
Setelah merasa tenang, pangeran Erlangga membawa Zoya kembali untuk pulang. Wajah Zoya masih pucat karena dia benar benar terkejut tadi. Orang orang itu benar benar mengerihkan. Zoya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia jika tidak ada pangeran Erlangga tadi.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah bibi Nor. Sesekali pangeran Erlangga memandang Zoya yang masih menoleh kesana dan kemari. Sepertinya dia memang masih ketakutan.
"Kau masih takut?' tanya pangeran Erlangga.
Zoya memandang pangeran Erlangga dan mengangguk pelan.
"Tidak apa apa. Setelah ini tetaplah dirumah. Mereka hanya ada didalam hutan saja" ungkap pangeran Erlangga.
"Kenapa mereka mau membawaku? Memang nya mereka siapa?" tanya Zoya.
"Mereka hanya perompak yang ditugaskan oleh orang orang kasta atas untuk menculik gadis gadis cantik yang mereka temui" jawab pangeran Erlangga.
"Kenapa kejam sekali. Apa itu ada hubungan nya dengan perkataan mu dengan orang orang kasta atas atau petinggi kerajaan yang ingin menjadikan gadis cantik sebagai simpanan ataupun budak???" tanya Zoya
Pangeran Erlangga terlihat menghela nafasnya dan mengangguk pelan.
"Sebenar nya itu yang sedang aku selidiki diluar sini" ucap pangeran Erlangga.
"Menyelidiki apa? Tentang penangkapan para gadis?" tanya Zoya memastikan, dan pangeran Erlangga langsung mengangguk lagi.
"Sudah tiga tahun terakhir, kerajaan Ranula dihebohkan dengan kehilangan gadis gadis disetiap desa. Terutama gadis seumuran kau dan yang terpenting mempunyai paras yang cantik." ungkap pangeran Erlangga.
Zoya terdiam mendengar itu, mereka berjalan dengan pelan seraya Zoya yang memandangi pangeran Erlangga sesekali.
"Tidak tahu dibawa kemana para gadis itu. Desas desus ada yang mengatakan mereka diculik sebagai budak nafsu, ada yang mengatakan sebagai simpanan para raja dan menteri, namun ada juga yang berkata jika mereka dijual kekerajaan lain. Tapi sampai sekarang, semua jenderal dan ketua prajurit belum bisa mengungkapkan kasus itu." tambah pangeran Erlangga lagi.
"Apa kerajaan ini terlalu luas hingga mereka tidak bisa mengungkapkan kasus ini?' tanya Zoya.
"Kasus ini dianggap tidak terlalu penting. Karena bagaimanapun hak seorang wanita itu memang rendah. Jadi kehilangan para gadis bukan lagi hal yang utama. Masalah peperangan dan penjagaan wilayah perbatasan lebih penting untuk orang orang kerajaan" jawab pangeran Erlangga.
Zoya terdiam kembali mendengar itu. Ya, bukan kah hak asasi manusia memang belum ada dizaman kerajaan. Tentu saja jual beli manusia masih menjadi hal yang biasa.
"Lalu kenapa kau malah ingin menyelidikinya? Kau baik sekali, padahal kau adalah seorang pangeran" puji Zoya.
Pangeran Erlangga mendungus senyum memandang Zoya.
"Aku tidak baik, aku sama seperti orang orang kerajaan yang lain yang penuh dengan kemunafikan. Aku hanya mencoba membantu bibi Nor menemukan anak gadisnya saja" jawab pangeran Erlangga.
__ADS_1
Dan kini mata Zoya langsung melebar mendengar itu.
"Jadi anak gadis bibi Nor juga diculik?" tanya Zoya tidak percaya.
"Ya, dulu bibi Nor tinggal dipusat desa Baloko. Dia hidup bersama suami dan dua anak nya. Anak gadisnya sangat cantik untuk ukuran orang didesa itu. Dan entah bagaimana bisa sampai ditelinga para perompak seperti yang ingin membawamu tadi. Hingga gadis itu diculik dan dibawa pergi. Bahkan karena tragedi itu, suami bibi Nor ikut tewas karena mencoba melawan" jawab pangeran Erlangga.
"Ya Tuhan" Zoya benar benar tidak menyangka jika bibi Nor mempunyai kisah yang begitu kelam. Pantas saja dia selalu melarang Zoya untuk pergi kemanapun. Ternyata karena bibi Nor takut jika dia juga ditangkap oleh orang orang itu.
"Lalu kenapa bibi Nor hanya tinggal sendiri. Dimana anak yang satunya?" tanya Zoya
"Anak lelakinya sudah menjadi prajurit dikerajaan" jawab pangeran Erlangga.
"Apa karena trauma dia pindah ketempat sepi ini?" tanya Zoya
"Ya, disini lebih tenang" jawab pangeran Erlangga lagi.
"Kau terlihat sangat dekat dengan bibi Nor pangeran" ucap Zoya seraya memandang pangeran Erlangga.
Pangeran Erlangga tersenyum dan mengangguk.
"Bibi Nor sudah aku anggap sebagai ibu kedua ku setelah ibunda." jawab pangeran Erlangga
"Tidak juga, sebagai seorang pangeran, aku tidak dibebaskan keluar masuk istana dengan mudah Ana" ucap pangeran Erlangga.
"Kenapa?" tanya Zoya begitu heran.
"Karena banyak musuh kerajaan yang tidak akan membiarkan aku hidup" jawab pangeran Erlangga
Zoya langsung bergidik ngerih mendengar nya.
"Apa karena itu kau terluka waktu itu?" tanya Zoya.
"Ya" jawab pangeran Erlangga.
Zoya menghela nafasnya dengan berat. Sepertinya kehidupan dizaman kerajaan memang tidak seindah yang tertera dibuku. Peperangan, musuh, perbedaaan kasta, dan semua hal yang ada disini memang cukup rumit dan menyeramkan dari pada kehidupan nya dizaman modern. Dan sialnya, entah kenapa Zoya bisa terdampar dizaman ini.
Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan setapak yang ada disana. Sesekali pangeran Erlangga mengibaskan semak yang menjulang menutupi jalan mereka. Namun tiba tiba Zoya sedikit berteriak, membuat pangeran Erlangga terkesiap kaget.
"Pangeran lihat itu" seru Zoya seraya menunjuk sebuah rumpun semak disebelah kanan pangeran Erlangga.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya pangeran Erlangga yang juga memandang kearah yang ditunjuk oleh Zoya.
"Ada bunga mawar" jawab Zoya.
"Bunga mawar hutan" gumam pangeran Erlangga.
"Aku mau mengambilnya untuk ku tanam dirumah bibi Nor. Dia pasti suka" ujar Zoya. Dia ingin berjalan menuju semak itu, namun tiba tiba pangeran Erlangga langsung menahan lengan Zoya.
"Biar aku saja, disana sangat semak. Kau bisa terluka" ucap pangeran Erlangga yang langsung berlalu meninggalkan Zoya.
Zoya langsung merona mendengar itu. Bahkan dia segera meraba wajahnya yang memanas.
"Aaaaahh manis sekali pangeran ku" gumam Zoya yang mulai terpesona dengan pangeran berwajah datar namun begitu perhatian itu.
Zoya memperhatikan pangeran Erlangga yang terlihat kepayahan menyibak semak dan tanaman yang menjulang tinggi, namun lama kelamaan dia berhasil mencabut tanaman mawar yang sudah berbunga itu. Mawar merah, dia tumbuh cantik ditengah hutan dan semak belukar seperti ini. Keren sekali.
"Waaahhh terimakasih" ucap Zoya seraya meraih bunga mawar itu dari tangan pangeran Erlangga
"Hanya tumbuhan tapi kau sudah begitu senang" ucap pangeran Erlangga seraya kembali berjalan menyusuri jalan.
"Kasihan dia tumbuh sendirian disana. Lebih baik ditanam dirumah supaya dia tumbuh subur" jawab Zoya.
"Ya, seharusnya kau juga bisa seperti dia" ujar pangeran Erlangga.
Zoya langsung mengernyit dan memandang pangeran Erlangga dengan bingung.
"Menjadi gadis cantik yang tangguh. Meski kau merasa sendiri ditempat yang menurutmu asing ini, tapi kau tetap harus bisa bertahan hidup dengan baik. Bisa melindungi dirimu sendiri tanpa takut. Seperti mawar itu" ungkap pangeran Erlangga.
Zoya memandang mawar ditangan nya dengan sendu. Kenapa pangeran Erlangga bisa berkata seperti itu??? Dia seolah tahu jika Zoya memang merasa takut dan kesepian berada dizaman ini. Zaman antah berantah yang dia tidak tahu dari mana asalnya.
"Terkadang hidup tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan Ana. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik mulai sekarang. Menjadi gadis tangguh dan kuat" ujar pangeran Erlangga seraya memandang Zoya dengan lekat.
"Apa aku bisa?" tanya Zoya
Pangeran Erlangga tersenyum dan mengangguk
"Dipertemuan kita selanjutnya, aku berjanji akan mengajarimu sedikit ilmu bela diri. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri nanti" janji pangeran Erlangga
"Benarkah pangeran?" tanya Zoya tidak percaya.
__ADS_1
Dan pangeran Erlangga langsung mengangguk dengan senyum tipis yang tersemat diwajah tampan nya.