
Zoya merengek tidak karuan saat bibi Nor hendak kepasar pagi itu. Dia benar benar tidak ingin ditinggal sendirian dirumah. Apalagi ditengah hutan seperti ini. Zoya benar benar takut dan ngerih. Bagaimana jika perompak yang suka menangkap dan menculik gadis gadis desa itu kembali lagi. Sungguh, Zoya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib nya. Pangeran Erlangga sudah tidak ada, dan siapa yang akan menolong nya nanti ???
Dan akhirnya, dengan sangat terpaksa bibi Nor mengizinkan Zoya untuk ikut. Betapa bahagia nya Zoya. Akhirnya setelah lebih dari seminggu dia akan keluar dan melihat manusia manusia lain nya. Bahkan senyum terus mengembang diwajah cantiknya yang tertutup dengan selendang merah dari bibi Nor. Ya, bibi Nor meminta Zoya untuk menutupi wajahnya yang cantik. Karena bibi Nor tidak ingin kecantikan Zoya menarik perhatian orang orang dipasar. Apalagi jika sampai terlihat oleh orang orang bangsawan dan kasta atas.
Sepanjang jalan Zoya sesekali berbincang dengan bibi Nor. Untung saja bibi Nor begitu baik mau menjawab semua pertanyaan nya. Ditangan nya Zoya membawa setengah karung kecil ubi tanah sedangkan bibi Nor membawa pisang dan sayuran yang lain.
"Apa masih jauh bibi?" tanya Zoya
"Tidak, setelah jalan kecil ini kita akan sampai dipasar" jawab bibi Nor.
"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana bentuk pasar dan orang orang disini" gumam Zoya tanpa sadar.
Bibi Nor tertawa kecil mendengar itu. Bukan sekali dua kali Zoya selalu berkata yang aneh. Bahkan bibi Nor sudah terbiasa mendengar nya.
"Kau memang aneh Ana. Memang nya seperti apa bentuk pasar yang ada dalam fikiran mu itu?" tanya bibi Nor.
Dan kini gantian Zoya yang tertawa. Terkadang mulutnya ini memang tidak bisa dikondisikan.
Ah, Zoya tidak pernah membayangkan jika akan berada dan berpetualang di zaman ini. Dia benar benar sudah merindukan zaman nya. Orang tuanya dan juga sahabatnya. Semoga saja Zoya bisa menemukan cara untuk kembali kerumah nya nanti.
Dan tidak lama kemudian, setelah hampir satu jam lebih berjalan mereka akhirnya sampai dipasar desa Baloko. Zoya mengira pasar nya akan ramai dengan hiruk pikuk orang seperti dipasar pada umum nya. Namun nyatanya, hanya ada beberapa penjual yang berbaris rapi. Orang orang nya juga nampak lusuh dan dekil. Apa mungkin ini yang dinamakan rakyat dengan kasta terendah.
Zoya memandang orang orang disekitar sana, mereka duduk meleseh diatas rumput untuk berjualan. Ada juga yang memakai saung seperti pondok. Dan kedai kecil tempat makan juga ada. Namun sangat sederhana.
"Apa disini pasarnya?" tanya Zoya.
"Ya, setiap tiga hari sekali aku kemari untuk menjual hasil kebun ku" jawab bibi Nor. Mereka berjalan menuju tempat bibi Nor biasa berjualan.
"Aku kira akan ramai sekali" ucap Zoya seraya memperhatikan bibi Nor yang meletakkan bawaan nya diatas tempat nya. Untung saja tidak meleseh diatas rumput. Dan mereka masih dinaungi oleh atap ilalang.
"Tidak, ini hanya pasar kecil rakyat Baloko. Jika kau mau melihat yang ramai. Kau bisa melihatnya di balai desa nanti. Disana sangat ramai, dari pakaian, perhiasan, dan semua bahan bahan lengkap yang dijual. Disini hanya khusus untuk makanan sehari hari saja. Itupun hanya rakyat kasta rendah yang datang" ungkap bibi Nor seraya merapikan barang dagangan nya. Zoya juga ikut membantu bibi Nor seraya matanya sesekali memandang kearah orang orang yang mulai berdatangan.
"Apa dibalai desa rakyat kasta atas juga ada?" tanya Zoya.
"Tentu saja. Disana semua berbaur menjadi satu. Jika kau kesana, kau hanya akan melihat orang orang kasta atas, kasta menengah dan juga para bangsawan. Prajurit kerajaan maupun dayang istana juga sering berbelanja disana untuk kebutuhan istana" ungkap bibi Nor.
__ADS_1
"Wah... aku jadi ingin cepat kesana bibi" ucap Zoya.
"Besok kita akan kesana. Aku sudah merindukan putra ku" jawab bibi Nor.
Zoya langsung mengangguk dan tersenyum
"Bibi" panggil Zoya lagi
"Ada apa?" tanya bibi Nor.
"Aku masih tidak mengerti apa yang membedakan rakyat kasta bawah, menengah, dan juga kasta atas. Apa dari penampilan mereka??" tanya Zoya
"Ya, kau bisa melihatnya nanti. Kita rakyat kasta terendah memakai pakaian dari kulit kayu, atau dari kain dengan bahan yang rendah. Kasta menengah memakai pakaian dari jenis kain yang lebih baik sedangkan kasta atas dan bangsawan memakai pakain dari bahan sutra" jawab bibi Nor.
Zoya kembali menganggukkan kepala nya. Ternyata perbedaan sosial memang sudah ada sejak zaman kerajaan ini. Pantas saja dizaman modern perbedaan itu begitu kentara.
"Bibi, kau membawa siapa?" tanya seorang pria muda namun terlihat begitu dekil.
"Putriku" jawab bibi Nor
"Tumben sekali kau membawa putrimu. Kenapa pula wajahnya ditutupi. Aku jadi tak bisa melihat bagaimana rupanya" ucap lelaki itu. Terlihat begitu tengil. Ingin sekali Zoya hajar batang hidung nya itu. Apa dia tidak tahu jika dizaman nya Zoya benar benar tidak suka dengan lelaki hidung belang.
"Aku begitu jelek paman. Makanya wajahku ku tutupi dengan kain" jawab Zoya.
"Wah kau memanggil ku paman. Aku ini masih muda, bahkan belum menikah" ucap lelaki itu.
"Oh begitu. Aku kira umurmu sudah 40 tahun" ucap Zoya begitu ketus. Namun lelaki itu malah tertawa. Dasar aneh.
"Ayo kita kenalan" ajak lelaki itu seraya menyodorkan tangan nya, namun bibi Nor segera menepis nya dengan kuat.
"Jangan mencoba menggoda putriku. Kau ini memang tengil sekali" gerutu bibi Nor.
"Lebih baik paman beli saja dagangan ibuku ini. Dari pada ada disini dan tidak bermanfaat" kata Zoya.
Lelaki itu tertawa dan memandang Zoya dengan lekat. Meski sudah ditutupi, namun tetap saja. Kecantikan Zoya masih bisa dilihat. Matanya yang indah dan lentik, sungguh menjadi daya tarik tersendiri.
__ADS_1
"Apa jika aku membelinya kau akan membalas kenalan ku" tanya lelaki itu.
"Dasar sombong kau. Bahkan untuk sepeser uang perak pun kau tak punya. Pergi sana" usir bibi Nor lagi
"Ah bibi... Aku masih punya barang yang lain yang bisa ku tukarkan" jawab lelaki itu.
"Aku tidak butuh barang mu. Pergilah" usir bibi Nor lagi.
Lelaki itu berdecak kesal dan kembali memandang Zoya.
"Jika aku sudah punya banyak keping emas, aku akan mendatangimu" ucap nya begitu yakin.
Zoya langsung bergidik ngerih mendengar nya.
"Sudah jangan didengarkan. Dia memang sedikit gila" ucap bibi Nor.
"Yah dia memang gila. Tapi mengenai uang, apa memang memakai keping emas?" tanya Zoya yang kembali penasaran.
"Iya, tapi itu hanya untuk kasta menenangah keatas. Untuk kasta rendahan seperti kita hanya uang perak saja, itupun jarang sekali ada yang memiliki" jawab bibi Nor.
"Jadi bagaimana jika ingin berbelanja bibi?" tanya Zoya.
"Kau bisa saling menukar barang Ana. Misalnya sayuran dan buah buahan ini bisa ditukar dengan sekantung beras atau daging" jawab bibi Nor.
Zoya mengernyit bingung. Apa itu seperti barter???
"Jadi jika ingin membeli kain sutra atau perhiasan bagaimana?" tanya zoya.
Bibi Nor langsung tertawa mendengar itu.
"Mana mungkin bisa Ana. Itulah yang membedakan kasta rendahan seperti kita dengan kasta atas. Kita tidak bisa membeli barang barang mewah seperti mereka. Mendapatkan keping emas itu adalah hal yang paling sulit" jawab bibi Nor.
Zoya langsung meringis mendengar itu. Ya ampun... kenapa dia malah menjadi orang miskin dikehidupan ini??? Kenapa tidak langsung menjadi putri bangsawan saja????
Pantas saja selama lebih dari seminggu, mereka hanya makan ubi dan ikan yang ditangkap dari sungai. Zoya bahkan lupa rasa nasi seperti apa. Miris sekali.
__ADS_1