
Zoya berjalan mengikuti langkah kaki putri Cendana menuju kelaman pelatihan para jenderal dan prajurit. Dia berjalan seraya mengangkat rok dayang nya sedikit keatas. Zoya belum terbiasa memakai pakaian seperti ini, rasanya sangat susah untuk dibawa berjalan. Bahkan sering kali dia tersandung jika lupa karena rok yang dia kenakan cukup panjang. Sering kali pula putri Cendana mengajarinya cara berjalan yang anggun. Zoya terkadang malu sendiri saat teman teman dayang nya mentertawakan nya yang sedikit bar bar. Tapi mau bagaimana lagi, Zoya memang bukan asli orang kerajaan. Dia adalah orang zaman modern yang hanya mengenal celana jeans saja, bahkan memakai rok juga saat dia bersekolah dijenjang SMA dulu.
Dan sekarang dia dipaksa untuk merubah kehidupan nya menjadi seperti ini. Tentu saja itu hal yang tidak mudah. Tapi dibalik kesusahan itu, Zoya juga merasa senang karena dia bisa memiliki pengalaman yang luar biasa. Meski disisi lain dia juga begitu takut jika dia tidak bisa kembali ke zaman nya dan malah terjebak dizaman ini untuk seumur hidup nya.
Mata Zoya langsung melebar saat melihat barisan para pangeran yang duduk dengan gagah didepan sana, bahkan senyum Zoya langsung terbit memperhatikan satu pangeran yang begitu berwibawa dan sangat sangat mempesona.
Ini adalah pemandangan yang selalu dia harapkan setiap hari, pemandangan yang mampu membuat rasa takut dan gelisah nya menghilang. Melihat pangeran Erlangga, itulah obat hatinya. Meski hanya melihat, tapi entah kenapa Zoya benar benar sudah cukup bahagia.
Apa dia benar benar sudah jatuh cinta pada pangeran itu???
Zoya menghela nafasnya dengan berat, sepertinya perasaan nya ini memang tidak tahu diri.
"Kita keatas saja"
Suara putri Cendana membuat Zoya terkesiap. Dia langsung memandang putri Cendana yang berjalan kearah tangga yang menuju ke roof top gedung prajurit dimana dari atas sana semua pemandangan bisa terlihat dengan jelas.
"Kenapa tidak disini saja putri?" tanya Zoya.
"Di atas kita tidak akan kepanasan, lagi pula kita bisa melihat semua orang tanpa terkecuali" jawab putri Cendana.
"Kau bisa memandangi pangeran mu dari atas tanpa takut ketahuan" bisik Gendis.
Zoya langsung mendengus senyum mendengar itu. Gendis memang selalu tahu apa yang dia maksud.
Dan akhirnya, Zoya dan dayang yang lain mengikuti putri Cendana keatas roof top. Dan benar saja, dari atas sana mereka bisa melihat pemandangan dengan begitu jelas. Para prajurit yang sedang berlatih, para jenderal jenderal yang tampak gagah juga sedang melatih para prajurit baru dan lama. Dan yang membuat Zoya senang dan bahagia adalah roof top ini tepat mengahdap kearah para pangeran duduk.
Aaahhh rasanya Zoya ingin sekali berteriak dan memanggil nama pangeran Erlangga dari sini.
"Ana... kau tidak lelah berdiri disitu?" pertanyaan putri Cendana lagi lagi membuat Zoya terkesiap kaget. Dia langsung menoleh kearah putri Cendana yang ternyata sudah duduk disebuah kursi dibawah tempat yang naung dan teduh.
Zoya langsung tersenyum getir melihat nya, bahkan Gendis dan yang lain kini sudah berada dibelakang putri Cendana.
Sial sekali memang, kenapa dia sampai tidak sadar diri seperti ini.
Zoya langsung berlari mendekat kearah putri Cendana dengan canggung.
"Maaf putri, saya begitu asik memandang para prajurit berlatih" kilah Zoya yang langsung berdiri disamping putri Cendana.
__ADS_1
Gendis langsung mendengus gerah mendengar nya.
"Kau memandang para prajurit atau para pangeran Ana" goda putri Cendana.
Gendis tidak bisa lagi menahan tawa nya mendengar itu, apalagi ketika melihat wajah Zoya yang memerah malu.
"Hehe... sekalian putri" gumam Zoya seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Putri Cendana hanya tersenyum dan menggeleng saja melihat itu. Sudah beberapa hari bersama Zoya dia tahu jika Zoya memang menyukai salah satu dari kakak nya. Tapi apa yang bisa dilakukan, dia hanya bisa memandang saja.
Mata Zoya kembali memandang kelaman prajurit, tapi bukan kepara prajurit yang sedang berlatih. Melainkan kearah pangeran Erlangga yang sedang memandang para prajurit itu berlatih.
Hari ini pangeran Erlangga memakai baju besi, baju khas untuk bertarung. Jika beberapa hari sebelum nya dia memakai baju pangeran dengan warna putih dan jubah yang menjuntai ditubuhnya. Tapi hari ini dia berganti kostum. Tapi yah walau memakai pakaian apapun, tetap saja pangeran Erlangga memang selalu terlihat gagah dan sangat keren. Apalagi jika tidak sedang memakai baju. Astaga.... fikiran Zoya kenapa jadi aneh begini. Tapi ya memang benar, jika dia sedang bertelanjang dada dia nampak seksi dengan roti sobek nya itu, bukan yang lain.
Zoya tanpa sadar kembali menerbitkan senyum nya memandang pangeran Erlangga. Disaat semua orang sibuk memandang para jenderal dan prajurit yang sibuk berlatih, namun Zoya malah sibuk memandangi pangeran Erlangga.
Dia benar benar rindu ingin bersama pangeran Erlangga lagi. Bermain bersama kureta dan juga bermain pedang. Masih adakah kesempatan itu?
Zoya ingin sekali seperti itu lagi.
Tapi sekarang, untuk sekedar menyapa saja tidak ada lagi. Bahkan sudah beberapa hari disini pangeran Erlangga tidak ada menemui nya. Ya mungkin dia takut diketahui oleh raja dan petinggi kerajaan yang lain.
deg
Jantung Zoya serasa terhenti sesaat, saat tiba tiba pangeran Erlangga juga memandang kearah nya. Bukan melihat adik nya putri Cendana, tapi pandangan mata tajam itu tepat menatap mata Zoya yang juga memandang kearah nya.
Mata mereka saling pandang dengan lekat, dari kejauhan. Seolah mengirimkan sinyal hati mereka masing masing yang selama ini terpendam dan tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.
Setelah merasa terhenti sesaat, kini jantung Zoya bergemuruh tidak menentu mendapatkan tatapan mata itu. Tatapan mata yang sudah sangat lama tidak dia dapatkan.
Lama mereka saling pandang, seolah berbicara melalui batin masing masing hingga akhirnya pangeran Erlangga memutuskan pandangan nya saat kini giliran nya untuk berlatih bersama jenderal yang lain.
Suara tepuk tangan langsung bergemuruh dilaman itu. Bahkan semua prajurit nampak membungkukkan tubuh mereka masing masing saat pangeran Erlangga memijakkan kaki nya disana.
Sebuah pedang sudah berada ditangan kekarnya.
Sangat tampan dan gagah sekali.
__ADS_1
Sungguh demi apapun, Zoya tidak bisa untuk berpaling sedikit saja dari pemandangan indah ini. Apalagi disaat pangeran Erlangga bersama salah satu jenderal perang mulai memainkan pedang meraka dan saling menyerang. Membuat suasana menjadi hening namun cukup tegang.
Ini hanya pelatihan saja. Tapi cukup mampu membuat semua orang merasakan ketegangan dan kekaguman sekaligus. Bahkan Zoya sampai tidak mengedipkan matanya ketika melihat pangeran Erlangga bertarung. Gerakan pangeran Erlangga yang lincah dan gesit benar benar menakjubkan. Dia memang petarung yang tidak bisa dianggap remeh. Putra mahkota yang memang cocok untuk menggantikan raja Kertangga, ayahanda nya.
"Hei, tutup mulut mu itu" bisik Gendis seraya menyenggol bahu Zoya dengan bahunya.
Zoya terkesiap dan langsung memandang Gendis dengan kesal.
"Kau ini mengganggu saja" protes Zoya.
Gendis langsung tersenyum lucu melihat wajah kesal Zoya.
"Aku rasa bukan hanya pangeran Erlangga yang memperhatikan mu sejak tadi" bisik Gendis
Zoya mengernyit tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" balas Zoya dengan berbisik pula.
Gendis langsung menarik Zoya sedikit kebelakang agar menjauh dari putri Cendana.
"Pangeran Adipati sepertinya juga tertarik padamu Ana" bisik Gendis.
Zoya langsung memandang Gendis dengan aneh.
"Tertarik gundul mu. Ada ada saja kau ini" gerutu Zoya.
"Ck, kau ini tidak percaya. Lihatlah, sejak tadi dia melirik kemari. Aku memperhatikan nya terus" bisik Gendis lagi.
"Ya mungkin saja dia sedang melihat adik nya" sahut Zoya. Namun Gendis langsung menggeleng dengan cepat.
"Aku tahu arah tatapan matanya, sama seperti pangeran Erlangga yang memandang mu, pangeran Adipati juga begitu" ungkap Gendis.
Dan entah kenapa Zoya langsung memandang kearah pangeran Adipati.
Dan benar saja, lelaki itu kini tengah memandang lekat kearah nya.
Ada apa?
__ADS_1
Kenapa dia memperhatikan Zoya seperti itu?