Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Pakaian Usang


__ADS_3

Zoya duduk termenung diatas ranjang. Memandangi sebuah pajangan seperti patung berbentuk seorang dewa. Terbuat dari kayu, yang bahkan warna nya juga sudah usang.


Di zaman ini, agama memang belum ada kan. Tapi entah lah, Zoya tidak tahu masalah itu. Tapi sepertinya memang belum, mereka hanya tahu tentang dewa saja.


Ck... kenapa jadi memikirkan hal itu. Ini karena bosan menunggu kedatangan pangeran Erlangga. Hari sudah mulai sore, tapi sampai saat ini, pangeran Erlangga belum datang juga. Mungkin dia masih di aula dan bertarung dengan para jenderal itu.


Sedih sekali rasanya tidak bisa melihat bagaimana gagah nya pangeran Erlangga yang ada disana. Padahal Zoya ingin sekali melihat bagaimana kharisma pangeran itu ketika sedang melawan para lawan nya. Melihat dia berlatih saja, Zoya sudah begitu kagum. Apalagi ini yang dia memang bertarung sungguhan.


Kira kira siapa yang menang ya, pangeran Erlangga, pangeran Adipati, atau para jenderal. Ah tapi sudah jelas kan, pasti pangeran Erlangga nya lah yang akan menang. Dia sudah terkenal sebagai jenderal perang terkuat. Bahkan dibeberapa kali kesempatan pangeran Erlangga sudah mengikuti beberapa perang untuk melawan musuh kerajaan. Ya, itu yang dia dengar dari putri Cendana.


"Huh... menyebalkan. Gue kan pengen lihat dia disana. Tapi malah terkurung disini" gerutu Zoya dengan tangan yang menopang dagunya. Pandangan matanya masih memandang kearah patung itu. Juna sejak siang tadi sudah pergi, dia berkata jika dia harus pergi menyusul Yuda ke aula. Jika tidak, Juna takut para teman prajurit mencari nya.


Dan sekarang, Zoya kembali kesepian. Dia sudah bosan tertidur dan berbaring disini. Terbiasa bekerja sepanjang waktu saat di istana, membuat Zoya tidak lagi nyaman jika hanya berleha leha seperti ini. Dan lagi, perutnya juga sudah lapar.


Zoya kembali menarik nafasnya dalam dalam. Ekor matanya tiba tiba melihat sebuah pedang yang tersangkut disamping lemari.


Pedang siapa?


Dan karena bingung, Zoya langsung mendekat kearah pedang itu. Dia tersenyum tipis dan langsung menarik pedang samurai panjang itu keluar dari tempatnya.


Masih cukup tajam meski sudah sedikit berkarat. Mungkin ini milik pangeran Erlangga.


Zoya memainkan pedang itu dengan lincah. Dari pada bosan, lebih baik dia bermain benda ini saja kan. Ya lumayan untuk melatih otot tubuhnya yang kaku.


Siapa tahu suatu saat nanti, Zoya bisa benar benar membantu pangeran Erlangga untuk mengungkapkan kasus menghilang nya para gadis desa.


Menjadi seorang pendekar wanita. Keren sekali.


Tapi ngomong ngomong, tentang niatnya yang ingin mencari tahu dengan memanfaatkan perasaan pangeran Adipati, apa itu bagus? Apa pangeran Erlangga memberi izin? Apalagi dia yang sudah mewanti wanti jika Zoya jangan dekat dekat dengan pangeran kedua dikerajaan itu. Bagaimana mungkin dia mengizinkan Zoya untuk menjalankan misinya ini.


Bisa bisa Zoya dipenjara lebih lama lagi kan.


Tapi.... apa mungkin pangeran Erlangga memang sudah mencurigai pangeran Adipati tentang hal ini? Atau karena dia yang cemburu.


Haisss wajah Zoya malah memanas membayangkan itu. Apalagi ketika mengingat tentang perkataan Juna tadi.

__ADS_1


Tiba tiba disaat dia melamun pintu kamar terbuka, dan sebuah benda kecil meluncur cepat kearah Zoya. Membuat Zoya terkesiap kaget dan langsung menebaskan pedang nya pada benda itu.


trang


Sebuah benda seperti paku langsung tertancap di dinding karena tebasan pedang Zoya.


Zoya langsung menoleh kearah pintu, dan dia langsung bernafas dengan lega karena ternyata pangeran Erlangga lah yang masuk kedalam sana. Dia tersenyum tipis memandang Zoya.


"Cukup tangkas meski sedang melamun" ucap pangeran Erlangga.


Zoya tersenyum lebar dan menghela nafas seraya meletakkan kembali pedang itu ketempat nya.


"Apa pangeran ingin membunuh ku?" tanya Zoya sembari dia yang kembali duduk diatas ranjang, sedangkan pangeran Erlangga berdiri gagah didepan nya. Sebelah tangan nya dia sembunyikan dibelakang. Masih memakai pakaian jenderal, hanya saja, tidak ada lagi baju besi yang dia pakai pagi tadi.


"Paku sekecil itu tidak akan mampu membunuh seorang pendekar" ucap pangeran Erlangga.


"Jika menembus kepala, bagaimana mungkin tidak membuat mati" sahut Zoya.


"Itulah tugas utama seorang kesatria Ana. Harus sigap, tangkas dan tentunya tidak lalai dalam keadaan apapun" ucap pangeran Erlangga.


"Bagaimana pertandingan mu tadi pangeran? Kau pasti menang" tebak Zoya yang langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kau sudah tahu itu" jawab pangeran Erlangga


"Tahu, kelihatan dari wajahmu yang lelah dan juga beberapa memar ditubuhmu" ucap Zoya seraya memandang lengan dan pelipis pangeran Erlangga yang membiru.


"Bukan apa apa" jawab pangeran Erlangga.


"Apa kau jadi membawa ku keluar dari sini?" tanya Zoya


"Kau sudah tidak sabar ternyata" ucap pangeran Erlangga.


"Aku sudah lapar pangeran. Hanya makan pagi tadi di antar oleh kak Juna. Kau benar benar menyiksaku" gerutu Zoya. Dan dapat dia lihat jika pangeran Erlangga tersenyum tipis melihat wajah kesal Zoya.


"Baiklah, ayo kita keluar. Tapi sebelum itu, kau harus mengganti pakaian mu" ujar pangeran Erlangga seraya dia yang berjalan menuju lemari kayu yang benar benar sudah usang dan lapuk.

__ADS_1


"Kenapa dengan pakaian ku?" tanya Zoya.


"Sudah kotor" jawab pangeran Erlangga. Dia masih membongkar lemari bekas ibunya. Sedangkan Zoya langsung memandang penampilan nya yang memang sudah kusut dan benar benar Kumal.


Ya ampun... memalukan.


"Ini, pakailah." ucap pangeran Erlangga seraya menyerahkan sebuah pakaian pada Zoya.


"Kata inang pengasuhku, dulu ibunda juga sering keluar istana. Dia sama seperti mu, pintar bermain pedang. Dan selalu memakai pakaian ini untuk menutupi dirinya. Aku rasa pakaian itu cocok untuk mu" ujar pangeran Erlangga.


Zoya memandang pakaian ditangan nya. Pakaian bewarna emas dan juga soft pink. Tidak tahu seperti apa bentuknya. Tapi sepertinya dia memang harus mengenakan nya dulu. Pakaian dayang yang dia pakai sudah bau dan kotor. Meskipun pakaian ini juga bau debu, tapi lumayan lah. Mudah mudahan saja kulitnya tidak alergi setelah ini.


Zoya memandang pangeran Erlangga sejenak, dan langsung berjalan menuju kamar mandi yang sudah tidak lagi berair. Dia benar benar jarang mandi selama ada disini. Astaga... itupun masih saja didekati para pangeran ini. Keren sekali.


Cukup lama Zoya berada didalam kamar mandi, namun tidak lama kemudian dia sudah keluar dengan pakaian yang memang pas ditubuh nya.


Pangeran Erlangga bahkan sampai memandang nya tidak berkedip.


"Apa lucu?" tanya Zoya seraya membenarkan sedikit kain di lengan nya yang merosot.


"Tidak, pakaian itu memang sangat pas ditubuhmu" jawab pangeran Erlangga. Yang sadar atau tidak, dia benar benar tersenyum dengan lebar. Bahkan matanya memandang Zoya dengan penuh kekaguman. Membuat Zoya menjadi salah tingkah dipandangi seperti itu.


Pakaian yang sangat susah untuk dijelaskan bagaimana bentuk nya. Kain nya sedikit kasar, seperti kain selendang yang transparan, namun sangat pas dikulit Zoya yang putih bersih.


Bahunya sedikit terbuka, namun berlengan panjang. Ada sebuah kain yang diikatkan Zoya diperut nya. Juga celana bewarna emas yang longgar namun nyaman untuk dipakai.


Zoya terkesiap saat pangeran Erlangga meriah selendang merah dari tangan Zoya.


"Kau harus tetap memakai ini agar tidak ada orang yang melihat wajahmu selain aku" ucap pangeran Erlangga seraya dia yang merentangkan selendang merah itu dan menyelimuti kepala Zoya.


Zoya tertegun, dia memandang wajah pangeran Erlangga dengan senyum tipis, rasanya benar benar tidak tahu harus berbicara apa jika sudah seperti ini. Hanya detak jantung nya saja yang berdegup dengan kencang mendapatkan perlakuan lembut dari pangeran Erlangga.


"Tetap lah menjadi bunga mawarku yang pemberani" ucap pangeran Erlangga


Zoya langsung tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Dia pasti akan menjadi seperti itu. Cantik, namun juga berbahaya.


__ADS_2