Ranula (Sejarah Penuh Luka)

Ranula (Sejarah Penuh Luka)
Bunga Mawarku


__ADS_3

Zoya menarik nafas nya dalam dalam saat dia turun dari atas kuda dibantu oleh pangeran Erlangga. Dadanya bergemuruh, namun senyum diwajahnya masih terus tersemat dengan indah. Bahkan pangeran Erlangga tidak pernah bosan memandang senyum itu sejak tadi. Mereka baru saja berhenti, karena sudah lelah berada diatas kuda. Kureta, kuda putih ini benar benar gagah dan sangat menjakjubkan. Ini adalah kali pertama Zoya menunggangi kuda, dan bersama dengan seorang pangeran pula.


"Kau senang?" tanya pangeran Erlangga


Zoya mengangguk dengan cepat


"Tentu saja. Terimakasih sudah membawaku jalan jalan pangeran. Aku bahagia sekali hari ini" jawab Zoya.


Pangeran Erlangga mengangguk dan tersenyum tipis.


"Aku sudah harus kembali. Ayahanda pasti sudah mencari ku sekarang. Kau bisa pergi keujung jalan sana sendiri bukan. Disana mungkin bibi Nor sudah menunggu mu" ujar pangeran Erlangga seraya menunjuk kearah selatan dimana jalanan setapak menuju tempat pelatihan prajurit.


Zoya menoleh  kearah yang ditunjuk oleh pangeran Erlangga, dan dia langsung mengangguk pelan. Rasanya cepat sekali. Padahal Zoya masih ingin bersama pangeran Erlangga lebih lama. Tapi...mau bagaimana lagi. Dia dan pangeran Erlangga berbeda. Ibarat kan dizaman modern, pangeran Erlangga adalah seorang CEO dan Zoya adalah office girl, ya ampun, membayangkan nya saja sudah sangat menyedihkan.


"Baiklah" jawab Zoya dengan pasrah.


Zoya memandang pangeran Erlangga sesaat, rasanya masih banyak hal yang ingin dia utarakan. Namun, kenapa jadi tidak bisa berkata kata seperti ini.


Pangeran Erlangga memalingkan wajah dan mengusap punggung kudanya, seakan dia tidak ingin memandang Zoya lagi. Zoya menghela nafas pelan melihat itu, dan dia memilih untuk pergi dan berbalik arah. Berjalan dengan langkah berat meninggalkan pangeran Erlangga.


Namun tiba tiba...


"Ana" seruan pangeran Erlangga membuat langkah kaki Zoya terhenti. Dia menoleh kebelakang dan melihat pangeran Erlangga yang berjalan mendekatinya.


"Jaga dirimu baik baik" ujar pangeran Erlangga seraya melilitkan selendang Zoya yang tergerai


Zoya terdiam sesaat, namun dia langsung tersenyum dan mengangguk. Memandang wajah datar pangeran Erlangga.


"Besok tunggu aku ditempat berburu kita waktu itu. Aku akan menemuimu disana" pinta pangeran Erlangga.


Zoya langsung tersenyum dengan lebar mendengar itu.


"Benarkah? Kau bisa keluar istana besok?" tanya Zoya tidak percaya. Bukankah pangeran Erlangga sendiri yang berkata jika dia sudah tidak bisa keluar dengan bebas lagi.


"Aku masih punya seribu cara untuk keluar dan melihat bunga mawarku" jawab pangeran Erlangga


Senyum Zoya memudar, berganti dengan wajah terperangahnya. Bunga mawarku? Apa maksudnya itu. Apakah bunga mawar liar itu??? Tapi, kenapa terasa aneh.

__ADS_1


Zoya terkesiap saat pangeran Erlangga ternyata sudah berbalik dan kembali kekudanya. Dia tersenyum tipis memandang Zoya, dan setelah itu langsung melompat keatas kudanya dan pergi meninggalkan Zoya yang masih mematung ditempatnya.


"Pangeran" gumam Zoya, masih memandangi punggung kekar pangeran Erlangga yang mulai menghilang dibalik semak dan pepohonan.


"Ana!!" seruan bibi Nor membuat Zoya terlonjak kaget. Dia langsung melihat kearah bibi Nor yang nampak berlari tergopoh gopoh.


"Ana, syukurlah aku menemukan mu disini. Kau dari mana, kenapa kau menghilang begitu saja. Aku benar benar takut kau diculik oleh para perompak itu" ucap bibi Nor dengan nafas yang begitu bergemuruh


Zoya memandang bibi Nor dengan tidak enak. Dia bersenang senang bersama pangeran Erlangga dan malah melupakan wanita tua ini. Astaga, benar benar tidak tahu diri memang.


"Bibi maafkan aku. Aku tadi bertemu dengan pangeran Erlangga" jawab Zoya


Bibi Nor nampak terkejut mendengarnya


"Kau bertemu dengan pangeran Erlangga?" tanya bibi Nor


Zoya mengangguk dengan cepat. Namun bibi Nor malah langsung menarik tangan Zoya dan membawanya pergi dari sana. Berjalan dengan sedikit cepat, hingga membuat Zoya benar benar merasa aneh dan bingung.


"Bibi, ada apa? Kenapa kau berjalan cepat sekali?" tanya Zoya seraya terus mengikuti langkah bibi Nor yang begitu tergesa.


"Pihak kerajaan sejak tadi sudah sibuk mencari keberadaan pangeran Erlangga Ana, mereka sudah menyebar kesegala penjuru balai desa ini. Kita harus cepat pergi, jangan sampai mereka tahu jika pangeran Erlangga baru saja menemui mu" ungkap bibi Nor, dia benar benar terlihat khawatir.


"Tentu saja. Jika mereka tahu, maka kau yang akan dalam bahaya. Kita rakyat kasta rendahan tak diizinkan untuk bertemu dengan pangeran Erlangga, bahkan untuk memandang nya saja tidak boleh" jawab bibi Nor.


Zoya mengernyit memandang itu.


"Kenapa kejam sekali" gerutu Zoya.


"Ana, memang seperti itu aturan nya. Sudah ayo kita cepat kembali. Hari juga sudah mulai senja. Kita pasti akan kemalaman dijalan nanti" ujar bibi Nor seraya melepaskan tangan Zoya dan berjalan mendahului nya.


Zoya mengerucutkan bibirnya sekilas dan langsung mengikuti langkah bibi Nor seraya membenarkan selendang diwajahnya. Ah, dia kembali tersenyum saat mengingat jika pangeran Erlangga yang melilitkan selendang ini tadi. Ya ampun, apa Zoya sudah jatuh cinta pada pangeran itu, hingga apapun yang dilakukan nya, semua selalu terkenang dan membuat Zoya jadi merona begini???


Tidak lama kemudian, saat tiba digapura, langkah mereka langsung terhenti saat melihat rombongan dari kerajaan yang melintas disana. Seorang lelaki muda yang cukup gagah nampak berkuda ditengah tengah prajurit yang berjalan kaki. Siapa itu???


Zoya terkesiap saat tiba tiba bibi Nor menarik lengan nya untuk berlutut dan menundukkan pandangan mereka.


Zoya benar benar bingung, pasal nya dia sedang berfikir kenapa dia harus melakukan itu.

__ADS_1


"Ana, ayo cepat turunkan pandangan mu" bisik bibi Nor. Dan mau tidak mau Zoya juga menunduk dan tidak lagi melihat rombongan orang itu. Dia baru ingat, jika ini seperti sebuah penghormatan untuk kaum bangsawan seperti yang ada dicerita dongeng itu bukan.


Lelaki yang berkuda itu nampak mengangkat tangan nya keatas, dan tentu itu membuat rombongan prajurit lain nya langsung menghentikan langkah kaki mereka.


"Pangeran ada apa?" tanya salah seorang prajurit yang berbeda dari yang lain. Seperti nya dia bukan prajurit, melainkan seorang jenderal.


Lelaki tampan itu memandang Zoya dengan aneh, membuat prajuritnya memandang nya dengan bingung.


"Kau, gadis berkerudung merah. Tegakkan kepalamu" ujar lelaki itu.


Zoya masih terdiam, namun sentuhan bibi Nor ditangan nya membuat Zoya lagi lagi terkesiap.


"Aku?" tanya Zoya seraya menunjuk wajahnya sendiri.


Bibi Nor memandang Zoya dan lelaki itu bergantian, namun setelah itu dia nampak menundukkan kembali kepalanya.


"Ah pangeran, salam hormat kami. Apa kami menganggu perjalanan anda? Jika iya, hamba mohon maafkan lah kami" ucap bibi Nor begitu takut.


Zoya terdiam seperti orang bodoh memandang lelaki itu. Pangeran???? Apa dia juga pangeran dikerajaan Ranula, atau malah saudara pangeran Erlangga???


"Kenapa kau menutup wajahmu?" tanya lelaki itu. Wajahnya cukup tampan, tapi terlihat lebih garang dari pangeran Erlangga yang memiliki wajah datar namun penuh wibawa.


"Aku, itu karena wajahku jelek pangeran" jawab Zoya dengan aneh.


Lelaki itu mengernyit heran memandang Zoya.


"Buka penutup wajahmu itu" ujar pangeran Erlangga


"Tapi pangeran" bibi Nor terlihat keberatan.


"Kau mau membantah ku?" sergah pangeran itu.


Bibi Nor langsung menunduk kembali dan mengatupkan kedua tangan nya.


"Tidak, ampuni hamba" ucap bibi Nor.


"Buka" ucapnya lagi.

__ADS_1


Zoya menghela nafasnya dengan pelan, dan langsung mengangkat tangan nya untuk menarik selendang dari wajah nya.


Dan ketika selendang terbuka, raut wajah pangeran itu terlihat berbeda. Seperti ...... pandangan kagum dan terkejut.


__ADS_2