyum lucu dengan wajah bahagia Zoya.


"Para pangeran dan tuan Putri.... tiba didalam aula" seruan seorang prajurit membuat semua orang yang ada disana langsung terdiam.


Tidak ada yang berani memandang kesana kemari saat keempat orang aset kerajaan itu mulai memasuki istana.


"Selamat datang pangeran dan tuan putri" ucap mereka semua seraya membungkukkan tubuh mereka.


Zoya yang bingung juga langsung menundukkan tubuhnya. Bahkan dia belum sempat melihat pangeran Erlangga. Tapi mereka sudah harus seperti ini. Menyebalkan sekali memang.


"Berdirilah dan tegakkan tubuh kalian" ucap salah satu pangeran.


Zoya tersenyum tipis... dia tahu siapa pemilik suara berat ini. Suara yang terdengar begitu berwibawa.


Mereka semua langsung menegakkan tubuh mereka dan memandang kedepan, dimana para pangeran dan putri berdiri dengan pesona mereka masing masing.


deg


deg


deg

__ADS_1


Begitu menegakkan kepala, mata sendu Zoya langsung menerima tatapan dari pangeran Erlangga yang berdiri dengan begitu gagah didepan sana.


__ADS_2