
Malam hari dikerajaan Ranula suasana sudah sepi. Dan tugas Zoya untuk menemani putri Cendana juga sudah selesai karena putri Cendana sudah tidur.
Zoya berjalan kekamar nya sendirian seraya menguap beberapa kali. Gendis sudah lebih dulu pergi kekamar, karena tugas nya sudah lebih dulu selesai. Sedangkan Zoya harus selalu memijat tubuh putri Cendana sebelum tidur. Yah, gara gara Gendis yang menyebut Zoya memiliki keterampilan memijat, jadi setiap malam dia harus lembur untuk memijat tubuh sang putri. Menyebalkan memang.
Zoya kembali menutup mulutnya yang menguap. Jalan menuju gedung para dayang sudah sepi, hanya ada beberapa dayang yang lewat dan prajurit yang berjaga. Zoya sudah mulai terbiasa dan tidak takut lagi. Jika kemarin dia masih takut takut karena jika sudah malam seperti ini istana nampak begitu sepi dan gelap. Apalagi penerangan disana hanya memakai obor, berbeda dengan digedung para bangsawan yang memakai lampu neon atau apalah itu namanya, Zoya juga tidak mengerti.
"Aahhhh mengantuk sekali" gumam Zoya seraya mengusap matanya yang sudah terasa begitu berat. Bahkan dia jalan saja sudah mulai terhuyung.
Zoya hampir saja terjatuh saat dia menuruni ubin yang menjadi pembatas antara lantai gedung bangsawan dan jalan keluar. Dan beruntung nya dia ada seseorang yang dengan sigap menangkap lengan nya.
Mata Zoya langsung melebar saat melihat orang itu.
"Pangeran Adipati" gumam Zoya.
Dia buru buru langsung mundur dan membungkukkan tubuhnya dihadapan pangeran berwajah sangar itu.
"Hormat saya pangeran" ucap Zoya.
"Kau baru kembali Ana" tanya pangeran itu.
Zoya mengernyit, bagaimana pangeran Adipati tahu namanya?
"Ya, putri Cendana baru saja tertidur" jawab Zoya.
Pangeran Adipati tersenyum dan mengangguk.
"Jika begitu saya pamit untuk pergi kekamar pangeran. Terimakasih atas bantuan nya" kata Zoya seraya membungkukkan sedikit kepalanya.
"Ya, berhati hatilah." jawab pangeran Adipati.
Zoya mengangguk dan segera membalikkan tubuhnya, namun lagi lagi dia berhenti karena pangeran Adipati yang memanggilnya kembali.
"Ana"
Zoya kembali menoleh kebelakang
"Jika ada kesempatan, aku akan menemui mu lagi besok" kata pangeran Adipati.
Zoya langsung mengernyit mendengar itu.
Tapi belum sempat lagi dia bertanya, pangeran Adipati sudah pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
"Menemui gue, untuk apa?" gumam Zoya dengan bingung. Namun dia tidak lagi memikirkan itu. Dia sudah mengantuk dan dia ingin sekali beristirahat. Namun sesekali Zoya melirik kearah gedung bangsawan dimana kamar yang selalu tertutup rapat itu tidak pernah terbuka. Kamar pangeran Erlangga.
Zoya menghela nafasnya sejenak dan kembali berjalan menuju gedung para dayang. Hari ini cukup lelah, tapi pagi tadi dia cukup terhibur karena bisa melihat pangeran Erlangga yang berlatih. Semoga saja dia bisa bertemu dengan pangeran Erlangga dan bercerita seperti dulu. Zoya sudah benar benar merindukan lelaki itu.
"Ana.. kau baru kembali"
lagi lagi, sapaan seseorang membuat Zoya terkesiap. Dia langsung menoleh kearah orang tersebut.
"Ah kak Juna. Ya putri Cendana baru saja tidur" jawab Zoya yang ternyata Juna dan kakak Gendis yang berjaga jaga malam ini.
"Tapi Gendis sudah kembali sejak tadi, kenapa kau lama sekali?" tanya Yuda pula.
"Ya, tugas kami kan berbeda" jawab Zoya.
"Yasudah, pergilah kau beristirahat. Sepertinya kau sudah begitu lelah" ujar Juna.
Zoya tersenyum dan mengangguk.
"Kalian mau kemana?" tanya Zoya.
"Malam ini tugas kami untuk berkeliling, mungkin kami akan berkumpul dilaman depan nanti" jawab Juna
"Ana sudah lelah, kau ini suka sekali mencari masalah" gerutu Juna. Zoya langsung tertawa melihat itu, apalagi wajah Yuda yang terlihat kesal saat dia berusaha untuk mendekati Zoya.
"Pergilah Ana, berlama lama didekat Yuda aku takut otak mu tidak bisa bekerja lagi besok" ujar Juna.
"Sialan sekali kau, Kau kira aku ini apa ha" protes Yuda.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu kak. Berhati hatilah" ucap Zoya
"Ya, tentu" jawab Juna
"Hei Ana, kau tidak ingin berkata seperti itu juga padaku" seru Yuda
Namun Juna langsung menarik lengan nya untuk pergi dari Zoya.
"Berisik sekali mulut mu itu cungkring. Sudah lah ayo kita pergi" ucap Juna terlihat kesal.
Zoya hanya tersenyum dan menggeleng saja melihat mereka berdua. Selama disini Juna benar benar baik pada Zoya. Dia sudah seperti kakak sendiri bagi Zoya yang selalu perhatian dan juga melihat Zoya disaat saat tertentu. Zoya benar benar senang dengan anak bibi Nor itu. Benar benar baik dan mengasihi. Ah, Zoya jadi rindu dengan kakak nya.
Zoya menghela nafasnya sejenak dan kembali berjalan menuju kamar nya yang berada diujung gedung. Masih cukup jauh, semoga saja tidak ada lagi yang menganggu jalan nya. Dia benar benar sudah mengantuk dan lelah.
__ADS_1
Tapi lagi lagi, Zoya dibuat terkejut saat tiba tiba mulutnya dibekap seseorang dan dia diseret kearah belakang gedung dengan cepat.
Zoya memberontak kuat, namun cengkraman tangan orang ini cukup kuat ditubuh dan mulutnya. Apa perompak juga ada didalam istana???
Zoya sudah benar benar takut, dia ingin meminta tolong tapi tidak bisa. Bahkan dia ingin mencoba menggigit tangan orang ini juga tidak bisa karena sepertinya orang ini tahu jika Zoya berusaha untuk menggigit tangan nya.
Zoya dibawa kebelakang gedung yang benar benar cukup sepi, tepatnya hampir ke gedung prajurit.
Apa ini ulah para prajurit???
Tapi kenapa mereka berani sekali menculiknya???
Air mata Zoya sudah meleleh karena dia benar benar takut dan juga kesulitan bernafas. Hingga saat tiba ditempat yang begitu sunyi dan gelap. Orang itu langsung melepaskan Zoya.
"Jangan berisik, ini aku" bisik nya seraya perlahan melepaskan tangan nya dari mulut Zoya.
Mata Zoya langsung melebar mendengar suara ini. Dan dengan cepat pula dia langsung berbalik dan memandang orang itu.
"Pangeran Erlangga" seru Zoya tidak percaya.
Pangern Erlangga mengangguk dan tersenyum tipis. Namun tiba tiba dia terkesiap saat Zoya yang langsung melompat kedalam pelukan nya.
"Kenapa kau baru menemui ku sekarang. Kau jahat sekali" ucap Zoya yang entah sadar atau tidak melakukan ini.
Tubuh pangeran Erlangga langsung menegang dan kaku mendapat perlakuan seperti ini dari Zoya. Dia benar benar tidak menyangka jika reaksi Zoya akan seperti ini saat dia menemui nya. Apa Zoya juga merindukan nya???
Dan tanpa Zoya lihat pangeran Erlangga tersenyum merasakan kehangatan ini. Tangan nya ingin membalas pelukan itu. Namun Zoya sudah terlebih dulu melepaskan nya hingga membuat tangan pangeran Erlangga kembali terhempas.
"Ma...maaf pangeran. Aku kelepasan" ucap Zoya dengan senyum getirnya. Sialan sekali memang, kenapa dia malah jadi keterusan begitu. Apa dia begitu senang melihat pangeran Erlangga yang mendatangi nya seperti ini.
"Kenapa pangeran menculikku lagi?" tanya Zoya
"Jika tidak begini bagaimana aku bisa menemuimu" jawab pangeran Erlangga.
"Tapi tadi pangeran Adiputra dengan mudah nya bilang jika dia akan menemuiku" ucap Zoya dengan begitu polosnya.
Pangeran Erlangga langsung terdiam mendengar itu.
"Adipati ingin menemuimu?" tanya pangeran Erlangga
"Ya" jawab Zoya tanpa beban.
__ADS_1