
Mata Zoya terbelalak lebar saat melihat pria yang akan menebas nya jatuh tersungkur dengan dua anak panah yang menembus dada. Dan tidak lama setelah itu, seekor kuda langsung berhenti tepat disamping Zoya. Seekor kuda putih yang sangat dikenali nya.
"Pangeran Erlangga" gumam Zoya dengan ringisan diwajah nya.
Pangeran Erlangga segera turun dari atas kuda dan segera mendekati Zoya.
"Kau tak apa Ana?" tanya pangeran Erlangga seraya membantu Zoya untuk berdiri. Wajahnya nampak begitu khawatir.
Zoya meringis sambil memegangi perutnya.
"Perut ku sakit" jawab Zoya.
Pangeran Erlangga membawa Zoya kepinggir hutan, dan mendudukkan Zoya disebuah kayu besar. Dia mengusap darah yang mengotori wajah Zoya dengan kain yang melilit wajahnya tadi. Pangeran Erlangga benar benar bisa bernafas dengan lega ketika melihat Zoya yang baik baik saja.
"Tarik nafas mu dalam dalam dan keluarkan perlahan" ucap nya
Zoya memejamkan matanya sejenak dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh pangeran Erlangga. Dia melakukan itu sampai beberapa kali hingga dia merasa sedikit lebih baik.
"Bagaimana?" tanya pangeran Erlangga yang kini sudah duduk disamping Zoya.
"Sudah lebih baik" jawab Zoya seraya berusaha untuk tersenyum. Dia kembali memandang kearah bibir pantai dimana tiga mayat sudah terkapar disana. Dan sungguh, Zoya masih tidak menyangka jika dia akan membunuh orang hari ini. Untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Wajahmu pucat Ana, apa kau takut?" tanya pangeran Erlangga.
Zoya menoleh kearah pangeran Erlangga dengan sendu.
"Aku.... aku sudah membunuh orang pangeran" lirih nya seraya kembali memandangi tangan nya.
Pangeran Erlangga meraih tangan Zoya dan menggenggam nya dengan lembut. Dia bisa merasakan jika tangan Zoya dingin dan masih bergetar.
"Tidak apa apa, kau bilang kau ingin menjadi seorang pendekar bukan. Dan inilah tugas pendekar yang sesungguhnya, membunuh orang orang yang sudah berbuat kejahatan" jawab pangeran Erlangga. Memandang mata indah Zoya dengan lekat.
"Apa aku tidak berdosa, apa aku tidak akan masuk penjara?" tanya Zoya lagi.
__ADS_1
Pangeran Erlangga tersenyum tipis dan menggeleng.
"Kau sudah berbuat kebaikan dengan mengurangi jumlah orang yang ingin membuat orang lain menderita. Rakyat pasti senang dengan kematian mereka. Karena dengan begitu komplotan mereka berkurang" jawab pangeran Erlangga.
"Kau hebat Zoya. Kau bahkan sudah berhasil membunuh dua orang dalam pertarungan pertama mu" puji pangeran Erlangga.
Zoya langsung mendengus dan membalas genggaman tangan pangeran Erlangga. Hebat dari mana jika membunuh orang seperti itu. Jika ini dizaman nya sendiri, mungkin Zoya sudah akan di anggap psikopat oleh orang orang, dan bahkan dia sudah akan dipenjara untuk seumur hidupnya.
Uuuuuhh Zoya jadi bergidik ngerih membayangkan itu. Tapi jika mengenang momen saat bertarung tadi, rasanya adrenalin nya memang terpacu dan dia merasakan sensasi yang berbeda.
"Hei... tidak apa apa. Kenapa kau masih takut" ucap pangeran Erlangga yang mengejutkan lamunan Zoya.
Zoya tersenyum dan menggeleng kembali. Dia melepaskan genggaman mereka dan menutup kembali wajahnya dengan selendang merah Zoya.
"Apa kau bangga dengan hasil hari ini pangeran?" tanya Zoya
"Tentu saja" jawab pangeran Erlangga
"Kau tidak melupakan janjimu bukan?" tanya Zoya lagi.
"Tidak, bahkan aku akan menawarkan hal yang lebih untuk mu" ujar pangeran Erlangga
"Apa itu?" tanya Zoya.
"Istana sedang mengadakan sayembara untuk mencari dua puluh orang dayang baru. Apa kau ingin mengikutinya Ana???" tanya pangeran Erlangga.
"Dayang istana?" tanya Zoya. Dan pangeran Erlangga langsung mengangguk dengan cepat.
"Ya, aku tidak bisa membiarkan mu ada diluar seperti ini terus. Para perompak itu kini mengincarmu Ana. Dan aku tidak bisa selalu ada untuk melindungi mu. Dan jika kau masuk kedalam istana, maka kau akan aman disana" ujar pangeran Erlangga.
Zoya tertegun mendengar penuturan pangeran Erlangga.
Masuk kedalam istana adalah impiannya, tapi untuk menjadi dayang, apa dia mampu??? Lalu bagaimana dengan bibi Nor????
__ADS_1
"Ana.. aku akan bisa lebih memperhatikan mu disana" kata pangeran Erlangga lagi.
"Memperhatikan?" gumam Zoya. Pangeran Erlangga langsung terkesiap
"Maksudku..... melindungimu" jawab nya dengan cepat.
Zoya langsung tersenyum simpul mendengar itu. Jika ada didalam istana dia tidak akan merasa terancam lagi bukan. Dan lagi, setiap hari dia pasti bisa melihat pangeran Erlangga dan bertemu dengan nya. Memandang kewibawaan dan pesona pangeran Erlangga yang tiada dua nya.
"Hei... kenapa melamun???" pangeran Erlangga menepuk bahu Zoya dengan pelan membuat Zoya langsung terkesiap kaget.
"Tapi bagaimana dengan bibi Nor?" tanya Zoya. Walau bagaimanapun dia tidak enak jika meninggalkan wanita yang sudah begitu baik padanya itu. Wanita yang sudah menganggap Zoya seperti anaknya sendiri.
"Bibi Nor sudah terbiasa hidup sendiri. Lagi pula aku yakin jika dia pasti setuju jika kau masuk kedalam istana. Kau akan aman disana" jawab pangeran Erlangga
"Tapi apa aku bisa menjadi dayang pangeran? Kau tahu sendiri kan kalau aku ini pemalas. Bahkan untuk sekedar membantu bibi Nor saja aku jarang" ujar Zoya dengan senyum getir nya.
Pangeran Erlangga mendengus senyum mendengar itu. Dia kembali memandang kearah laut dimana ombak bergerak dengan beraturan disana. Angin laut membuat suasana disiang itu cukup tenang.
"Kau hanya perlu ada didalam istana Ana. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Kau pasti bisa dengan cepat beradaptasi disana" ucap pangeran Erlangga.
"Apa aku masih bisa menemui mu?" tanya Zoya seraya memandang pangeran Erlangga. Dan saat pangeran Erlangga menoleh kearah nya, mata mereka langsung bertabrakan dan saling memandang dengan begitu dalam, seolah ingin menyelami perasaan masing masing.
"Apa kau masih ingin menemui ku?" tanya pangeran Erlangga
"Apa aku masih boleh berharap begitu?" tanya Zoya pula
Pangeran Erlangga tersenyum dan beranjak dari duduknya. Berdiri memandangi laut yang cukup tenang siang itu. Setenang hatinya saat bersama Ananya.
"Jika kita ditakdirkan untuk terus bertemu, maka aku tak akan bisa melarang Ana. Feeling ku tak pernah meleset, aku selalu takut membiarkan mu berada jauh dari jangkauan ku. Dan terbukti hari ini" ungkap pangeran Erlangga.
Zoya mendongak, memandang pangeran Erlangga yang berdiri dengan begitu gagah. Padahal hanya seperti ini saja, namun sudah mampu membuat hatinya bergetar. Bagaimana mungkin bisa Zoya tahan untuk tidak bertemu dengan nya sebentar saja, jika nama pangeran Erlangga memang sudah terpatri dalam hatinya.
"Aku hanya punya kau dan bibi Nor pangeran, dan jika aku masuk ke istana, semua akan terasa asing. Aku takut, aku takut jika salah langkah. Dan jika tidak ada kau disana, bagaimana jadinya aku?" tanya Zoya
__ADS_1
Pangeran Erlangga langsung menoleh kearah Zoya. Pandangan matanya yang tajam dan dalam sungguh memikat.
"Aku akan selalu ada, dimana pun kau berada" jawab pangeran Erlangga dengan begitu yakin.