
Zoya menoleh kesana dan kemari saat berjalan bersama pangeran Erlangga kesebuah lorong yang cukup gelap. Hanya ada beberapa obor yang menerangi jalan mereka malam itu. Tidak tahu akan dibawa kemana oleh pangeran Erlangga, jalan ini menuju penjara yang lebih kedalam lagi. Bahkan terlihat begitu menyeramkam, hingga Zoya merasa seluruh tubuhnya meremang tidak beraturan.
Langkah kaki pangeran Erlangga berjalan dengan tenang, hanya saja Zoya yang ketakutan berjalan dibelakang nya. Sejak tadi pangeran Erlangga melarang nya untuk tidak berbicara sepatah katapun. Jadi Zoya hanya menurut dan cuma bisa diam.
Semakin berjalan kedalam, semakin dia merasa tempat dan lorong ini begitu menyeramkan. Ada suara tetes air yang tidak tahu ada dimana. Suara suara dengkuran orang yang sedang tertidur dan juga suara suara aneh lain nya.
Sebenarnya kemana pangeran Erlangga akan membawanya?
Pangeran Erlangga tidak akan membunuh Zoya disini kan?
Siang tadi dengan gilanya dia mengurung Zoya disini. Dan sekarang malah melepaskan nya namun membawa nya pergi ketempat seperti ini.
Bruk
Zoya langsung meringis kesakitan saat tubuh nya langsung menabrak pundak kekar pangeran Erlangga yang tiba tiba berhenti.
"Auh" ringis Zoya seraya mengusap kepala nya yang sakit. Tidak sakit sebenarnya hanya saja dia yang memang ingin merintih karena terkejut.
Pangeran Erlangga langsung berbalik dan memandang Zoya dengan bingung.
"Kenapa malah melamun?" tanya nya dengan suara yang terdengar pelan dan berbisik. Membuat Zoya langsung memandang pangeran Erlangga dengan kesal.
"Kita mau kemana pangeran? Aku takut, kau tak berniat untuk membunuhku kan?" tanya Zoya dengan pandangan mata yang penuh curiga.
Pangeran Erlangga mendengus, dan dia langsung memandang kearah atas. Membuat Zoya juga ikut mendongak. Mata Zoya langsung melebar saat melihat ternyata diatas sana ada sebuah tangga tinggi untuk naik ke puncak.
"Ayo naik" ajak pangeran Erlangga
"Kita mau kemana?" tanya Zoya lagi
"Jika kau banyak bertanya maka kau akan benar benar mati Ana" jawab pangeran Erlangga.
Zoya langsung berdecak kesal mendengar itu. Dia langsung memandang tangga yang terbuat dari kayu ini.
Apa tangga ini kuat. Batin nya ngerih.
Zoya menaikkan sedikit rok nya yang sungguh membuat dia kesulitan, dan langsung menginjakkan kakinya dianak tangga pertama. Dia benar benar cukup ragu.
"Pangeran... bagaimana jika aku jatuh" ucap Zoya terlihat benar benar ragu.
"Aku akan menjagamu dari bawah" jawab pangeran Erlangga.
Zoya menghela nafasnya sejenak dan langsung mencoba untuk naik. Untuk seumur hidup nya baru kali ini dia mencoba untuk menaiki tangga kayu seperti ini. Jika kalian pernah melihat tangga kayu untuk memanjat pohon , maka seperti inilah gambaran nya.
Benar benar mengerihkan, bukan hanya tangga nya yang kecil, tapi tangga ini menjulang cukup tinggi keatas.
Sekali lagi Zoya menarik nafasnya dan memanjat tangga itu perlahan lahan.
"Jangan lihat kebawah jika kau takut" ujar pangeran Erlangga.
Zoya hanya diam dan terus berpegangan dengan erat seraya kakinya yang terus memijak satu persatu anak tangga itu dengan baik. Dan setelah Zoya bisa menaiki beberapa anak tangga, pangeran Erlangga langsung menyusul nya dari bawah. Membuat tangga itu sedikit bergoyang.
"Ah pangeran, apa tangga ini kuat?" tanya Zoya mulai takut.
__ADS_1
"Kuat, teruslah naik" ujar pangeran Erlangga lagi.
Dan akhirnya mereka menaiki anak tangga itu perlahan lahan. Namun entah apa yang terjadi, saat tidak jauh lagi tiba diatas, kaki Zoya malah tersangkut rok nya yang panjang hingga membuat dia tergelincir dengan pegangan tangan yang juga ikut terlepas dari tangga itu.
"Aaarrghh" teriak Zoya yang langsung memejamkan matanya. Namun dengan sigap pula pangeran Erlangga naik dan menangkap tubuh Zoya dalam rangkulan nya. Membuat Zoya langsung memeluk tubuh pangeran Erlangga dengan kuat.
Jantung Zoya bergemuruh dengan hebat, bahkan terasa hampir terlepas dari tempatnya. Nafasnya bergemuruh, namun saat dia membuka mata, nafasnya langsung terasa terhenti saat matanya malah bertatapan dengan mata tajam pangeran Erlangga.
Deg
deg
Deg
Zoya mematung, begitu pula dengan pangeran Erlangga. Mereka saling pandang dengan lekat hingga ada sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan langsung memenuhi hati mereka, membuat detak jantung mereka semakin tidak lagi beraturan.
Tatapan lekat yang saling memandang penuh kekaguman, penuh cinta yang tidak mereka sadari. Namun mereka tahu, ini adalah pandangan kekaguman satu sama lain.
"Apa kau akan terus seperti ini?" pertanyaan pangeran Erlangga membuat Zoya terkesiap. Dia langsung memandang keadaan tubuh nya yang masih menggantung pada pangeran Erlangga. Dan itu membuat Zoya langsung tersenyum canggung dan segera meraih anak tangga kembali seraya kaki nya yang memijak kembali ditangga kayu itu.
Zoya sedikit meringis, karena sepertinya kaki nya lecet karena tergelincir dan terpeleset tadi. Mungkin saja menghantam kayu itu dibagian tumitnya.
"Apa kakimu terluka?" tanya pangeran Erlangga.
"Sepertinya hanya memar saja pangeran. Terimakasih" jawab Zoya sedikit canggung. Dia langsung mengabaikan rasa sakitnya dan kembali memanjat keatas karena memang tidak jauh lagi saat mereka ada disana.
"Dorong dengan kuat pintu kayu itu" ujar pangeran Erlangga dari bawah.
Zoya mengangguk dan menjulurkan tangan nya keatas, yang memang mereka seperti menemui jalan buntu. Tapi ternyata itu adalah sebuah pintu kayu.
"Wow.. terbuka" gumam Zoya.
"Naik lah dengan cepat" ujar pangeran Erlangga lagi.
Dan Zoya langsung naik keatas dengan perlahan lahan. Lagi lagi dia harus kesusahan karena rok nya yang sangat merepotkan ini. Dan setelah bersusah payah akhirnya Zoya bisa langsung naik keatas dan berdiri dengan sedikit tertatih.
Namun saat sampai disana, Zoya langsung melebarkan matanya saat melihat dimana dia kini berada.
"Waaauuu tinggi sekali. Kita dimana ini?" tanya Zoya ketika dari atas sana dia bisa melihat keseluruhan gedung istana kerajaan. Meski dimalam hari semua nampak gelap, tapi rasanya sungguh berbeda berada ditempat terbuka seperti ini.
Lebih damai dan menenangkan setelah setengah harian dia yang dikurung didalam penjara.
"Kita berada di gedung penjara. Tempat ini tidak pernah terjamah oleh siapapun" jawab pangeran Erlangga yang juga baru berhasil naik.
Zoya mengangguk dan memperhatikan sekelilingnya. Dimana memang disana sudah cukup semak dan ditumbuhi oleh rumput rumput liar. Tapi ditengah tengah ini bersih, jadi enak untuk tempat bersantai dan menenangkan diri.
"Kenapa pangeran mengajak ku tempat ini?" tanya Zoya
"Tidak ada. Aku tahu kau pasti bosan terkurung didalam penjara itu kan" jawab pangeran Erlangga
Zoya langsung mendengus kesal, saat dia baru menyadari jika pangeran Erlangga lah pelakunya.
"Sudah tahu begitu kenapa pangeran malah memenjarakan aku ha?" tanya Zoya dengan kesal.
__ADS_1
"Itu karena kau yang telah berani melanggar aturan kerajaan" jawab pangeran Erlangga
"Aturan dari mana. Pangeran Adipati yang meminta ku datang" sahut Zoya.
"Kenapa kau mau, kau tahu jika itu dilarang bukan" kata pangeran Erlangga.
"Itu karena aku berfikir jika kau yang memanggilku. Makanya aku datang" jawab Zoya dengan cepat, namun sedetik kemudian dia langsung terkesiap kaget dan meringis seraya memalingkan wajahnya.
Dasar bodoh...
Kenapa jujur sekali...
"Apa perduli ku. Kau salah dan kau memang harus dihukum" ucap pangeran Erlangga.
Zoya langsung memandang pangeran Erlangga dengan kesal. Matanya berkaca kaca sekarang.
"Kau jahat sekali. Kau tidak tahu aku takut disana sendirian" gerutu Zoya yang langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat. Seraya dia yang mengusap air matanya dengan kasar.
Kenapa jadi cengeng seperti ini..
Dan tanpa Zoya sadari pangeran Erlangga malah tersenyum memandang Zoya yang seperti itu.
"Apa kau akan mengulangi kesalahanmu itu?" tanya pangeran Erlangga.
Namun Zoya hanya diam dan menahan tangis nya. Dia kesal dan benar benar kesal.
Pangeran Erlangga mengernyit dan langsung memandang keatas. Dimana rintik gerimis sudah mulai turun.
"Lihatlah, bahkan bukan hanya kau saja yang cengeng, tapi langit pun seolah mendukung mu" ucap pangran Erlangga yang berjalan mendekat kearah Zoya. Berdiri disamping Zoya namun dengan pandangan mata yang memandang jauh kedepan.
"Aku sengaja memanjarakan mu agar aku bisa membawa mu pergi besok" ucap pangeran Erlangga. Membuat Zoya langsung memandang nya dengan lekat dengan wajah nya yang masih basah dengan air mata.
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini. Aku tahu kau pasti takut didalam sana sendirian. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya membawamu dalam waktu yang lama. Tapi melihat ada kesempatan tadi, itu bisa ku jadikan alasan untuk putri Cendana dan orang orang yang mencarimu ketika kau tidak ada" ungkap pangeran Erlangga lagi.
Zoya langsung terperangah mendengar itu.
"Jadi kau tidak benar benar jahat untuk mengurung ku?" tanya Zoya
Pangeran Erlangga tersenyum tipis dan langsung menoleh kearah Zoya.
"Aku tidak sekejam itu Ana. Ini adalah cara yang aman untuk membawamu sesuai dengan janjiku" jawab pangeran Erlangga.
Zoya langsung tersenyum dan mengusap wajahnya, namun mata itu masih saja berair. Bukan lagi karena menahan kesal. Tapi karena bahagia.
Pangeran Erlangga memang selalu punya cara untuk bersama nya.
"Berhentilah menangis" ujar pangeran Erlangga
"Aku menangis terharu" jawab Zoya
"Tapi aku tidak suka melihat kau menangis" sahut pangeran Erlangga seraya mengusap wajah Zoya
Deg
__ADS_1
Lagi lagi detak jantung Zoya kembali berdebar dengan kencang dengan perlakuan pangeran Erlangga saat ini.