
Dua hari berlalu tanpa terasa. Dan sudah tiga hari Zoya terdampar dizaman yang membuat nya masih begitu bingung dan takut. Setiap bangun dari tidurnya, Zoya selalu berharap jika dia akan kembali kerumah nya, namun yang terjadi dia masih saja terbangun dizaman ini. Entah bagaimana dia bisa kembali kezaman nya. Dia sudah merindukan kehidupan normal nya, kedua sahabatnya dan juga orang tua nya. Meski Zoya tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya, namun sekarang Zoya benar benar merindukan mereka.
Dua hari ini tidak ada yang Zoya lakukan. Dia hanya membantu bibi Nor memanen umbi seperti ubi dan juga sayuran dikebun nya. Juga sesekali ikut pangeran Erlangga untuk menangkap ikan. Zoya juga sudah bisa membantu bibi Nor untuk mengobati luka pangeran itu ketika bibi Nor bekerja atau sedang kepasar. Dan ajaib nya luka didada pangeran Erlangga sudah mulai mengering. Padahal jika mengingat betapa dalam nya luka itu, Zoya berfikir pasti akan memakan waktu lama untuk sembuh, seminggu mungkin. Tapi kenyataan nya pangeran Erlangga sudah cukup baik sekarang.
Saat ini bahkan pangeran Erlangga tengah berlatih pedang dibelakang pondok bibi Nor. Dia terlihat begitu gagah jika sedang serius seperti ini. Zoya bahkan baru kali ini melihat lelaki sekeren pangeran Erlangga. Meski dia masih saja merasa aneh dengan penampilan lelaki ini.
"Pangeran, berhentilah sebentar. Minum dulu. Kau masih tak boleh lelah. Takut lukamu terbuka lagi" seru Zoya.
Pangeran Erlangga langsung berhenti dan memandang kearah Zoya. Dia menghela nafas sejenak dan berjalan mendekati Zoya. Duduk disamping gadis itu seraya meneguk air minum yang sudah disediakan oleh Zoya.
"Apa tidak sakit dibawa berlatih seperti itu?" tanya Zoya seraya memandangi pangeran Erlangga yang berwajah datar itu.
"Tidak" jawab nya dengan singkat.
Zoya hanya mengerucutkan bibirnya dan memandang nanar kedepan.
"Apa kau tidak merindukan ibumu?" tanya Zoya tiba tiba. Pangeran Erlangga langsung menoleh kearah nya.
"Ibuku?" tanya pangeran Erlangga lagi, wajahnya sedikit bereaksi mendengar itu.
Zoya membalas tatapan mata pangeran Erlangga dan mengangguk pelan.
"Ya, baru tiga hari disini, tapi aku sudah merasa rindu. Mungkin saja aku merindukan ibu" ungkap Zoya. Dia hampir lupa jika dia sedang bersandiwara sebagai orang yang lupa ingatan.
"Kau mengingat sesuatu?" tanya pangeran Erlangga.
Zoya tertunduk dan tersenyum getir.
"Ya, aku seperti melihat bayang bayang seorang wanita, dan aku rasa itu ibuku" jawab Zoya.
"Lalu apa lagi yang kau ingat. Mungkin aku bisa mengantarmu pulang jika kau mengingat sedikit saja tentang tempat tinggalmu" ujar pangeran Erlangga.
__ADS_1
Zoya menggeleng dan semakin tertunduk dengan sedih. Bagaimana mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya pada pangeran Erlangga. Jika untuk berbicara yang aneh sedikit saja dia sudah tidak mengerti. Ah, ini menyedihkan sekali. Kenapa dia bisa terjebak dizaman ini????
"Aku tidak tahu" jawab Zoya begitu lirih.
Pangeran Erlangga memandang Zoya dengan iba. Dia tahu ada kebingungan dan ketakutan yang mendalam dipandangan mata Zoya. Tiga hari bersama gadis yang dia kenal sebagai Ana ini membuat pangeran Erlangga sedikit banyak nya tahu apa yang dirasakan oleh Zoya. Dia pasti merindukan keluarga nya dan ingatan nya yang telah hilang. Ya, begitulah yang ada difikiran pangeran Erlangga.
"Kau cantik dan berbeda dari gadis yang pernah aku lihat. Apa mungkin kau berasal dari kerajaan Ratu prahari???" tanya pangeran Erlangga akhirnya.
"Ratu Prahari??" siapa lagi itu, batin Zoya.
"Ratu Prahari adalah seorang ratu yang memimpin kerajaan Prahari Kahyangan. Kerajaan itu terkenal dengan gadis gadis cantik nya, bahkan ratu Prahari juga terkenal dengan kecantikan yang tiada seorangpun bisa menandingi nya. Mungkin saja kau berasal dari sana. Kerajaan itu terletak diseberang selatan lautan Ranula" ungkap pangeran Erlangga.
Dan sungguh, Zoya semakin tidak habis fikir dengan semua ini. Kerajaan dan segala hal yang tidak masuk akal membuat Zoya benar benar ingin gila saja.
"Aku tidak tahu pangeran. Seperti nya bukan" jawab Zoya langsung.
"Kenapa kau bisa yakin seperti itu?" tanya pangeran Erlangga tidak suka.
"Bukankah jika memang itu tempatku, aku akan bisa mengingat nya sedikit ketika kau menyebutkan nya tadi. Tapi ini sama sekali tidak" jawab Zoya.
Pangeran Erlangga langsung terdiam mendengar nya. Sepertinya memang begitu.
Zoya kembali tertunduk sedih, dia sudah sangat ingin pulang kerumah nya.
"Sudah lah, jangan sedih, suatu saat kau pasti akan mengingat semuanya. Sekarang lebih baik kau temani aku kehutan" ajak pangeran Erlangga
"Untuk apa?" tanya Zoya langsung
"Berburu, dari pada kau diam seperti orang bodoh disini. Bibi Nor juga sedang kepasar" ujar pangeran Erlangga seraya memakai kain penutup wajahnya dan meraih tombak yang tersandar didinding.
Zoya terdiam sejenak dan memandangi pangeran itu, dari pada dia dirumah sendirian, lebih baik dia ikut saja.
__ADS_1
"Lagipula kenapa bibi Nor tidak mengizinkan aku untuk ikut. Aku kan bisa membantunya berjualan" gerutu Zoya seraya mengikuti langkah kaki pangeran Erlangga.
"Orang orang akan curiga melihat rai mu. Kau terlalu cantik untuk ukuran rakyat kasta bawah" ucap pangeran Erlangga.
Zoya mengernyit memandang pangeran itu.
"Apa itu seperti pujian untukku?" tanya Zoya dengan senyum lucunya. Namun pangeran Erlangga hanya mendengus gerah.
"Kau ini benar benar bodoh, tidak bisa membedakan ucapan dan pujian" jawab pangeran Erlangga. Zoya langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Apa orang orang kerajaan memang akan membawa ku keistana jika melihat kecantikan ku?" tanya Zoya.
"Ya, tapi tergantung siapa yang membawamu. Jika kecantikan mu sampai ditelinga para petinggi dan menteri kerajaan, kau akan menjadi simpanan mereka. Tapi jika kecantikan mu sampai ditelinga penasehat raja, mungkin kau bisa menjadi dayang isatana atau selir kaum bangsawan disana" jawab pangeran Erlangga.
Zoya langsung bergidik ngerih mendengar itu. Kenapa kecantikan menjadi hal yang menyeramkan dizaman ini. Padahal dizaman nya, kecantikan adalah suatu keberuntungan untuk setiap wanita.
"Menyeramkan sekali, tapi itu terasa tidak adil" gumam Zoya.
"Tidak adil bagaimana, itu memang sudah menjadi hukum alam sejak dulu. Jika yang boleh terlihat cantik hanyalah kaum bangsawan saja" ungkap pangeran Erlangga yang ternyata mendengar perkataan Zoya.
"Lalu apa aku harus bersembunyi didalam rumah saja untuk seumur hidup? Atau itu tidak berlaku bagi yang sudah menikah?" tanya Zoya lagi
"Yang sudah menikah juga akan dibawa, apalagi dengan kasta rendah. Kasta atas maupun orang kerajaan berhak membeli mereka sebagai budak" ucap pangeran Erlangga. Mata Zoya langsung terbelalak lebar mendengar itu.
"Dibeli, sebagai budak?" gumam Zoya tidak percaya. Dia masih mengikuti langkah kaki pangeran Erlangga menyusuri jalanan setapak dihutan itu.
"Yang benar saja. Kenapa begitu kejam" gumam Zoya lagi.
Pangeran Erlangga langsung mendengus senyum sinis mendengar itu.
"Kenapa kau terkejut. Ini memang sudah terjadi sejak dulu. Dan kau memang harus berhati hati dengan kecantikan mu itu Ana" ujar pangeran Erlangga dengan senyum penuh artinya.
__ADS_1
Zoya yang memandang itu langsung mengalihkan wajahnya dengan ngerih. Zaman ini benar benar gila.